Rabu, 19 Juni 2013
Siapa Bilang SDA Sumbar tak Banyak? PDF Cetak Surel
Sabtu, 30 April 2011 02:22

Dalam pernyataannya di Padang kemarin, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI, Gita Wirjawan menyebutkan bahwa Sumatera Barat tidak boleh berkecil hati dengan sumber daya alam. Justru menurut Gita Wirjawan, daerah ini memiliki sumber daya alam (SDA) yang cukup besar di bidang migas maupun non-migas.

Dengan segenap keyakinannya, Gita mengatakan bahwa Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) bisa men­datangkan investasi miliaran rupiah, karena potensi SDA yang cukup besar di bidang migas maupun non migas. Itu.

Ia kemudian memberikan argumentasinya, bahwa dalam pemanfaatan potensi SDA, perlu diperhatikan aspek yang memberi nilai tambah terhadap pergerakan ekonomi. Menurut Gita, tidak ada alasan bagi Sumbar, untuk tidak bisa mendatangkan investasi dengan jumlah miliaran, karena didukung potensi SDA yang cukup besar.

Justru itu, salah satu upaya yang harus dilakukan adalah penataan data potensi, dan memberi pelayanan terhadap kalangan penanam modal yang ingin berinvestasi.

Sampai di situ kita harus memberi pembenaran terhadap pernyataan Gita. Sebab selama ini banyak keluhan calon investor yang hendak masuk ke Sumbar justru kesulitan dengan data-data potensi.

Sebab apabila data pendukung yang diperlukan oleh calon investor masih harus mereka lakukan suver awal dari nol lagi berarti tidak ada artinya posisi lembaga seperti BKPMD yang semestinya menyajikan data awal yang lebih valid bagi pengambilan keputusan berin­vestasi atau tidak berinvestasi di Sumbar oleh para pemilik modal.

Ketidaktersediaan data primer dan sekunder dengan validasi terjamin untuk keperluan investasi, dapat dilihat dari dampaknya. Betapa lambat sekali pertumbuhan investasi. Perkembangan nilai investasi di Sumbar dilihat pada tahun lalu, hanya sekitar Rp150 miliar lebih dari jumlah Rp208 triliun realisasi secara nasional pada 2010.

Jumlah di atas, tentu masih jauh dan diharapkan bisa lebih besar lagi dengan peluang dan potensi yang dimiliki. Ini menunjukkan bahwa untuk melakukan peningkatan investasi, tentunya tak terlepas dari korelasi antara SDA yang tersedia dengan sistem pelayanan dan sumberdaya manusia.

Di masa lalu senantiasa didengungkan bahwa Sumatera Barat adalah daerah yang sumber daya alam migas dan no-migasnya sangat minim. Terutama dibandingkan dengan daerah tetangga seperti Riau, Jambi dan Sumsel.

Maka itu dari waktu ke waktu Sumatera Barat menyorakkan bahwa di daerah ini yang mungkin perlu dikembangkan adalah sektor pendidikan yang bertujuan sebagai wilayah pencetak sumber daya manusia berkualitas. Mungkin agak terlongsong tetapi kadang sudah disebutkan sebagai ‘industri’. Padahal bagaimana mungkin mengatakan bahwa pendisikan adalah industri?

Kita tidak ingin berdebat soal apakah itu industri pendidikan atau semata sebagai center of excellent yang jelas apa yang dinyatakan oleh Kepala BKPM pusat itu patut untuk kita inap menungkan di Sumatera Barat. Bahwa sesungguhnya sumber daya alam kita masih cukup dan tidak bisa dikatakan minim. Jika dibanding dengan Riau yang memiliki minyak dan batubara tentu benar. Tapi dengan mencoba mendata dan memetakan sedemikian rupa niscaya kita akan dapat menemukan endapan-endapan SDA yang dapat dikendepankan sebagai modal dasar untuk menarik minat investor.

Dengan diresmikannya Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) diharapkan pendataan atau penyajian data yang lebih valid tentang potensi SDA bisa menolong para calon investor. Jika mereka di tingkat awal saja sudah bermasalah dengan data Sumbar, tentu mereka jadi tidak berminat meneruskan niatnya berinvestasi di daerah ini.

Sajian data yang valid dan terpercaya akan membantu investor untuk tidak perlu survei dari nol. Setidak-tidaknya biaya untuk itu tidak perlu mereka keluarkan lagi karena data yang diperlukan sudah ada di PTSP. Tinggal mengolahnya kemudian mereka sampai ke kesimpulan berinvestasi atau tidak. Dengan PTSP juga mereka yang memutuskan akan berinvestasi dapat dilayani langsung tanpa berbelit-belit. Tapi itu adalah teorinya, praktiknya? Kita lihat saja ke depan.***

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy