Kamis, 24 April 2014
Tunisia, Arab yang Amat Sekuler PDF Cetak Surel
Rabu, 19 Januari 2011 01:24

Tunisia atau secara resmi Republik Tunisia (al-Jumhûriyya at-Tûnisiyya ), adalah negara di Afrika utara. Ini adalah negara Maghreb (utara) dalam komunitas Islam dan ber­batasan dengan Aljazair di sebelah barat, Libya di tenggara, dan Laut Mediterania di utara dan timur. Luas wilayahnya hampir 165.000 kilometer persegi, dengan perkiraan po­pulasi lebih dari 10,3 juta. Namanya berasal dari ibukota Tunis terletak di utara-timur.

Bagian selatan negara ini terdiri dari gurun Sahara dengan masih banyak sisa berupa tanah subur dan posisinya 1.300 kilometer (810 mil) dari garis pantai. Setidaknya di masa lalu ada dua kota penting di Tunisia yang memainkan peran penting, pertama kota Fenisia terkenal dari Kartago, kemudian sebagai provinsi Romawi Afrika yang dikenal sebagai “keranjang roti” dari Roma.

Dalam sejarahnya Tunisia pernah diduduki oleh Vandal selama abad ke-5 M, Bizantium pada abad ke-6, dan Arab di abad ke-8. Di bawah Kekaisaran Ottoman, Tunisia dike­nal sebagai “Kabupaten Tunis”.

Setelah mendapatkan kemer­dekaan pada tahun 1956 negara ini mengambil nama resmi dari “Kera­jaan Tunisia” pada akhir peme­rintahan Lamine Bey dan Dinasti Husainid. Dengan proklamasi re­pub­lik Tunisia pada tanggal 25 Juli 1957, pemimpin nasionalis Habib Bourguiba menjadi presiden per­tama dan memimpin modernisasi negara. Presiden rezim otoriter Zine El Abidine Ben Ali memerintah mulai 1987 (yang kemudian me­larikan diri ke Saudi Arabia pekan lalu)

Tunisia, sebuah negara berorien­tasi ekspor dalam proses liberalisasi dan privatisasi ekonomi yang memi­liki rata-rata 5% pertumbuhan PDB sejak awal 1990-an, tapi negeri itu jadi morat-marit diporoti keluarga mantan presiden Ben Ali.

Tunisia memiliki hubungan erat dengan Uni Eropa - dengan siapa ia memiliki kesepakatan asosiasi - dan dunia Arab. Tunisia juga merupakan anggota Liga Arab dan Uni Afrika. Negeri ini  telah membangun hubu­ngan yang menguntungkan dengan Uni Eropa, dan dengan Perancis pada khususnya, melalui kerjasama ekono­mi, modernisasi industri, dan program privatisasi.Pendekatan peme­rintah dengan konflik Israel-Palestina juga mem­buatnya jadi  perantara pen­ting dalam diplomasi Timur Tengah.

Tunisia memiliki keanekara­gaman lingkungan yang besar ter­ben­tang dari utara ke selatan. Tapi ada perbedaan lingkungan yang be­sar antara utara dan selatan. Ada padang pasir juga ada salju.

Sahel, sebuah dataran pantai timur Mediterania Tunisia, adalah salah satu wilayah utama di dunia budidaya zaitun.  Tunisia memiliki garis pantai 1.148 kilometer (713 mil).

Iklim Tunisia adalah sedang di sebelah utara, dengan musim hujan ringan dan musim panas yang kering di selatan negara. Daerah di sebelah utara adalah pegunungan, yang bergerak ke selatan yang berdataran rendah serta padang pasir. Serang­kaian danau garam, yang dikenal sebagai chotts atau shatts, terdapat di garis timur-barat di tepi utara Sahara, membentang dari Teluk Gabes ke Aljazair. Titik terendah adalah Gharsah Shatt al, di 17 meter (56 kaki) di bawah permukaan laut dan tertinggi adalah Jebel ech Chambi, pada 1.544 meter (5.066 kaki).

Wilayah Tunisia memiliki bebe­rapa padang pasir, termasuk bagian dari Gurun Sahara di selatan. Di utara dan pertengahan lahan ini dikelilingi oleh Laut Mediterania.

Sebagian besar (98%) dari Tunisia modern dianggap sebagai Arab dan Berber Arab dan merupakan penutur bahasa Arab Tunisia. Na­mun, ada juga yang (% 1 paling) kecil populasi Berber terletak di pegu­nungan Jabal Dahar di tenggara dan di pulau Jerba, walaupun banyak lagi memiliki keturunan Berber. Berber terutama berbicara bahasa Berber, yang sering disebut Shelha.

Populasi Eropa sangat kecil (1%) sebagian besar terdiri dari Perancis dan Italia. Ada juga komu­nitas Yahudi di negeri ini. Sejarah orang-orang Yahudi di Tunisia dimulai sekitar 2.000 tahun. Pada tahun 1948 penduduk Yahudi adalah 105.000 diperkirakan, tetapi pada tahun 2003 hanya sekitar 1.500 saja.

Tunisia adalah rumah bagi popu­lasi besar Prancis dan Italia (255.000 Eropa tahun 1956), meskipun ham­pir semua dari mereka, bersama dengan penduduk Yahudi, pergi setelah Tunisia menjadi independen.

Konstitusi menyatakan Islam sebagai agama resmi negara itu dan mengharuskan syarat seorang pre­siden adalah muslim. Tapi sebenar­nya Tunisia juga menikmati tingkat signifikan kebebasan beragama, yang menjamin kebebasan untuk menja­lankan agama seseorang.

Negara ini memiliki budaya sekuler yang mendukung peneri­maan agama lain, kebebasan beraga­ma secara luas dipraktekkan. Sehu­bu­ngan dengan kebebasan umat Islam, pemerintah Tunisia telah mem­batasi mengenakan jilbab di kantor-kantor pemerintah. Pemerintah setempat menganggap jilbab adalah “pakaian asal luar negeri memiliki konotasi partisan”. Ada laporan bahwa polisi Tunisia melecehkan laki-laki dengan penampilan berj­anggut. Ada pria berjanggut yang  ditahan  dan kadang-kadang memak­sa orang untuk mencukur jenggot mereka.

Lebih kebangetan lagi kelakuan Presiden Ben Ali itu pada tahun 2006 menyatakan bahwa ia akan “melawan “jilbab, yang ia sebut sebagai” etnis pakaian “. Secara populasi mayoritas pen­duduk Tunisia (lebih dari 99%) ada­lah Muslim, sementara sekitar 0,25% Kri­sten dan sisanya (kurang dari 0,25%) mentaati Yudaisme atau agama lain.

Tunisia memiliki komunitas Kristen yang cukup besar sekitar 25.000 pengikut, terutama Katolik (22.000) dan ke Protestan tingkat yang lebih rendah. Yudaisme adalah agama ketiga terbesar dengan 1.500 anggota. Sepertiga dari kehidupan penduduk Yahudi di dan sekitar ibukota. Sisanya tinggal di pulau Djerba, dengan 39 rumah ibadah.

Djerba, sebuah pulau di Teluk Gabes. Di sini terdapat rumah ibadah Yahudi, Ghriba El, yang merupakan salah satu rumah-rumah ibadah tertua di dunia. Banyak orang Yahudi menganggapnya sebagai tempat ziarah, dengan perayaan setiap tahun. Bahkan, Tunisia bersa­ma dengan Maroko telah dikatakan negara-negara Arab yang paling menerima populasi Yahudi mereka.

Selain berbahasa Arab dan Arab-Tunis, masyarakat Tunisia juga berbahasa Prancis. Ini karena Tunisia adalah bekas pendudukan Pe­rancis, maka Perancis juga memain­kan peran utama di negara ini, walaupun tidak memiliki status resmi. Hal ini banyak digunakan dalam pendidikan (misalnya, seba­gai bahasa pengantar dalam ilmu-ilmu di sekolah menengah), pers, dan dalam bisnis. Kebanyakan war­ga Tunisia dapat berbicara itu. Ka­rena kede­katan Tunisia ke Italia dan jumlah besar Tunisia Italia, maka bahasa Italia juga dipahami dengan baik dan dituturkan oleh penduduk Tunisia.

Pendidikan warga Tunisia cukup kuat. Diantara negara-negara Afrika, negeri ini relatif baik pendidikan mereka. Pendidikan diberi prioritas tinggi dan menyumbang 6% dari GNP. Sebuah pendidikan dasar untuk anak-anak usia antara 6 dan 16 sudah wajib sejak tahun 1991. Tunisia peringkat 17 dalam kategori “kualitas (tinggi) sistem pendi­dikan” dan peringkat 21 dalam kategori “kualitas pendidikan das­ar” dalam The Global Competitiveness Report 2008-9 yang dirilis oleh The World Economic Forum.

Sementara anak-anak umumnya memperoleh pelajaran bahasa Tunisia Arab di rumah, ketika mereka masuk sekolah pada usia 6, mereka diajarkan untuk membaca dan me­nulis dalam bahasa Arab Standar. Sejak usia 8, mereka diajarkan Perancis sedangkan bahasa Inggris diperkenalkan pada usia 12.

Setidaknya ada enam perguruan tinggi terkenal di negeri Ben Ali itu, Ecole Polytechnique de Tunisie,  Universitas Internasional Tunis,  Université de Tunis, Université de l’Aviation Technologie et de Tunisie, Institut d’Nasional Agronomie de Tunis dan Université des Sciences de Tunis. (eko/dari berbagai sumber)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: