Selasa, 21 Oktober 2014
Pendidikan Alquran yang Memprihatinkan PDF Cetak Surel
Jumat, 10 Juni 2011 02:30

Pendidikan Alquran menjadi kebijakan pemerintah Provinsi Sumatera Barat di tingkat sekolah umum: SD, SMP, SMA dan SMK. Tidak tanggung-tanggung, kebijakan tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2007 tentang Pendidikan Alquran. Dalam Perda tersebut ditegaskan bahwa pendidikan Alquran dijadikan sebagai mata pelajaran muatan lokal di tingakt SD, SMP, SMA dan SMK (pasal 6).

Sejak tahun 2008 pula, pemerintah daerah Provinsi Sumbar menunjuk sekolah “piloting” pendidikan Al­quran di 19 kota/kabupaten masing-masing satu sekolah dari tingkat SD, SMP hingga SMA dan SMK.

Tidak sampai di situ, perda tersebut juga ditin­daklanjuti dengan Peraturan Gubernur Provinsi Sumatera Barat Nomor 70 Tahun 2010 tentang Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Alquran dan Pergub Nomo 71 tentang Petunjuk Pelaksanaannya. Pada pasal 1 ayat (2) dite­gaskan pula bahwa “Ku­urikulum pendidikan Alqu­ran berlaku untuk seluruh wila­yah Provinsi Sumatera Barat dengan alokasi waktu mi­nimal dua jam pelajaran per minggu”.

Kurikulum tersebut telah terlaksana dalam tiga tahun terakhir. Namun dalam pelak­sanaannya sungguh mem­prihatinkan. Seakan Perda dan Pergub tersebut tinggal di atas kertas tanpa penga­walan/supervisi pelaksanaan yang ketat.

Hanya sejumlah kecil kota/kabupaten yang me­respon positif kebijakan tersebut.

Kota Padang Pan­jang merupakan kota yang paling pertama mengangkat CPNS formasi guru Pen­didikan Alquran, lalu diikuti oleh beberapa kota/kabupaten lainnya, seperti Dharmasraya, Solok, Pariaman, Pesisir Selatan, dan lainnya.

Tetapi beberapa kota/kabupaten lainnya kurang mem­per­hatikan kurikulum tersebut.

Lebih memprihatinkan lagi, masih terdapat sekolah yang ditetapkan sebagai “pi­loting” dan diberi bantuan dana justru menerapkan pen­didikan Alquran hanya seba­gai program pengembangan diri atau ekstrakurikuler. Akibatnya, hanya sedikit siswa yang mengikutinya karena program ekstra­ku­rikuler biasanya dianggap sebagai kegiatan minat siswa. Selain itu, ada pula sekolah piloting tersebut mene­rap­kannya sebagai muatan lokal, tetapi hanya 1 jam.

Padahal pelaksanaannya minimal 2 jam per minggu. Sejatinya sebagai sekolah piloting mesti menerapkannya sebagaimana yang diren­canakan sehingga dapat die­valuasi kelebihan dan keku­rangannya.

Apalagi sekolah piloting merupakan contoh bagi sekolah lain.

Di lapangan, justru pe­nulis temukan beberapa kasus yang saling menyalahkan. Terdapat pernyataan guru menyalahkan kepala seko­lahnya yang tidak bersedia menyediakan jam untuk pen­didikan Alquran tersebut. Kepala sekolah ada pula yang menyalahkan guru yang tidak berjuang di garda depan dalam menerapkannya.

Tidak itu saja, kepala dinas pen­didikan tingkat kota/kabu­paten pun sering disebut-sebut bertanggung jawab atas kurang terlak­sananya program tersebut di lapangan; dengan alasan tidak ada surat edaran atau sejenis instruksi lainnya.

Lain lagi dengan du­ku­ngan dari masyarakat, pen­didikan Alquran jarang terdengar menjadi topik pem­bicaraan, terutama di media massa.

Berbeda halnya dengan program pendidikan lainnya, seperti sekolah bertaraf inter­nasional, ujian nasional, pendidikan karakter, begitu gencar dibicarakan dan di­diskusikan.

Lagi-lagi kondisi ini cu­kup memilukan hati kita sebagai umat Islam. Seakan umat tidak lagi bangga dan tidak butuh dengan Alquran. Padahal, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal seyogyanya tidak saja ber­tanggung jawab mendidik kognitif anak.

Tetapi juga bertanggung jawab untuk mendidik sikap kebe­raga­maan mereka se­hingga men­jadi peserta didik yang be­riman, bertakwa dan ber­akhlak mulia, sebagaimana yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (pasal 3 UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003).

Jangan Mencari Kambing Hitam

Jangan saling menyalahkan dan mencari kambing hitam. Berbuatlah sesuai dengan tugas dan kapasitas kita masing-masing. Seandainya orang yang memperjuangkan pentingnya pendidikan Al­quran itu hanya 100 orang, maka kita masuk ke dalam kelompok itu.

Jika yang tinggal hanya 10 orang, kita pun berada di dalamnya.

Bahkan, sean­dai­nya cuma tinggal satu orang, maka kitalah yang satu itu. De­mikian sejatinya prinsip masing-masing pribadi seo­rang muslim dalam mem­perjuangkan Alquran di mu­ka bumi ini.

