Rabu, 26 November 2014
Antisipasi Lonjakan Harga Jelang Ramadan PDF Cetak Surel
Sabtu, 09 Juli 2011 00:54

PADANG, HALUAN — Tim Pengelolaan Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat, terus berupaya melakukan antisipasi kenaikan inflasi menjelang Ramadan dan Lebaran tahun ini. Sebagai langkah awal, tim ini melakukan kunjungan lapangan ke Kabupaten Solok, Rabu (6/6) lalu.

“Kegiatan ini dilaksanakan sebagai antisipasi awal dalam memantau pasokan bahan pa­ngan dan harganya sebelum ma­suknya bulan puasa dan perayaan lebaran. “Setiap tahun ketika memasuki bulan puasa dan lebaran, biasanya terjadi fluktuasi harga. Kunjungan ini diharapkan sebagai langkah antisipasi dini terhadap potensi terjadinya fluktuasi inflasi,” kata Ke­tua Tim Teknis TPID Sumbar . Achmad Charisma, Ka­biro Pereko­no­mian Setda Pro­vinsi Sum­bar.

Dalam sia­ran persnya Ju­mat (8/7), Pe­ne­liti Ekonomi Muda BI Padang Gaffari Ramadhan menyebutkan  Kunjungan Tim Teknis ke Kab. Solok menjadi penting mengingat salah satu kontributor pendorong inflasi di Sumbar berasal dari kelom­pok bahan makanan, termasuk beras dan cabe. “Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian Kab. Solok, luas panen padi sepanjang Januari-Mei 2011 mengalami peningkatan 265 hektar dibandingkan periode yang sama tahun lalu, luas tanam padi meningkat 78 hektar, dan produksi padi meningkat 17.695 kuintal. Di atas kertas produksi beras menunjukkan surplus, namun karena kualitas beras Solok yang tinggi, sering dijual ke­luar,” kata Yunasman, Asisten II Bidang Ekonomi Pemba­ngunan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Solok.

Dalam pertemuan di­ung­kap­kan juga mengenai beberapa solusi untuk mengelola keterse­diaan pasokan dan menahan terjadinya fluktuasi harga bahan pangan. Pertama, perlu adanya kebijakan penetapan Harga Pokok Penjualan bagi komo­ditas lain selain beras yang seringkali mengalami fluktuasi harga tinggi, seperti cabe yang selama ini menjadi salah satu kontributor utama inflasi di Sumbar, begitupula untuk telur dan daging sapi. Kedua, revita­lisasi pemanfaatan resi gudang, sekaligus untuk menampung hasil produksi yang harganya sedang jatuh. Perlu adanya koordinasi yang baik dengan memanfaatkan Lembaga Distri­busi Pangan Masyarakat (LD PM). Ke­tiga, mendorong inves­tasi produksi yang menggu­nakan bahan baku dari hasil pertanian, seperti pabrik saus cabe botolan. Melalui produk olahan ini diharapkan petani mempunyai kepastian untuk menjual hasil produksinya. Keempat, diversifikiasi pangan dengan banyak menggunakan pangan lokal dan mengurangi konsumsi beras yang berle­bi­han. Konsumsi beras per kepala di Sumbar sebanyak 308 gram per hari. Kondisi ini sudah berada di atas ambang batas rata-rata normal (nasional) sebesar 280 gram/hari.

Selain itu, menjelang bu­lan puasa dan lebaran koordi­nasi antar Diskoperindag Pro­vinsi maupun Kab-Kota di Sum­bar harus semakin diinte­sifkan, serta pertemuan dengan para distributor bahan pangan sema­kin digalakan guna me­man­tau ketersediaan pasokan dan terken­dalinya harga di pasar. TPID Sumbar juga akan mela­kukan koordinasi wilayah dengan TPID provinisi di sekitar Sumbar, baik Riau, Jambi maupun Kepulauan Riau. (h/atv/*)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy