Jumat, 24 Oktober 2014
BI: Pengawasan Internal Bank Lemah PDF Cetak Surel
Sabtu, 30 April 2011 01:03

PADANG, HALUAN— Maraknya kasus pembobolan bank dikarenakan lemahnya sistem pengawasan internal bank itu sendiri sehingga memungkinkan pegawai untuk menggasak dana nasabah. Demikian dikatakan Pimpinan Bank Indonesia ( PBI) Padang, Romeo Rissal pada Haluan, Kamis ( 28/4).

“Kalau kejadiannya sudah terjadi dalam waktu yang cukup lama seperti City Bank yang telah berjalan 5 tahun, itu sistem pengawasan in­ternalnya yang lemah. Bukan lemah lagi, tapi bobrok malah,” ujar Romeo menanggapi kasus pembobolan dana nasabah yang marak terjadi . Terbaru adalah pembobolan dana Elnusa di Bank Mega Rp111 miliar.

Dikatakannya, bank mana­pun kalau sudah ada orang dalam yang bermain, dan sistem pengawasan internalnya tidak jalan, pasti akan gampang kebobolan, bahkan di luar negeri sekalipun.

“Bank Indonesia sendiri memang melakukan pe­nga­wasan, namun as­peknya tentu terbatas. Pengawasan internal perbankan itu sendirilah yang lebih efektif dalam mengatasi kasus pembobolan dana na­sabah tersebut.

Misalnya kalau ada pegawai bank yang pimpinannya tau gajinya sekian, pemasukannya sekian, namun ke­mudian beli mobil yang harganya selangit yang kalau dipikir-pikir, musta­hil dia bisa beli mobil itu, maka hendaknya ada saling me­ngawasi dari pegawai /pim­pinan bank itu sendiri, kenapa si A kok tiba-tiba bisa banyak duit begitu,’ contoh Romeo.

Karenanya, ke depan me­nurutnya setiap bank harus memperketat pe­ngawasan te­rutama antarkaryawan dan nasabah agar kasus-kasus pe­nggelapan dana nasabah tidak terulang lagi.

“Pada nasabah hendaknya juga menyempatkan untuk mencek dananya di perbankan minimal sebulan sekali. Sesibuk apapun hendaknya disem­patkan. Apalagi sekarang ada pho­nebanking atau mobile banking yang memudahkan untuk men­dapatkan informasi transaksi perbankan dengan hanya melalui handphone,” ujar dia lagi.

Kinerja Keuangan Perbankan Sumbar

Sementara itu total aset perbankan di Sumbar selama triwulan pertama 2011 sebesar Rp30,929 triliun atau ber­tambah sekitar Rp650 miliar dari posisi akhir 2010 yang hanya sebesar Rp30,158 triliun.

Sementara itu Dana Pihak Ketiga ( DPK ) berjumlah Rp20,316 triliun atau me­ningkat dari posisi akhir tahun lalu yang hanya sebesar Rp 20,802 triliun. Tabungan masih mendominasi dengan jumlah Rp9,998 triliun, disusul de­posito Rp5,631 triliun, dan giro sebesar Rp4,686 triliun.

Jumlah pembiayaan yang diberikan Rp20,583 triliun atau naik dari posisi tahun lalu sebesar Rp20,568 triliun. Kredit konsumsi yang terbesar Rp9,451 triliun, modal kerja Rp7,839 triliun dan investasi Rp3,292 triliun.

Loan to Deposit Rasio atau LDR juga naik dari posisi 98,87 persen pada akhir tahun, menembus 100 persen pada triwulan pertama 2011. Ting­ginya rasio LDR me­nunjukkan tingginya jumlah DPK yang disalurkan kembali pada masya­rakat dalam bentuk kredit.( h/ita)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: