Selasa, 02 September 2014
Strategi dan Kebijakan Pengembangan Pertanian Organik PDF Cetak Surel
Rabu, 13 April 2011 02:09

Salah satu kebijakan dalam pembangunan pertanian yang pernah diluncurkan Pemerintah adalah pengembangan pertanian organik melalui komitmen “Go Organik 2010”. Dalam komitmen ini dicanangkan bahwa pada tahun 2010 Indonesia akan menjadi produsen produk pertanian organik terbesar di dunia.

Tetapi kenyataannya, seka­rang sudah tahun 2011, perta­nian organik belum berkem­bang dan masih sangat sedikit pro­duk yang dihasilkan. Artinya, be­lum banyak petani yang me­nerapkan usaha pertanian secara organik.

Pertanian organik hanya sering menjadi topik pembi­ca­raan, tetapi sangat jarang dila­kukan kegiatan-kegiatan yang mendukung komitmen peme­rintah tersebut. Para petani ma­sih sangat terikat dengan asupan sa­rana produksi yang berbau ki­mia an-organik, baik berupa pupuk, zat perangsang maupun pestisida. Bila pupuk hilang atau susah diperoleh petani langsung menjerit.

Produk organik yang bere­dar di pasaran sangat terbatas, begitu juga laju permintaan konsumen tidak ada perkem­bangan. Di lain pihak, perkem­bangan produk anorganik juga tidak signifikan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan beras nasional saja belum mampu. Impor beras masih terus dilaku­kan, sehingga petani tidak bisa menikmati harga yang sesuai dengan keinginannya. Kebijakan pemerintah ini sering merugikan petani.

Kalau boleh dikomentari, tampaknya komitmen peme­rintah tersebut hanyalah meru­pakan suatu “jargon” atau pernyataan kelatahan saja. Dan per­nyataan tersebut tidak bisa dikatakan sebagai sebuah ko­mitmen, karena tampaknya tidak ada kebijakan yang mendasar untuk mendukungnya secara konsisten dan ber­kesi­nam­bungan.

Ada beberapa hal yang menonjol yang bertentangan atau tidak mendukung komitmen “Go Organik” tersebut. Per­tama, pemerintah masih mele­galkan bahkan masih sangat tergantung dengan sarana pro­duksi yang berbau kimia anor­ganik yang merupakan salah satu pantangan dari pertanian orga­nik. Program pembangunan yang dilakukan masih meni­tikberatkan pada peningkatan produksi yang mau atau tidak harus didukung sepenuhnya oleh asupan bahan kimia anor­ganik.

Dalam hal ini pemerintah belum siap atau belum mampu menjamin bahwa usaha per­tanian organik tanpa asupan kimia anorganik bisa mening­katkan produktivitas dan keun­tungan usaha tani. Kedua, promosi mengenai peran pro­duk pertanian organik terhadap ke­sehatan sangat kurang, di ma­na pengetahuan konsumen me­nge­nai pentingnya meng­konsumsi produk pertanian organik masih sangat terbatas. Seyogyanya pemerintah harus melakukan promosi dan penje­lasan secara intensif. Dengan promosi dan penjelasan ini, konsumen akan lebih mema­hami, terutama kaitannya de­ngan kesehatan dan kelestarian lingkungan.

Ketiga, penghargaan terhadap produk yang dihasilkan tidak ada, sehingga produsen merasa rugi kalau mengusahakan perta­nian organik. Di pasaran, kebanyakan produk pertanian organik dihargai sama dengan harga produk pertanian kon­vensional, kecuali pada pasar-pasar tertentu seperti swalayan atau super market.

Dalam hal ini, sebenarnya sangat dibutuhkan kompensasi harga (subsidi) terhadap produk organik oleh pemerintah. Kalau produknya dijual lebih mahal tentu akan membatasi daya dan kemauan beli konsumen, kare­na umumnya konsumen belum merasa terikat atau merasa lebih baik bila mengkonsumsi pro­duk pertanian organik.

Dengan adanya subsidi harga, maka secara perlahan konsumen akan menjatuhkan pilihan kepada produk pertanian orga­nik.

Kebijakan subsidi harga diperlukan untuk kompensasi penurunan hasil, karena pada awal peralihan usahatani kon­vensioanl ke usaha tani organik biasanya akan terjadi penurunan produktivitas. Sebenarnya biaya produksi usaha tani organik lebih rendah dibanding usaha tani konvensional. Tetapi karena terjadinya penurunan hasil tadi dibutuhkan dana perangsang bagi petani agar pendapatannya tidak berkurang.

Komitmen Pemerintah Propinsi Sumatera Barat

Pemerintah Sumatera Barat cukup serius dalam mengem­bang­kan pertanian organik. Ke­seriusan tidak hanya dalam wacana dan rencana saja tetapi langsung diwujudkan dalam bentuk kebijakan dan program kegiatan serta pelaksanaan lapang yang diikuti dengan evaluasi secara bertahap.

Sebagian kegiatan ini dise­rah­kan kepada pihak ketiga yang dipandang lebih menguasai substansi kegiatan keorganikan. Sangat banyak kebijakan dan kegiatan yang telah ditetapkan guna mendukung berkembang­nya usaha pertanian organik, di antaranya adalah penyediaan insentif harga, dan penyediaan dana kompensasi tidak mem­bakar jerami dalam pengem­bangan PTS (padi tanam saba­tang). Keseriusan ini juga diikuti denga mendukung upaya pe­ngem­bangan usaha tani organik melalui lembaga yang dibentuk oleh petani pencinta pertanian organik yang tergabung dalam PPO (Persatuan Pertanian Organik) dan pendirian outlet organik.

Sementara kegiatan lain yang telah dan masih dilakukan adalah pengembangan dan pemasyarakatan teknologi, dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti Diklat (Pen­didikan dan Pelatihan) Perta­nian Organik, TOT Pertanian Organik, Demplot Padi Or­ganik, Gerakan Penggunaan Kompos Jerami, Penerapan Padi Tanam Sabatang (PTS), SLAPO Sayu­ran Organik, SLPHT Padi Organik, Pem­binaan Pos IPAH, Pengkajian Pertanian Organik, Pendirian Pusat Studi Pertanian Organik, Pengadaan dan Penye­baran Bibit Pestisida Nabati, Per­temuan Koordinasi dan So­sialisasi PTS, Penumbuhan Penangkar Bibit Organik, Pem­buatan Grading dan Packing House, Pengembangan Ka­wasan komoditas unggulan Organik, dan banyak lagi kegiatan lainnya yang tersebar di seluruh Dinas terkait di Kabupaten/Kota.

Tetapi kenyataan menun­ju­kan, bahwa sampai sekarang ge­rakan atau perkembangan usahatani organik di tingkat petani sangat lambat.

Belum banyak outlet organik yang berkembang, begitu juga produk-produknya sulit diperoleh di pasar-pasar atau super market. Kalau boleh dikatakan baru beberapa kelompok tani yang konsisten menerapkan usaha ini secara berkelanjutan. Bisa disebutkan, baru beberapa kelompok tani yang sudah konsisten dan komit dengan usaha tani organic, yaitu di Kota Padang Panjang. Di sini usaha tani organik betul-betul dikawal dengan baik dan berkelanjutan oleh pemerintahnya.

Selain kegiatan-kegiatan di atas, kegiatan pendukung yang pernah dilakukan antara lain membantu pembangunan outlet organik beserta fasilitasnya, pengadaan sapi serta tidak menerima dan mendistribusikan pupuk (pupuk anorganik) ber­subsidi untuk para petaninya.

Komitmen ini tampaknya masih berjalan dan ternyata produk pertanian organik di daerah ini cukup berkembang. Selain di Kota Padang Panjang, kelompok tani yang konsisten dengan usaha tani organik antara lain Kelompok Tani Lurah Sepakat di Simarasok, Kecamatan Baso, sebagian kelompok tani di Tanah Datar, Solok dan Solok Selatan.

Inisiasi, Pembinaan dan Pengembangan Kelembagaan

Untuk mendukung gerakan pengembangan pertanian orga­nik, Pemerintah Sumatera Barat juga menginisiasi pembentukan serta membina kelembagaan pendukung, baik lembaga resmi pemerintah maupun lembaga independen.

Kelembagaan resmi atau institusi pemerintah yang telah dibentuk antara lain “Satgas Organik” dan “LSO”. Satgas atau satuan tugas organik ini berkedudukan di Padang (ibu kota Provinsi) berada di bawah naungan Dinas Pertanian Tana­man Pangan Propinsi Sumatera Barat. Institusi ini bertugas menangani segala bentuk pela­tihan, pembinaan, pengem­ba­ngan serta evaluasi dan ser­tifikasi pertanian organik.

Sementara LSO (Lembaga Sertifikasi Organik) terintegrasi dengan Satgas Organik, bertugas mengevaluasi, mensosialisasikan serta mensertifikasi lahan dan usaha pertanian organik. Lem­baga ini bekerja sama dengan lembaga resmi pemerintah dari pusat di bawah salah satu Eselon I Departemen Pertanian.

Di samping lembaga resmi tersebut, pemerintah Sumatera Barat juga telah membangun Lembaga non pemerintah (bu­kan lembaga resmi pemerintah) antara lain adalah IPO. Institut Pertanian Organik (IPO), bisa dikatakan sebagai sebuah lem­baga pioneer yang sangat ber­peran dalam pengembangan per­tanian organik di Sumatera Barat.

Lembaga ini didirikan oleh salah satu penggagas dan peng­gerak serta sekaligus sebagai pelaksana pertanian organik di Sumatera Barat. Saat ini lem­baga tersebut dijadikan sebagai pusat magang para petugas dan petani serta TOT para penggiat organik di Sumatera Barat. Bisa  juga dikatakan bahwa semua penggiat organik di Sumatera Barat saat ini mayoritas meru­pakan lulusan IPO atau sudah pernah magang ataupun paling tidak pernah berkunjung serta belajar di IPO. Lembaga ini terletak di pinggang gunung Merapi dalam wilayah Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar.

Pemerintah Sumatera Barat juga gencar dalam mem­pro­mosikan dan menyuarakan pertanian organik melalui berbagai kegiatan seperti pem­buatan leaflet, brosur, banner, serta mengadakan pameran produk pertanian organik.

Belum diketahui secara pasti, mengapa usahatani yang ramah lingkungan serta murah ini sangat lambat berkem­bangnya.

Strategi dan usaha yang telah dilakukan oleh Peme­rintah, khususnya Pemerintah Suma­tera Barat, belum mem­per­lihatkan hasil yang signi­fikan. Sangat disayangkan mengapa program yang telah menelan dana yang cukup besar tersebut tidak kunjung berkembang.

Bahkan yang menyedihkan saat ini, dibeberapa tempat yang tadinya telah memulai dan mengembangkan usaha perta­nian secara organik, beranjak kembali ke usaha pertanian konvensional. Bahkan para petani yang berada dilingkungan sekitar IPO sendiri masih sangat akrab dengan pupuk an-organik dan pestisida kimia buatan. Melihat kenyataan ini, nam­paknya pemerintah perlu meng­kaji ulang dan mempelajari faktor-faktor penyebab lam­batnya perkembangan usaha tani organik.

Kajian yang sama juga bisa diarahkan untuk mencari pe­luang serta solusi untuk me­netapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan kedepan, agar pertanian organik benar-benar menjadi pilihan bagi petani dan produk pertanian organik menjadi kebutuhan bagi para konsumen.

 

MOEHAR DANIEL

(Peneliti Sosial Ekonomi/Kebijakan Pembangunan Pertanian

BPTP Sumatera Barat)

Comments (2)Add Comment
0
petani Organik - Humas DPD-KTMI Pusat - Komunitas Tani Mandiri Indonesia
written by string, Agustus 25, 2014
Yth. Bp Moehar Daniel

Assalammualaikum wr wb
Perkenankan kami memperkenalkan inovasi pemupukan bakterial ktmi - periksa web kami www.komunitastanimandiriindonesia.blogspot.com - kami memperkenalkan pupuk Microorganisme biosintesa tanah - dimana microorganisme ini merupakan asosiasi bakteri tanah yang mampu menyediakan kebutuhan bagi bakteri penghasil unsur .
adalah hasil temuan prof Ir Drh Kasiat Adi MM - yang menemukan teknologi ini sekitar tahun 1996 dan diujicoba diberbagai situasi lahan - sehingga pada 2011 diperkenalkan di masyarakat tani adapun hasil panen meningkat dengan kualitas yang zero residu chemical - didistribusikan hanya melalui komunitas petani anggota .
Sementara hasil temuan Prof Dr Ir Lukman MSi - dikemas dan dipasarkan dengan brand TGH & GH - The Golden Harness & Golden Humat - pengendali penyehatan lahan dan pH tanah pertanian - pupuk Hayati untuk 5 aplikasi bidang pertanian - Peternakan - perikanan - perkebunan .sudah terdaftar di Kemetrian pertanian dan bersertifikat Control Union PBB . semoga info ini bermanfaat untuk teman2 Petani di Padang Panjang & sekitarnya - kalau berkenan hendak study banding - kami sediakan tempat penginapan sederhana di Home base KTMI Salatiga .
Mohon maaf kalau ada yang kurang -
Wass

0
Sedikit bertanya
written by string, Juni 14, 2011
Assalamu'alaikum pak...
bagaimana pendapat bapak dengan model sistem informasi agribisnis berbasis web ?

reza berencana mengangkat tema sistem informasi pada penelitian S1 ini
tapi masih belum dapat komoditi yang dirasa benar-benar pas
trims pak

Write comment

busy