Sudah saatnya umat Islam bangun dan bangkit dari tidurnya yang panjang dengan kembali mempelajari Al­quran. Mempelajari Alquran tidak saja tugas para santri, siswa madrasah, tokoh agama atau alim ulama, tetapi men­jadi tugas dan kewajiban setiap manusia yang me­ngakui Islam sebagai aga­manya.

Semua pihak diharapkan mendukung pendidikan Al­quran, mulai dari rumah tangga, sekolah hingga ke­giatan-kegiatan ke­ma­sya­rakatan.

Tidak saja pemerintah, lembaga dan organisasi ke­masyarakatan pun diharapkan berperan aktif.

MUI, Mu­hammadiyah, NU, Tarbiyah Islamiyah, dan forum-forum dakwah serta ormas lainnya sejatinya turut aktif menyuarakan pentingnya pelaksanaan pendidikan Alquran.

Begitu pula partai-partai politik, terutama yang me­makai nama agama (baca: Islam) dalam visi misinya, mana suaramu menyerukan pentingnya pelaksanaan pen­didikan Alquran?

Jika pendidikan Alquran tidak lagi dipelajari, maka Alquran hanya menjadi kitab hiasan di lemari. Akibatnya, umat akan berada dalam kesesatan, hidup di bawah cengkraman syetan, dan jauh dari kebahagiaan yang se­sungguhnya.

Firman-Nya: Barangsiapa yang berpaling (menga­bai­kan) dari pe­nga­jaran Tuhan yang Maha Pemu­rah (al-Quran), kami adakan ba­ginya syaitan (yang me­nyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Qs. Az-Zukh­ruf/43: 46).

Tampaknya, gejala me­ngabaikan Alquran sudah demikian nyata di tengah-tengah masyarakat kita. Selain kasus di atas, perlu mela­kukan intropeksi bagi diri kita masing-masing, berapa ba­nyak waktu yang kita gunakan untuk membaca dan mem­pelajari Alquran.

Beda halnya ketika mem­baca koran, buku-buku bisnis dan hal-hal yang mendukung profesi kedu­niaan lainnya begitu serius kita mem­bacanya.

Jika hal ini terus berlan­jut, maka umat akan terus berada dalam keterpurukan. Sebab, jika umat mening­galkan Alquran ia akan terbelakang. Sejarah telah membuktikan bahwa ke­majuan umat Islam di masa keemasan dimotivasi oleh Alquran.

Sejumlah ilmuan sains di masa itu justru mencintai Alquran. Sebut saja Ibn Sina, misalnya, di usia 11 tahun ia telah hafal Alquran.

Gemar Mengaji Alquran

Selain dari Perda dan Pergub di atas, di akhir Mei lalu, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat juga meluncurkan program “Gemar (Gerakan Maghrib) Mengaji”.

Program ini juga dite­gaskan oleh Men­teri Agama RI, Suryadharma Ali pada Pembukaan Seleksi Tilawatil Qur’an Nasional  (STQN) ke XXI di Ban­jarmasin, Sabtu (5/6) lalu.

Program ini patut didu­kung oleh umat Islam. Be­tapa bahagianya suatu keluarga, meski sederhana, tetapi ayat-ayat Alquran dibacakan di dalam ru­mah­nya sehingga rumah tersebut bercahaya dan mendapat rahmat dan berkah dari Allah SWT. Sabda Nabi SAW: “Si­nari rumah-rumahmu dengan salat (sunat) dan membaca Alquran (HR. Baihaqi dari Anas ra.).

Tidak itu saja, orangtua akan memperoleh nikmat yang besar jika ia mendidik anaknya untuk membaca dan mengamalkan Alquran.

Sab­danya: Barang siapa mem­baca Alquran dan me­­nga­malkannya, maka—pada hari kiamat—akan di­pakaikan kepada kedua orang tuanya sebuah mahkota yang ber­kilau, yang sinarnya lebih baik dari sinar mentari, maka keduanya berkata: “Mengapa kami diberi mah­kota ini? Maka dikatakan: “Karena anakmu mengambil (membaca dan me­nga­mal­kannya) al-Qur`an”. [HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Al-Hakim)

Sebaliknya, meski rumah itu mewah tetapi ayat-ayat Alquran tidak pernah diba­cakan, maka rumah itu lak­sana kuburan, gelap dan jauh dari rahmat Allah.

Hal ini tersirat dalam sabda Rasulullah SAW: “Ja­nganlah kalian jadikan ru­mah-rumah kalian laksana kuburan. Sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah” (HR. Muslim nomor 280).

Agaknya, itu pulalah yang mengakibatkan sering ter­jadinya ketidakharmonisan dalam rumah tangga.

Padahal keluarga me­rupakan cer­minan dari suatu bangsa. Ketika keluarga-keluarga itu baik, harmonis dan mencintai Alquran, maka jelas akan me­nim­bulkan efek positif bagi masyarakat se­kitarnya hingga terbentuk suatu negara yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur.

Namun, Alquran kerap kali hanya jadi hiasan di lemari. Ia hanya digunakan ketika acara pernikahan atau adanya kematian di rumah tersebut. Memprihatinkan memang.

 

MUHAMAD KOSIM

(Mahasiswa Program Doktor IAIN IB Padang)

Comments (1)Add Comment
0
Salam Silaturahmi
written by string, September 10, 2011
Assalamualaikum wr. wb.

Salam Silaturahmi, semoga tetap Istiqomah selalu. Amiin

http://bimbelalquran.wordpress.com


Write comment

busy