Rabu, 03 September 2014
Camp Tambang Emas PT Geominex Dibakar PDF Cetak Surel
Jumat, 17 Juni 2011 02:30

AMUK MASSA PENAMBANG EMAS TANPA IZIN

SOLSEL, HALUAN — Ratusan orang masyarakat nagari Lubuk Ulang Aling, Kecamatan Sangir Batang Bari, Rabu (15/6) sore kira-kira pukul 17.30 WIB, mengamuk dan membakar dua kamp milik Geominex.

Peristiwa amuk massa ini merupakan kelanjutan dari aksi demo beberapa hari yang lalu agar masyarakat penambang emas tanpa izin (PETI) diizinkan kembali melakukan aktivitas tambang. Selain itu, masyarakat juga kesal dengan janji PT Geomi­nex yang akan memperlihatkan surat lega­litas mereka pada masyarakat, yang sampai sekarang tak pernah dipenuhi pihak Geominex.

Kapolres Solsel AKBP Djoko Trisulo, ketika ditemui Haluan Kamis (16/6) di mengatakanh, peristiwa amuk massa itu ber­langsung tidak terduga.

“Diperkirakan ratusan orang masyarakat datang dan langsung membakar dua kamp tersebut,” katanya. Enam orang petugas penga­manan, lanjut Djoko, tidak sanggup menahan amukan masa tersebut.

Tidak ada korban jiwa dalam pembakaran dua camp yang meru­pakan ruang peristirahatan, ruang rapat, dapur, dan segala kegiatan harian pegawai tambang Geominex. Untuk jumlah keru­gian material, Kapolres belum bisa memastikan. Akan tetapi diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

“Setidaknya di dalam camp tersebut ada timpek, mesin genset, televisi, mesin las, dinamo, sparepart kapal, barang perabotan, bensin-solar dan dokumen-doku­men milik Geominex. Kerugian miliaran rupiahlah,” terangnya

Pihak kepolisian, menurut Djoko, agak kesulitan dalam mencari informasi akibat jauhnya jalur menuju lokasi kejadian. Nagari yang merupakan batas kabupaten Solsel dengan Dhar­masraya itu pun harus ditempuh dengan beberapa jam perjalanan sungai. “Kami telah menurunkan 50 personil polisi sore kemarin, Wakapolres sampai sekarang (Kamis siang-red) masih di lokasi,” sebutnya.

Meski tidak ada korban jiwa, akan tetapi beberapa orang pekerja di Geominex lari ketakutan menuju hutan sewaktu kejadian itu. Mereka, yang sedang bekerja di kapal, ketakutan setelah meli­hat masyarakat membakar camp tempat tinggal mereka. “Yang lari diperkirakan 10 orang, lima warga negara asing (Cina) dan lima warga Indonesia,” terang Djoko.

Sampai saat ini, pihak kepo­lisian masih melakukan penye­lidikan dan pengembangan penye­bab terjadinya aksi massa dan pen­carian terhadap pekerja perusahaan yang lari ketakutan itu.

“Mereka dikabarkan sewaktu kejadian berenang menyeberangi Batang Hari, dan lari ke arah hutan. Pihak kami sedang menye­lusuri jejaknya,” jelas Djoko.

Pada Jumat lalu, jajaran Pemerintah Kabupaten Solok Selatan menggelar rapat dan menghasilkan keputusan yang tak memuaskan masyarakat. Kepu­tusannya adalah sistem “anak angkat” diterapkan antara masya­rakat yang digolongkan PETI dengan pihak PT Geominex. Ketidakpuasan itu dijawab dengan aksi massa pembakaran camp.

Sebelumnya, Rabu (15/6), di Kabupaten Sijunjung, ribuan penambang emas tanpa izin dari empat kecamatan, menggelar aksi unjuk rasa ke gedung DPRD setempat yang berujung pada tindakan anarkis.

Tiga anggota Kepolisian Resor Sijunjung terluka karena lemparan batu saat mengamankan jalannya aksi unjuk rasa tersebut. Selain itu, 12 kaca jendela gedung DPRD dan empat kaca jendela Kantor Satuan Polisi Pamong Praja juga ikut terkena lemparan batu pe­ngunjuk rasa. Tak hanya itu saja, satu orang karyawati Sekretariat DPRD bernama Intan pingsan saat aksi anarkis itu terjadi. (h/cw01)

Comments (1)Add Comment
0
berita
written by string, September 20, 2011
Beli solar aja yg bukan industri, tolong di proses itu

Write comment

busy