Rabu, 17 September 2014
Chairil Anwar, Sang Pelopor Antara Biografis dan Ruang Estetis PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Haluan   
Minggu, 17 April 2011 01:38

Chairil Anwar, seorang penyair yang mati muda, tapi toh menyandang prediket yang amat prestesius: Sang Pelopor. Setidaknya, ini sedikit meng­obati klangenan kita akan sosok dan pokok yang lahir dan dibesarkan oleh proses krea­tifnya sendiri, bukan dari ranah politik yang lebih meng­andal­kan intuisi dan publisitas ala selebritis sebagaimana terlihat dalam kecenderungan kehidup­an berbangsa kita saat ini. Sementara sosok dan pokok dari ranah budaya, seperti HB Jassin, Mochtar Lubis atau Pramoedya Ananta Toer, di samping tentu Chairil, lenyap seiring lenyapnya tradisi pemi­kiran kreatif-alternatif dalam ranah politik dan keagamaan seperti pernah ditunjukkan sosok Sok Hok Gie dan Ah­mad Wahib, yang sebagaimana Chairil, keduanya juga mati muda.

Dalam usianya yang singkat (lahir di Medan, 26 Juli 1922, meninggal di Jakarta, 28 April 1949—27 tahun) dan usia kepenyairan yang jauh lebih singkat (sajak pertama, “Nisan”, 1942, sajak terakhir “Aku Berada Kembali”, 1949—7 tahun), kepeloporan Chairil yang lazim disebut untuk Angkatan ’45, sebenarnya mampu menembus sekat setiap angkatan, bahkan sampai hari ini.

Lebih lima puluh tahun silam dengan rendah hati ia berkata,”Aku berkisar di antara mereka,” maka sekarang de­ngan hati terbuka kitalah yang berkisar di antara sosok dan pokok Chairil. Ini menunjuk­kan bahwa kepeloporannya memiliki derajat signifikansi yang tinggi. Tidak saja secara estetis (diksi, gaya bahasa dan tema sajak-sajaknya), melainkan juga secara biografis (pandangan hidup, gagasan dan orientasi budaya). Pada yang terakhir ini, sering muncul situasi di mana sosok biografis menjadi dominan ketimbang unsur estetis, sehingga terkadang memunculkan momen-momen krusial, dan dalam beberapa hal kontraproduktif.

Kita ingat misalnya, bagai­mana isu seputar kehidupan Chairil yang bohemian, kurang ajar, pencuri buku dan pengidap sipilis pula, menjadi eksemplar paling ramai dalam pembi­caraan ketimbang sesuatu yang afdol menyangkut karya-karya­nya. Itu pun dengan pembi­caraan yang nostalgis. Jarang sekali yang melihat kehidupan Chairil sebagai cerminan ma­sya­rakat kita saat itu. Yakni, masyarakat yang hidup di awal kemerdekaan, mencoba men­cari orientasi baru, bermain-main menggoda aturan baku-konvensional—setelah begitu lama dikerangkeng para feodal dan kolonial—ke arah ke­mandirian.

Tidak pula ada yang meli­hat semangat perlawanan Chai­ril Anwar terhadap semangat sastrawan menara gading, sebagaimana pujangga di istana raja-raja yang memang norma­tif, tapi dengan menyerahkan kebebasannya pada aturan istana. Atau sastrawan Balai Pustaka yang terkesan kompro­mistis dengan penerbit kolonial yang mencuatkan isu adat dan kawin paksa di tengah kerasnya kolaborasi feodalisme-kolonia­lisme.

Sikap bebasnya itu jarang pula terbaca sebagai upaya Chairil menjaga puisi agar menjadi genre yang bebas, merdeka dan mandiri, disaat kentalnya tradisi kesenian istana yang dilakukan Soekarno seperti diterima penari istana atau pelukis istana. Kebo­hemianan Chairil adalah “kei­manan” terhadap jalan puisi sebagai the other, dunia lain, meski kesempatan seperti Dullah misalnya sangat terbuka, karena toh ia cukup dekat dengan Soekarno maupun Sjahrir yang notabene paman­nya. Kalau sekarang puisi tetap terjaga sebagai “dunia sunyi”, tidak seheboh genre seni lain seperti musik dan film, tidak pula sematerial lukisan, saya kira ini buah tidak langsung dari keimanan Chairil.

Meski jalan yang ditempuh Chairil bukannya tanpa resiko. Beban kepeloporan meng­akibatkan puisi dan biografi bersaing ketat untuk tampil, dalam bahasa Chairil, “mene­kan mendesak sampai ke pun­cak.” Akibatnya, sosok Chairil pun ditarik ke sana kemari, dari ruang domestik ke ruang publik, dari kehidupan ro­mantik ke politik. Ini tak ubahnya pewacanaan sosok perempuan dalam ranah femi­nisme sekarang yang memun­culkan sisi romantik dan inspiratif, sekaligus memper­tentangkan yang tradisi dan modern. Ya, sosok Chairil analog dengan sosok dan wacana perempuan di tanah air; enak diperbincangkan, kadang kontroversial, tapi sekaligus tereksploitasi.

Salah satu peristiwa yang menempatkan sosok Chairil dalam nuansa politik yang kental adalah penolakkan tanggal kematian Chairil seba­gai Hari Sastra. Mengatasna­makan sajaknya yang dianggap kontrarevolusioner, pihak Lekra misalnya menggugurkan hari kematian Chairil sebagai Hari Sastra yang sebelumnya diusung pihak Manifes. Itu karena mereka melihat dari persfektif antara yang politik dan apolitik. Sebaliknya, Asrul Sani tampak dengan dingin memisahkan Chairil dari gelanggang politik, misal mewacanakan sajak “Aku” yang kadung dianggap ikon vitalitas Chairil (dalam beberapa hal revolusioner), ditarik pada tataran sekedar romantik, yakni urusan keluarga semata.

Sampai saat ini, berbicara tentang Chairil memang tak dapat dilepaskan dari dua sisi: biografis dan estetis. Inilah yang justru membentuk dua dunia dalam kepeloporan “si Binatang Jalang”, yang pada akhirnya menurunkan dunia binner yang lain. Seperti kasus wacana politik dan apolitik di atas, sebagai buah adukkan yang biografis dan estetis. Begitu pula tubrukan asumsi terhadap sosok Chairil: pendukung revolusi atau antirevolusi. Asumsi ini lahir lantaran di satu sisi orang menganggap puisi dan gaya hidupnya amat romantik-individualistik, tapi sebagian lain menganggap sikap indiviualistiknya cermin hasrat masyarakat luas untuk lebih bebas mengekspresikan diri, tanpa berarti harus kehilangan kolektivitas. Bukankah ini juga tercermin dari dua jenis sajak Chairil, antara “sajak kamar” dan “sajak mimbar”?

Sisi Estetis Kepeloporan

Bicara kepeloporan Chairil dalam hal estetis, pertama harus dikatakan, ia pelopor yang inklusif. Artinya, pencapaian-pencapaian estetik Chairil bisa dimasuki orang lain untuk menghasilkan variasi atau kemungkinan lain atau bahkan “penyimpangan”. Ini berke­balikkan dengan mereka yang menurut saya berhasil sebagai pelopor ekslusif, sebagaimana Sutardji Calzoum Bachri atau Afrizal Malna.

Konsepsi puitik Sutardji yang dikenal dengan “Kredo Puisi” (1973) yang “membe­baskan kata dari beban penger­tian”, disertai bentuk sajak mantra yang dikembangkannya, terlalu ekslusif untuk dimasuki kreator lain, bahkan mungkin bagi apresiator. Tema “maut” (kematian) di tangan Chairil bisa berbeda dengan tema “maut” di tangan Goenawan Muhamad atau Sapardi Djoko Damono, meski bahasa liris dan imajis memiliki pertalian yang jelas dengan capaian Chairil. Sebaliknya, tidak terbayangkan bagaimana kata “batu” di tangan Sutardji ditulis penyair lain dengan terlebih dahulu mengambil bentuk mantra, pastilah “batu” di tangan penyair lain itu akan tenggelam ke kebisuan dalam arti yang sebenarnya, kecuali jika ia bisa lebih ekstrem dari “batu” Tardji.

Begitu pula Afrizal, akan menjadi absrud jika konsep­sinya tentang “alam benda” dipraktekkan langsung serta-merta orang lain, apalagi dengan gaya ungkapnya yang tak mengindahkan “kimiawi kata”. Itulah sebabnya, feno­mena Afrizalian pada sekitar tahun 90-an tetap hanya me­mun­culkan Afrizal sendiri karena secara riil memang dialah empunya konsepsi. Banyak yang kemudian ter­pental, alih haluan, meski ada juga yang keras kepala bertahan seperti T. Wijaya (Palembang) atau Shinta Febriany (Makasar), tapi toh tetap saja mengingat­kan kita pada sajak Afrizal.

Tentu saja saya tidak ber­maksud mengatakan bahwa yang satu lebih baik daripada yang lain. Apalagi untuk mengatakan bahwa estetika pelopor yang ekslusif tidak memberi jejak pada tradisi kepenyairan kita. Tidak. Spirit Tardji dan Afrizal jelas meno­rehkan jejak pada perpuisian mutakhir kita, namun dalam konteks membuka jalan bersa­ma, efek eststika Chairil terha­dap kepenyairan Indonesia harus diakui lebih mengena: ia meneruka dunia kata-kata dengan lebih lempang, menjadi milik semua orang. Dalam kerangka agak normatif inilah Chairil menempati posisi utama pembahru dan pelopor estetika puisi Indonesia.

Lagi pula Chairil tidak merumuskan suatu konsepsi personal yang sekiranya menjadi kredo puisinya, sebab efeknya tentulah menutup kemungkinan lain dari “jalan bersama” yang sedang dirintisnya. Sepanjang pengetahuan saya, Chairil hanya merumuskan konsepsi kolektif kepenyairan yang “ideal”, seperti terungkap dalam surat­nya kepada HB Jassin (8 Maret 1944),”Mengorek kata sampai ke intinya.” Atau seperti yang disampaikan dalam pidato radionya (1946),”Sajak adalah dunia yang menjadi.” Bukankah ini sewaj­arnya milik setiap penyair? Meski pula ia pernah bilang, setengah meradang, “yang bukan penyair jangan ambil bagian,” namun jelas ditujukan kepada para kreator setengah hati yang justru membuat dunia bersama itu terancam mencair. Hal yang sekarang terbukti, betapa puisi, dengan mem­peralat demokra­tisasi telah mengalami peng­gam­pa­ngan di sana-sini.

Jelaslah, kepeloporan in­klusif Chairil membuka jalan bersama yang dalam bahasa keren sekarang bolehlah kita sebut demokratisasi. Sayangnya, di tengah iklim demoktratisasi ini pula muncul ironi hidup berbangsa: yang lahir bukannya si Pelopor, melainkan si Pecun­dang. Yang muncul bukannya kreator yang berproses dan berkeringat, tapi koruptor yang ingin mendapatkan segala sesuatu dengan cepat. Dalam situasi seperti inilah kepe­loporan Chairil Anwar, baik estetis maupun biografis, menemukan momentumnya untuk diperingati, ada atau tidak ada Hari Sastra.

 

RAUDAL TANJUNG BANUA

(Penyair dan Redaktur Rumahlebah Ruangpuisi)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy