Minggu, 28 Desember 2014
Monas PDRI: Koto Tinggi dan Halaban Rebutan PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Haluan   
Senin, 02 May 2011 02:14

Setelah dilaksanakan rangkaian seminar tentang Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dalam peringatan Satu Abad Syafruddin Prawiranegara di Jakarta, Banda Aceh, Bukittinggi, dan Pa­yakumbuh. Pada seminar yang digelar di Tan­jung Pati, Limapuluh Kota beberapa waktu lalu, sejumlah peserta seminar mem­per­­tanyakan kepastian lokasi pendirian mo­nu­men nasional (Monas) PDRI. Pasalnya, hing­ga saat ini dua kubu saling klaim tentang ke­pan­tasan kampung mereka layak untuk lo­kasi Monas tersebut: Koto Tinggi atau Halaban

Perkembangan terakhir, Peme­rintah Kabupaten Limapuluh Kota sendiri mengusulkan dua lokasi untuk didirikan Monas itu, yaitu di Kototinggi Kecamatan Gunuang Omeh dan Lareh Sago Halaban kepada panitia pusat di Jakarta.

Melihat hal ini, tokoh masyarakat Kabupaten Limapuluh Kota, Bri­gadir Jenderal TNI (Purn) Aditya­warman Thaha, dan H Safri Jalinus, tokoh masyarakat Padang Jopang dan Antoni, tokoh masyarakat Koto Tinggi meminta kepada panitia untuk segera menegaskan kepastian pendi­rian Monas tersebut.

Menurut Adityawarman, Koto Tinggi layak untuk  dijadikan lokasi tersebut, sebab, Koto Tinggi sebagai basis perjuangan utama PDRI.

“Bayangkan, sembilan orang pejuang Koto Tinggi gugur di Sungai Dodok ditembak tentara Belanda dalam menghadapi serangan saat menuju pusat PDRI di Koto Tinggi. Selain  itu, dua kali perjuangan besar dalam PDRI dan PRRI, diterima masyarakat tanpa penolakan. Ini adalah bukti, kalau Koto Tinggi, layak menjadi lokasi pendirian Monas tersebut,” kata Adityawarman kepada Haluan Minggu (1/5).

Di sisi lain, kata Adityawarman yang juga pimpinan Pondok Pesan­tren Darul Funun Padang Jopang itu, dari sisi penghargaan, dua kali Gubernur Sumbar Harun Zein menjadi inspektur upacara Peri­ngatan Hari Kemerdekaan RI di Koto Tinggi.

Menurutnya, dua buah tugu yang ada saat ini, didirikan pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, adalah bukti pembenaran, kalau Koto Tinggi adalah lokasi yang tepat pendirian Monas.

“Penetapan Koto Tinggi sebagai lokasi pendirian Monas Bela Negara PDRI, rasanya sudah tepat. Selain dari sisi sejarah, akses yang lebih luas, seperti terbukanya jalan menuju Pasaman dan Agam adalah dampak positif dari Koto Tinggi. Dapat kita pastikan, jika Monas berdiri di Koto Tinggi dengan dukungan tanah dan lokasi yang memadai, maka  rencana Kementrian Pertahanan Nasional untuk membangun Monas disertai dengan objek-objek wisata dan budaya baru, dapat direalisasikan,” tukuk mantan Pimpinan Redaksi Majalan Dwimingguan Sana itu.

Sementara, H Safri Jalinus, tokoh masyarakat Padang Jopang yang juga mantan Calon Bupati Limapuluh Kota bersama H Rifa Yendi (2010) lalu, juga menilai Koto Tinggi lebih layak untuk dijadikan lokasi Monas. Hal itu dikaji dari latar sejarah peristiwa PDRI

“Gubernur Harun Zein dan Sultan Hamengkubuwono IX (man­tan Wakil Presiden RI) datang langsung ke Koto Tinggi. Ini sebuah bukti pengakuan, kalau Koto Tinggi, lebih tepat sebagai lokasi berdirinya Monas. Kita berharap, pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota bersama DPRD, bisa melihat kenyataan dan bukti sejarah yang ada. “Namun saya yakin, bupati akan menentukan lokasi yang tepat,” kata Safri Jalinus.

Anton, salah satu tokoh masya­rakat, tempat rencana Monas itu berdiri, memastikan, tanah seluas 20 hektare yang diminta pemerintah pusat, sudah tersedia dan memiliki surat pernyataan dukungan yang sah dari kaumnya.

“Kami sudah serahkan surat dukungan penyerahan tanah calon lokasi Monas itu kepada Bupati Limapuluh Kota dan tim khusus yang didatangkan dari Jakarta. Begitu juga dengan kesediaan masyarakat menyerahkan tanah seluas 100 hektare lainnya yang akan digunakan untuk pengembangan keberadaan Monas itu nantinya,” tukuk Anton yang juga Ketua LPM dan Pemuda Koto Tinggi itu.

Sebelumnya,  Bupati Limapuluh Kota, Alis Marajo, mengakui, pemkab menyediakan 2 lokasi pendirian Monas. Satu lagi di Lareh Sago Halaban. Kedua lokasi memiliki alasan dan latar belakang sejarah yang kuat. Namun kini penetapannya masih menunggu kesepakatan Tim Pemba­ngunan Monas Bela Negara di Jakarta. Perkembangan saat ini, berdasarkan kesepakatan tim, Monas Bela Negara akan didirikan di Koto Tinggi atau Halaban belum dipas­tikan.

“Kita belum bisa memastikan dimana panitia menetapkan lokasi. Diakui, kedua tempat tersebut merupakan daerah perjuangan PDRI yang dibentuk oleh Syafrudin Prawi­ranegara. Karena pada 1948 Negara Ke­satuan Republik Indonesia (NKRI) yang berpusat di Yogyakarta kala itu, jatuh ke tangan Belanda,” ujar Alis usai napak tilas jejak PDRI serta meninjau lokasi pembangunan Monas Bela Negara di Koto Tinggi dan Gunuang Omeh beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu pun, Alis mengaku bahwa pergerakan PDRI memang dilakukan secara mobile atau berpindah-pindah. Maka tugu peringatan PDRI juga didirikan di Bidar Alam, Kabupaten Solok Selatan dan Kota Bukittinggi. Sebab dua daerah itu sempat menjadi tempat pergerakan pejuang PDRI. Sebelumnya, di Gunuang Omeh, Koto Tinggi pun telah berdiri tegak Tugu Perjuangan PDRI di dekat Kantor PDRI. (h/il)

Comments (2)Add Comment
0
jack12
written by string, Desember 05, 2014
Saya merasa bangga menjadi masyarakat 50 kota, saya sangat berharap kab.50kota adanya pemerataan pertumbuhan dalam berbagai bidang. Karena itu saya berpendapat Halaban adalah tempat yg cocok untuk monas ini, sehingga peta wisata kab.50 kota nantinya bisa tersebar dan secara tidak langsung akan berdampak baik pada perekonomian masyarakat, tapi itu semua kita kembalikan kepada pemerintah kita, dan yg penting kita jaga kerukunan dan kekompakan sesama masyarakat 50 kota......
0
kami warga perantau minang mengdukung pembangunan monas pdri tapi setelah membaca dan mempelajari sejarah pdri supayab panitia pusat menetapkan kototinggi sebagai lokasi dibangunya monas pdri.
written by string, Januari 11, 2012
smilies/cool.gifsmilies/smiley.gif

Write comment

busy