Sabtu, 29 November 2014
Pendidikan Lingkungan dalam Kurikulum Sekolah PDF Cetak Surel
Sabtu, 04 Juni 2011 02:12

REFLEKSI MEMPERINGATI HARI LINGKUNGAN HIDUP

Setiap 5 Juni bangsa sedunia kembali memperingati hari lingkungan hidup dan ini sudah menjadi sebuah tradisi setiap tahunnya. Pada hari ini biasanya berbagai macam kegiatan yang dilakukan seperti halnya turun kejalan untuk melakukan longmarch sebagai aksi atas kepedulian terhadap lingkungan.

Lingkungan merupakan tempat hidup manusia dan mahluk hidup lainnya seperti hewan dan tumbuhan. Kita merupakan bagian dari ling­kungan. Mahluk hidup men­dapatkan sesuatu yang penting bagi hidupnya tentu dari ling­-kungannya yang telah diciptakan oleh tuhan.

Berbagai macam masalah lingkungan terjadi akibat tinda­kan manusia yang cenderung mengeksplorasi lingkungan hanya untuk kepentingan diri atau kelompoknya tanpa mem­perhatikan akibat yang terjadi pada lingkungan.

Masalah lingkungan hidup di Indonesia saat ini sangat banyak sekali, mulai dari penebangan hutan secara liar (illegal logging), polusi air dari limbah industri dan pertam­bangan, polusi udara di daerah perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia), asap dan kabut dari kebakaran hutan, peram­bahan suaka alam/suaka marga­satwa, perburuan liar, perda­gangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi, penghan­curan terumbu karang; pem­buangan sampah B3/radioaktif dari negara maju, pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengo­la­han, semburan lumpur liar di Si­doarjo, Jawa Timur dll. Itulah  realiatas yang ada  dalam kehidupan kita sekarang ini.

Menghargai Lingkungan

Warga Indonesia, khususnya kita warga Sumatera Barat, masih belum mampu meng­hormati, menjaga maupun mera­wat lingkungannya dengan baik. Hari ke hari kondisi lingkungan di sekitar kita bukannya sema­kin baik, namun malah semakin buruk kondisinya. Misalnya, di daerah kita ini yang paling bisa kita rasakan yaitu masalah penebangan liar  (Ilegal Loging), dan pertambangan ilegal. Kita lihat dibeberapa daerah seperti pulau Mentawai, Solok Selatan dan Pesisir Selatan sangat marak sekali terjadinya penebangan liar serta pertambangan ilegal. Sehingga setiap musim peng­hujan di daerah tersebut akan timbul yang namanya banjir bandang, tanah longsor dan itu semua nantinya berakibat fatal terhadap keberlangsungan hidup warga setempat.

Makin memburuknya kon­disi lingkungan hidup, khu­sus­nya di Sumatera Barat ini tak lepas dari masih rendahnya kesadaran terhadap lingkungan sehingga sering terabaikan begitu saja. Rendahnya kesadaran terhadap lingkungan ini juga tak lepas dari rendahnya tingkat pendidikan/pengetahuan masya­ra­kat tentang perlunya menjaga lingkungan hidup.

Sehingga fenomena yang kita lihat akhir-akhir ini betapa banyaknya muncul bencana alam di daerah tercinta ini.

Kalau kita bicara masalah kebijakan berupa UU, PP ataupun yang lainnya yang mengatur masalah lingkungan hidup, lengkaplah sudah. Semua kebijakan itu sudah tersusun rapi dalam lembaran kertas. Namun sayang realitasnya di lapangan berkata lain dimana semua kebijakan tersebut masih banyak yang dilanggar atau tidak diabai­kan Sehingga pada akhirnya kebijakan tersebut hanya tinggal dalam tumpukan kertas belaka, tanpa ada realisasi. Itu semua karena kita tidak mau sadar dengan pentingnya menjaga lingkungan ataupun  karena dibalik itu ada modus bahwa kita ingin mencari keuntungan pribadi atau kelompok.

Dalam ajaran agama kita juga sudah diatur bagaimana caranya menjaga lingkungan. Kita seba­gai makhluk manusia sering lupa diri, kita cenderung bersifat serakah sehingga kita tidak mengabaikan apa yang telah diajarkan oleh agama.

Pendidikan Lingkungan Hidup

Untuk mendorong kesadaran setiap individu terhadap pen­tingnya menjaga lingkungan hidup khusunya kita di Suma­tera Barat perlu kiranya mema­sukkan pendidikan lingkungan hidup ke dalam kurikulum sekolah. Sehingga nantinya mulai dari tingat TK kesadaran itu sudang mulai terbangun dalam diri setiap individu.

Karena sejauh ini belum ada konsep baku untuk pen­didikan lingku­ngan hidup di Indonesia. Semen­tara ini, konsep pen­didikan lingkungan hidup yang banyak dirujuk adalah hasil rumusan dari Konvensi UNES­CO di Tbilisi, tahun 1977.

Konvensi ini merumuskan pendidikan lingkungan hidup bertujuan untuk menciptakan suatu masyarakat dunia yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masalah-masa­lah yang terkait di dalamnya serta menciptakan suatu masya­rakat dunia yang memiliki pengetahuan, motivasi, komit­men dan keterampilan untuk bekerja baik secara perorangan maupun kolektif dalam mencari atau memberikan solusi terha­dap permasalahan lingkungan yang ada sekarang dan untuk menghindari timbulnya masalah-masalah lingkungan baru.

Hasil Konvensi Tbilisi itu antara lain: Pertama, pendidikan lingkungan hidup merupakan proses pendidikan seumur hidup yang berlangsung di semua jenjang pendidikan dan ting­katan.

Kedua, pendidikan lingku­ngan hidup terkait dengan interaksi yang berlangsung dalam lingkungan alam dan sosial.

Ketiga, pendidikan ling­kungan hidup mesti diarahkan kepada pemahaman ihwal bagaimana interaksi manusia serta proses politik bersama-sama dengan permasalahan-permasalahan sosial-ekonomi yang memengaruhi menurunnya atau meningkatnya kualitas lingkungan hidup.

Keempat, pendidikan lingku­ngan hidup diarahkan untuk mengembangkan sikap serta sistem nilai yang mendorong kepada peningkatan kualitas sosial-ekonomi lewat interaksi sosial yang positif dan peme­liharaan serta peningkatan kondisi lingkungan alam.

Kelima, pendidikan ling­kungan hidup diarahkan untuk mengembangkan pemahaman perseorangan, keterampilan dan pemberdayaan yang diperlukan untuk membentuk perilaku positif terhadap lingkungan sosial dan lingkungan hidup dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, serta untuk mem­bentuk partisipasi aktif kelom­pok dalam mencari solusi tepat bagi masalah-masalah ling­kungan hidup.

Keenam, pengajaran pendidikan lingkungan hidup mensyaratkan pendekatan holistik dan antardisiplin dengan mengedepankan proses pembe­la­jaran langsung dalam ling­kungan alam dan lingkungan sosial yang nyata.

Pendidikan lingkungan hidup ini nantinya akan memberikan pemahaman bagi siswa me­ngem­bangkan pengetahuan faktual menyangkut lingkungan alam, terutama terkait dengan bagaimana ekosistem bekerja serta bagaimana manusia mem­pengaruhi lingkungan alamnya, membantu dan membimbing siswa meningkatkan persepsi yang lebih positif terhadap nilai lingkungan alam, membantu dan membimbing siswa mengem­bangkan kebiasaan dan perilaku ramah lingkungan. Serta mem­bantu dan membimbing siswa mengembangkan hubungan spiritual dan psikologis dengan lingkungan.

Namun ini masih mem­berikan sebuah tanda tanya besar bagi kita, apakah hanya cukup memberikan pendidikan berupa kurikulum di tingkat sekolah  untuk para siswa. Menurut hemat penulis semua stokeholder yang terkait harus mendapatkan pendidikan ten­tang lingkungan hidup terlebih-lebih juga para pejabat di daerah kita ini.

Mengapa demikian? Karena pejabat-pejabat pemerintahan didaerah ini sebagai aktor dalam mengambil sebuah kebijakan perlu pengetahuan yang luas serta memadai mengenai masa­lah lingkungan. Karena  kesa­lahan dalam melahirkan sebuah kebijakan nantinya akan berdam­fak besar terhadap keberlang­su­ngan hidup masyarakat.

Da­lam memperingati hari ling­kungan ini juga diharapkan ja­nganlah ini hanya menjadi sebuah ajang seremonial semata bagi kita tapi diharapkan kita melakukan refleksi kembali dimana kelemahan dan keku­rangan kita selama ini.

Semoga untuk kedepannya akan semakin tumbuh akar yang kuat dalam diri kita masing-masing akan perlunya menjaga kelestarian lingkugan hidup. Amin!

 

MORA DINGIN

(Pemerhati Sosial dan Berkegiatan di Perkumpulan Qbar, Padang)

Comments (1)Add Comment
0
www.ceptasik.co.cc
written by string, Juli 04, 2011
NUMPANG PROMO THANKS

Write comment

busy