| Semangat ASEAN Masihkah Relevan? |
|
|
|
| Jumat, 06 May 2011 01:45 | |||
|
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 ASEAN 2011 akan dimulai besok di Jakarta. Acara yang digelar di Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, itu akan dihadiri oleh para kepala pemerintahan negara-negara yang tergabung dalam ASEAN, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam. Selain itu juga akan hadir kepala pemerintahan dari negara-negara sahabat ASEAN dan pimpinan lembaga-lembaga internasional. Isu terorisme dan kematian Osama bin Laden juga akan dibahas. Lalu apa yang menarik dan perlu mendapat perhatian kita tentang KTT ini?Hubungan intra ASEAN belakangan ini memang menjadi sorotan berbagai kalangan. Kalangan pengamat di Jepang malah mempermasalahkan kebersatuan ASEAN. Bersatu lebih dalam kata-kata, ketimbang realitasnya,” tulis Japan Times dalam editorialnya seminggu setelah KTT ASEAN di Hua Hin, Thailand, dua tahun silam. Ini ada benarnya juga, bahkan sampai sekarang pun semengat kebersatuan ASEAN itu masih relevan sebagai hal yang patut dipertanyakan lagi. Apa benar sudah menjadi kenyataan kebersatuan ASEAN itu. Jangan-jangan memang hanya dalam kata-kata pemanis belaka. Lihat saja hubungan menegang antara Thailand dan Kamboja yang berebut hak atas Kuil Preah Vihear di perbatasan kedua negara. Bukankah ini salah satu yang perlu menjadi sorotan seberapa jauh semanhgat ASEAN itu sudah tumbuh subur di dalam negara-negara anggotanya? Ketegangan juga ada antara Indonesia dan Malaysia. Beberapa kali nyaris terjadi insiden yang dipicu kon flik perbatasan. Kedua pihak sama-sama mengklaim kedaulatannya tergerus oleh kedaulatan lain. Soal pulau, soal kapal yang ditangkap, soal buruh dan klaim mengklaim ciptaan terus mempertinggi suhu hubungan kedua negara. Hampir semua anggota ASEAN menghadapi konflik perbatasan dengan sesama anggota ASEAN, termasuk Malaysia dan Thailand, Myanmar dengan Thailand, Laos dengan Vietnam, dan banyak lagi. ASEAN juga didera sejumlah persoalan intra-ASEAN lain, termasuk perlombaan senjata dan ketidaksatuan sikap dalam sengketa di Laut China Selatan. Respons Bersama Pada semua gambaran masalah yang dikemukakan di atas, nyaris tak ada kata ‘bersatu’ dalam ASEAN, bahkan Thailand menolak mekanisme ASEAN untuk konfliknya dengan Kamboja. Hubungan intra-ASEAN memang terlihat dekat secara emosional, namun ASEAN tak memiliki kekuatan memaksa atau mekanisme bersama dalam menyelesaikan persoalan-persoalan antarmereka. Mendiang profesor politik dari London School of Economics and Political Sciences (LSE), Michael Leifer, pernah mengatakan ASEAN menghadapi masalah dalam memberi respons bersama karena organisasi ini tak membangun mekanisme penyelesaian sengketa secara formal. Organisasi kawasan ini, lebih tertarik menciptakan milieu (lingkungan) kawasan yang bisa mengelola dan mencegah konflik. Lalu apa yang mesti dilakukan agar keberadaan persekutuan ini bisa menjadi lebih berarti bagi anggota-anggotanya? Yang jelas ASEAN memerlukan kerangka pikir baru dalam menyelesaikan konflik intra-ASEAN. Persekutuan bangsa Asia Tenggara ini mesti membentuk mekanisme penyelesaian sengketa di dalam tubuhnya sendiri. Mekanisme penyelesaikan sengketa ekonomi memang sudah lama terbentuk, tapi tidak pernah ada mekanisme yang menyangkut sengketa-sengketa yang dapat menciptakan bentrok senjata. Konflik perbatsaan antar dua negara bertetangga di dalam ASEAN mesti dapat diselesaikan dengan elegan oleh ASEAN. Setidaknya ASEAN dapat meredam konflik. Itu semata demi kredibilitas dan bentuk baru ASEAN yang lebih reponsif dan proaktif. Kalau tidak, maka ASEAN hanyalah macan kertas yang tidak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya untuk dipandang-pandang sebagai pajangan.***
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 405 Comments (0)
![]() Write comment
Newer news items:
Older news items:
|

BERANDA
BERITA HARIAN
ARTIKEL
MINGGUAN
ARSIP
E-PAPER
TENTANG KAMI


