Rabu, 03 September 2014
Pendidikan Karakter dan Masyarakat Tanpa Sekolah PDF Cetak Surel
Jumat, 08 Juli 2011 02:34

Amat sering kita dengar bahkan hafal di luar kepala oleh kita  Firman Allah yang berbunyi: “Allah akan me­ngangkat martabat atau ha­rakat manusia beriman dan berilmu itu beberapa der­jat”. Lalu  lekat pula da­lam pikiran kita testi­mony Rasulllah SAW:  “me­nuntut ilmu adalah suatu kewaji­ban bagi kaum muslimin dan muslimat”; selan­jutnya, “tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai ke liang lahat”. Timbul pertanyaan, apakah menuntut ilmu itu harus masuk sekolah? Logika umum menja­wab, “tidak satu-satunya”.  Inilah yang menjadi obsesi Ivan Illich (1926 - 2002).

Dia  menjadi terkenal di tahun 1970-an dengan gugus pikirnya tentang Masyarakat Tanpa Sekolah (Deschoolling Society)

Ini merupakan bagian dari hasil penelitiannya yang cukup kontroversial dari lembaga Domentasi Antar Budaya (the Centre for Intercultural Documentation/CIDOC) di Cuenavaca, Meksiko sejak 1964. Penelitian dan seminar-seminarnya   diarahkan kepada “ Alternatif Kelembagaan dalam Masyarakat Tekonologi”.

Mengemukakan gagasan Deschoolling Society, tidak berarti Ivan Illich anti institusi pendidikan formal yang disebut sekolah. Dia sendiri belajar di lembaga yang disebut sekolah sampai universitas. Illich lahir di Wina pada tahun 1926. Dia belajar teologi dan filsafat di Universitas Gregoriana di Roma dan memperoleh gelar Ph.D. in history at the University of Salzburg. sejarah di Universitas Salzburg. He came to the United States in 1951, Dia datang ke Amerika Serikat pada tahun 1954, lwhere he served as assistant pastor in an Irish-Puerto Rican parish in New York City.alu menjabat sebagai asisten pendeta di Irlandia-Puerto Rico paroki di New York City.

From 1956 to 1960 he was assigned as vice-rector to the Catholic University of Puerto Rico, where he organized an intensive training center for American priests in Latin American culture.Dari 1956 sampai 1960 Illich bertugas  sebagai wakil rektor di Universitas Katolik Puerto Rico, di mana ia menyelenggarakan sebuah pusat pelatihan intensif bagi para pendeta Amerika dalam budaya Amerika Latin. Illich was a co-founder of the widely known and controversial Center for Intercultural Documentation (CIDOC) in Cuernavaca, Mexico, and since 1964 Dengan fokus khusus pada Amerika Latin, tulisan Illich telah muncul di The New York Review, The Saturday Review, Esprit, Kuvsbuch, Siempre, Amerika, Kesejahteraan Bersama, Epreuves, dan PS Tern Modernes.

Ada beberapa hal yang dikritik oleh Illich tentang kelembagaan sekolah. Anak-anak miskin di dunia ketiga Afrika, Asia, Amerika Tengah dan Amerika Latin sangat bingung menghadapi dunia pendidikan yang disebut sebagai sekolah. Baik proses bersekolah maupun isi pendidikan di sekolah.

Menurut saya, keritik ini amat terasa pula di Indonesia dari dulu bahkan sampai sekarang. Bahkan untuk bulan Juni dan Juli ini, bukan hanya anak-anak tetapi juga orang tuanya yang bingung, bahkan tertekan atau stress karena proses penerimaan murid,  siswa dan mahasiswa, yang kian canggih dan banyak hal yang berkaitan dengan itu. Belum lagi mulai bersekolah anak harus begini harus begitu, orang tua harus begini dan harus begitu, bayar ini dan bayar itu.

Kritik lain, Illich mengatakan bahwa  secara kasat mata, sekolah sudah menjadi industri jasa. Aspek ekonomi menjadi menonjol. Bukan saja dalam proses persekolahan  yang memang banyak tuntutan  materialnya, bahkan sekolah sudah dijadikan sebagai komoditas untuk mendapatkan ijazah dan menurut pandangan umum (common-sence) menjadi gerbang emas untuk bekerja dengan mendapat upah setinggi-tingginya.

Tokoh semacam Bill Gate, pencipta dan pemilik Microsoft yang tidak tamat kuliah atau non-schooling dan menjadi super kaya di dunia, tentulah sejemput gunung es di permukaan lautan samudera yang luput dari pandangan.

Beberapa kritik yang dalam versi lain, telah dikunyah-kunyah oleh pakar pendidikan bahwa anak yang hanya tersekolah tidak sejalan dengan konsep karakter sebagai anak yang terdidik.  Prof. Winarno Surachmad tahun 1970-an berpendapat seperti itu.

Dalam esainya, lebih jauh Illich  menunjukkan bahwa pelembagaan nilai pada lembaga sekolah mau tidak mau menyebabkan polusi fisik, polarisasi sosial, dan impotensi psikologis: tiga dimensi dalam proses degradasi global dan kesengsaraan modern.

Banyak lagi kritik  Ivan Illich yang mesti menjadi renungan manusia modern sekarang. Dan semua orang  dalam kesadarannya mesti ada yang pro dan kontra dengan kritik tersebut. Akan tetapi kenyataan selalu menunjukkan bahwa sekolah memang perlu, tetapi bukanlah satu-satunya upaya untuk menjadi terdidik. Talenta anak, kondisi keluarga, kerabat, lingkungan komunitas tempat tinggal, dan kondisi umat dan bangsa secara umum, pasti lebih besar sahamnya untuk keterdidikan anak-anak kita.

Seyogyanyalah Nabi Muhammad Rasullah SAW  menjadi teladan kita, bahwa  tujuan misi dakwahnya adalah menyempurnakan akhlak manusia supaya menjadi lebih mulia. Dengan begitu, rasanya misi dakwah Rasulullah sejalan, sama dan sebangun dengan inti tujuan pendidikan yang hendak kita capai: “karakter-mulia”. Maka akhlakul karimah atau pendidikan karakter, kini sedang  menjadi angan-angan kita. ***

Comments (2)Add Comment
0
...
written by string, Juli 09, 2011
pakar tata bahasa marah nih, kacau. penulis juga teledor, kutipan dalam bahasa inggrisnya muncul juga atau memang disengaja?
0
kutipan yang mengganggu
written by string, Juli 08, 2011
Ada kutipan dalam tulisan di atas. tidak jelas, apakah itu bagian dr tulisan (citation) atau yang lain. terimakasih.

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: