Minggu, 20 April 2014
Pasar Sayur Sumbar, Urusan Pertanian Atau Perdagangan PDF Cetak Surel
Senin, 11 April 2011 02:11

Agaknya Wakil Gubernur Muslim Kasim dibisiki bahwa nasib sayur Sumatera Barat di pasar Batam dan Singapura tidak sebaik yang dari Thailand atau dari Brastagi. Oleh karena itu barangkali Wakil Gubernur Sumbar itu sengaja meluangkan waktunya untuk mengintip dari dekat bagaimana respon pasar Batam terhadap sayur mayur dari Sumatera Barat.

Seperti yang dia ungkapkan kepada wartawan koran ini, Wagub akhirnya menemukan jawaban pasti bahwa memang benar sayur asal Sumbar di Batam kalah saing dengan sayur impor. Mulai dari segi harga yang lebih mahal, kemasannya tidak rapi sehingga gampang rusak serta keluhan lainnya.

Wagub langsung melihat ke pasar-pasar di Batam, seperti apa permintaan sayur-sayuran asal Sumbar itu. Dan ternyata memang benar. Dan sebelumnya dalam kun­jungan ke Singapura diketahuinya pula bahwa banyak konsumsi sayur mayur warga Singapura justru dipasok dari Batam.

Menarik mencermati fakta-fakta itu. Selama ini Sumatera Barat sering mengekspose bahwa sayur mayurnya dikirim sampai ke Batam dan Singapura. Bahkan untuk mengatasi ketidakawetannya sudah dibangun cool storage. Tapi kenapa masih dikeluhkan juga bahwa sayur Sumbar rusak dan mahal?

Sekilas pintas seolah harus kita alamatkan soal mempergalaskan sayur ke Singapura atau Batam itu kepada Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura bersama semua dinas serupa di berbagai Kabupaten/Kota Sumatera Barat.

Pada mulanya semua Kepala Dinas Pertanian memang merasa terpukul juga. Sebab bukan kali ini saja keluhan soal respon pasar terhadap sayur asal Sumbar. Sudah lama. Tetapi kemudian perlu diinap-menungkan lagi, bukankah perdagangan itu sayur itu mencakup juga tata niaga, transportasi dan (bahkan) industri. Karena itu Dinas Perdagangan dan Perindustrian tidak bisa dilepaskan dari persoalan ini. Apa yang sudah dilakukan Dinas Per­dagangan untuk membuat produk pertanian Sumatera Barat bisa bersaing di luar?

Lalu disebut-sebut pula bahwa perlu Dinas Pertanian ‘melatih’ para petani mengemas produk mereka dengan packaging agar produk seperti lobak Alahan Panjang dan lobak Aie Angek bisa marketable. Menurut kita itu terlalu berlebihan. Kalaupun itu dilakukan juga adalah sebuah kesia-siaan belaka. Tidak ada untungnya bagi petani. Karena toh yang akan mempergalaskan sayur mayur itu bukan mereka. Mana ada petani Sumbar yang menguasai dari hulu sampai ke hilir? Dia yang menyemai bibit, lalu mengolah lahan, menanam, memanen, lalu mengepak dan langsung mengekspornya atau setidaknya mengirim sayur itu ke Batam?

Yang memiliki margin paling besar dalam hal ini adalah para toke, para pedagang hortikultura. Bahkan sampai sekarang, petani hanya jadi obyek belaka yang tidak memiliki posisi tawar yang setara dengan para toke. Harga lebih banyak ditentukan atas ‘kabar’ dari para toke.

Karena itu, Dinas Perdagangan dan Perindustrian lah yang paling kompeten untuk kita mintai tanggung jawabnya memperbaiki posisi sayur mayur Sumbar di pasar. Sementara Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan menangani hal-hal yang berkaitan dengan kualitas produksi. Ranah yang berkaitan dengan ini adalah seputar budidaya, antara lain aspek-aspek higienis, kebersihan, kesegaran dan sebagainya. Pola organik adalah pen­dekatan pertanian yang memang perlu diterapkan lantaran pasar seperti Singapura sangat sensitif dengan isu pestisida.

Jadi ihwal apa yang disebut oleh Muslim Kasim bahwa perlu perbaikan packaging adalah ranah yang hendaknya jadi perhatian Dinas Perdagangan dan Perindustrian. Bahkan kalau perlu Dinas Perhubungan sekalian, karena salah satu keluhan di Batam adalah harga produk sayur Sumbar jauh lebih tinggi dibanding yang impor maupun yang dari Brastagi. Tingginya harga ini ada kaitan dengan transportasi. Jarak Medan ke Batam tentu saja lebih pendek dibanding jarak Bukittinggi ke Batam. Karena itu wajar saja kalau sayur Sumbar jadi berat di ongkos. Nah ini perkara yang hendaknya dibahas lebih detail oleh dinas terkait pula. Perlu kebersamaan sambil menjauhkan egosektoral dalam urusan sayur ke Batam dan Singapura ini. Urusan sayur di pasar janganlah dibebankan lagi kepada petani, tapi kita bantu para petani.***

Comments (1)Add Comment
0
mau titip jualan jamur
written by string, Mei 03, 2011
selesai membaca ini saya jadi punya keinginan untuk ikut menjual jamur ke batam,
tetapi bagaimana caranya???

Write comment

busy