Minggu, 26 May 2013

Warning: substr() expects parameter 3 to be long, string given in /home/harianha/public_html/components/com_jomcomment/views.jomcomment.php on line 264
Bilih Singkarak Bersaing dengan Bilih Toba PDF Cetak Surel
Sabtu, 11 Juni 2011 01:38

PADANG, HALUAN — Kini, ikan bilih singkarak bukan saja populasinya makin berkurang karena penangkapannya serampangan, tetapi ancaman juga datang dengan masuknya ikan bilih dari Medan dan pasar-pasar tradisional di pinggiran Danau Singgkarak.

Ikan bilih ini dibudidayakan masyarakat sekitar Danau Toba, Sumatera Utara ditengarai telah lama masuk ke pasar di Sumatera Barat. Ikan bilih merupakan endemik Danau Singkarak yang sebelumnya satu-satunya di atas bumi ini.  Demikian dikatakan Rektor Uninersitas Bung Hatta (UBH) Hafrijal Syandri yang juga peneliti bidang perikanan yang kini tengah giat melakukan penelitian tentang ikan langka ini.

“Sejak tahun 2001 lalu, telah dilakukan pengambilan bibit ikan bilih dari Danau Singkarak untuk disebarkan di Danau Toba. Setelah dibandingkan ternyata habitatnya cocok dan ikannya jauh lebih besar dari ikan yang ada di daerah asalnya sendiri,” jelas Hafrizal saat ditemui Haluan, Kamis (9/6).

Setelah diteliti ternyata hal ini tidak hanya berhubungan dengan habitat atau sifat alami yang ada di Danau Toba, tapi cenderung lebih dipengaruhi cara, waktu dan alat yang digunakan untuk penangkapan.

Dijelaskan Hafrizal, penangkap ikan di Danau Singkarak hingga saat ini masih menggunakan alat tangkap berupa jaring dengan lubang tiga perempat inci. Lubang yang sangat kecil ini cenderung membuat hasil tangkapan lebih banyak, namun menghambat pertumbuhan ikan. “Sebaiknya jaringnya diganti dengan jaring yang lubangnya 1 inci.”

Selain alat tangkap, waktu penangkapan juga menjadi faktor yang menyebabkan semakin menipisnya populasi ikan ini. Nelayan cenderung menangkap ikan sekali dalam sepuluh menit. Hal ini menyebabkan ikan tidak bisa berenang menuju muara sungai, tempat mereka memijah (bertelur).

“Jadi bukan berarti ikan tidak bisa besar, namun ketika ikan masih kecil cenderung sudah ditangkap. Selain itu tentu saja ikan-ikan itu tidak bisa memijah, karena belum sempat mereka menuju muara sungai tempatnya memijah, mereka sudah ditangkap,” tambahnya lagi.  Oleh karena itu, disarankannya, sebaiknya nelayan mulai membuat jeda penangkapan ikan, misalnya sekali dalam 30 menit.

Hal ini, sangat berbeda dengan sistem penangkapan di Danau Toba. “Penangkapan di sana dengan aturan yang jelas terkait waktu dan alat tangkap. Karena ada jeda penangkapan inilah ikan bilih Danau Toba cenderung lebih besar dari ikan bilih Singkarak,” jelasnya lagi.

Hafrizal yakin hal yang sama bisa dilakukan di Danau Singkarak jika tidak ingin populasi ikan ini benar-benar punah. Nagari-nagari di selingkaran Danau Singkarak seperti Muara Sumpur, Paninggahan, Saning Bakar, Sumani dan lain-lain juga harus mau berkomitmen untuk menjaga peraturan yang dibuat nanti.  “Jika perlu dibuat kawasan konservasi untuk tidak menangkap ikan. Jadi pemulihan penangkapan ini benar-benar bisa dilakukan,”tutupnya. (h/cw16)

Comments (1)Add Comment
0
...
written by string, Oktober 02, 2012
Saya sangat setuju dengan usulan ini ,,, Tapi kami sebagai nelayan kecil yang hidup bergantungan dari sana harus bagaimana untuk menghentikan nya menangkap ikan ,,,,,Terkecuali ada perhatian pemerintah terhadap kelangsungan hidup bagi kami masyarakat kecil di sekeliling danau singkarak ini.

Write comment

busy