Minggu, 20 April 2014
Sulaman Bayangan Tembus Singapura PDF Cetak Surel
Rabu, 20 April 2011 01:57

PAINAN, HALUAN — Usaha kerajian sulaman bayangan Pesisir Selatan semakin diminati masyarakat. Hasil kerajinan sulaman bayangan itu tidak saja dibawa ke luar daerah, seperti Jakarta dan Bandung, tetapi pemasarannya juga sudah menembus ke negara jiran Malaysia dan Singapura.

Produk ini banyak digunakan untuk pakaian yang bernuasa muslim, terutama digunakan oleh berbagai lembaga organisasi wanita seperti majlis taklim, Dharmawanita dan lainnya.

Ketua  Dekranasda Kabupa­ten Pesisir Selatan Ny Wartawati selaku pembina mengatakan, produksi usaha kerajinan sula­man bayangan Pessel berkualitas serta memiliki prospek cerah di dalam mengangkat per­ekonomian masya­rakat di Pessel. Usaha ini meru­pakan produk andalan masyarakat daerah Pessel, yang dijual dengan harga bervariasi di pasaran.

Hasil karya masyarakat Ba­rung Barung Barung Belantai Kecamatan Koto XI ini me­miliki daya tarik tersendiri, kemudian harganya juga ter­jangkau bagi masyarakat eko­nomi menengah ke bawah, mulai puluhan ribu sampai dengan ratusan ribu rupiah tergantung corak dasar kain dan motifnya.

Para pengusaha yang berge­rak dalam kerajinan sulaman bayangan tentu diharapkan akan terus merancang  berbagai motif  yang dinimati oleh konsumen dengan rancangan mode sesuai dengan selera masyarakat, disam­ping juga mutu dari hasil pro­duksi yang berkualitas.

“Hal ini akan mem­buat ting­ginya animo masyarakat me­nyenangi sulaman bayangan asal Pesisir Selatan,” kata Wartawati.

Daerah Barung Barung Belan­tai kecamatan Koto XI Tarusan merupakan sentral industri sulaman bayangan untuk pa­kaian pria dan wanita. Kemudian usaha ini telah mampu menjawab tantangan keterpurukan ekonomi di daerah itu sebab masya­rakatnya aktif melakukan usaha ini dalam meningkatkan pen­dapatan masyarakat setempat.

Wartawati, salah seorang pengusaha kerajian sulaman bayangan di Barung Belantai Tarusan, menuturkan, ia merasa kewalahan memenuhi permin­taan dari ma­syarakat.

Hasil usaha yang dikelolanya terbatas hanya dikerjakan dalam keluarga. Selain itu, juga keter­batasan ke­mam­puan modal usaha. Apalagi saat ini permin­taan konsumen yang semakin tinggi.

“Hal ini jelas membutuhkan dana yang besar untuk membeli bahan seperti kain yang akan diolah dengan kerajian sulaman bayangan,” kata Wati.

Para pengusaha kerajinan sulaman bayangan juga berharap perhatian pemerintah dalam mengatasi kendala keterbatasan modal usaha melalui kredit lunak. Agar usaha ini dapat ber­kembang kemudian dapat me­menuhi kebutuhan pasar. (h/mjn)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy