Sabtu, 01 November 2014
Pembunuh Mahasiswi STKIP Dihukum Mati PDF Cetak Surel
Jumat, 29 Juli 2011 03:14

PADANG, HALUAN — Ade Saputra panggilan Putra alias Ucok (26) divonis mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Padang dalam sidang Kamis (28/7). Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana terhadap mahasiswi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pengeta­huan (STKIP) PGRI di Gunung Pangilun Padang, Siska (19)  pada tanggal 19 April lalu.

Selain itu, Ade juga dinyatakan ter­bukti menyetubuhi korban yang dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya.

Perbuatan terdakwa melanggar pasal 340, 280 dan 362 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Vonis mejelis hakim yang diketuai Mukhtar tersebut sama dengan tuntusan Jaksa Penbuntut Umum (JPU) Zulkarnain dan Silvia dalam sidang sebelumnya, Selasa (12/7) lalu.

Menurut majelis hakim, perbua­tan terdakwa bertentangan dengan Hukum Adat Minangkabau, karena telah melakukan tikam bunuh dan pencurian, sekaligus saat yang sama membuang mayat Siska ke banda seperti membuang bangkai binatang yang tak berharga.

Mendengar putusan tersebut, terdaklwa yang awalnya duduk dalam posisi menunduk, lalu  mene­gakkan kepalanya. Mulutnya seolah-olah ingin bergerak dan mengatakan sesuatu.

Saat itu hakim belum mem­berikan kesempatan pada terdakwa untuk menyampaikan apa yang akan dikatakannya sebab hakim masih membacakan penutup dari berkas tuntutan itu.

Kemudian hakim ketua mena­nyakan kepada terdakwa apakah ia akan menerima hukuman terse­but, apakah menolak atau pun pikir-pikir dulu selama waktu dua minggu yang disediakan.

“Saudara terdakwa boleh mene­rima keputusan ini, boleh menolak serta mengajukan banding ke Penga­dilan Tinggi,” kata Mukhtar.

“Saya pikir-pikir dulu pak,” kata terdakwa dengan meneteskan air mata, yang diiringi dengan ketukan palu hakim pertanda ditutupnya sidang tersebut.

Ricuh Lagi

Seperti sidang-sidang seblumnya, sidang pembunuhan mahasiswa STKIP ini tetap ricuh. Keluarga korban masih saja memburu terdak­wa ketika baru datang atau akan mening­galkan Pengadilan Negeri Padang.

Fadli, adik dari almarhum Siska mengerang kesakitan ketika berusaha hendak menghajar terdakwa Ucok yang digiring petugas setelah sidang dari dalam ruang sidang ke mobil tahanan. Ia mengaku “didongkak” petugas.

Hal itu membuat emosi pihak keluarga lainnya menjadi meledak. Mereka pun sama-sama mencari gara-gara dengan 275 personil kepolisian yang ditugaskan untuk mengamankan situasi saat itu.

Bentrok antara pihak keluarga dan petugas kepolisian yang terdiri dari Polresta Padang, Polsek Padang Timur, Satuan Brimob dan Gegana pun nyaris terjadi.

Untung saja tidak satu pun petugas kepolisian yang melepaskan pukulan, walaupun sempat didorong-dorong keluarga korban.

Kronologis Pembunuhan

Jumat 19 April lalu, Putra mengajak pacarnya (korban Siska) ke rumahnya yang berada di Pincuran Tujuh Kelurahan Kalumbuk Keca­matan Kuranji Kota Padang, untuk minum segelas air yang dihidangkan oleh adik terdakwa.

Setelah itu korban diajak Putra ke sebuah musala (surau) tua yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah Putra.

Dalam pembicaraan di surau tuo itu, Putra mengakui kepada korban wahwa ia telah memiliki pacar selain korban, namanya Irda.

Mendengar pernyataan itu, kor­ban yang merasa dipermainkan oleh Putra langsung marah dan mencaci-maki pacarnya itu.

Kalau tau parangai ang mode iko ndak namuah den pacaran samo ang,” kata Siska seperti  dijelaskan Jaksa.

Mendengar perkataan Siska tidak membuat Putra takut. Malahan dia mengajak korban untuk melakukan hubungan intim. Korban menolak. Tapi Putra tidak menyerah. Ia pergi ke rumahnya dan meninggalkan korban sendirian di surau tuo.

Beberapa saat kemudian Putra kembali lagi ke surau menghampiri korban dengan membawa sepucuk linggis (sulo) mengupas kelapa yang diselipkan di pinggangnya. Pe­ngakuan terdakwa di persidangan sebelumnya, linggis itu rencananya hanya untuk memukul korban hingga pingsan.

Hal itu benar dilakukan Putra sesampai dekat korban. Dia memutar dan memukul kepala korban dari belakang sebanyak dua kali hingga pingsan. Setelah itu terdakwa me­nyeret korban ke semak-semak yang berada tidak beberapa jauh dari samping surau dan di sana korban melampiaskan birahinya terhadap korban yang sedang pingsan. Ketika tengah melakukannya, korban terjaga dan memberontak.

Jaksa mengatakan, terdakwa waktu itu membalikkan badan korban dan memukul rusuk   sebelah kanan Siska hingga berdarah-darah. Setelah itu Ade menusuk rusuk sebelah kiri korban sebelah kiri sebanyak tujuh kali dengan membabi buta. Melihat korban masih bernafas, Putra pun menusuk rusuk sebelah kanan korban sebanyak dua kali hingga korban tewas. (h/dfl)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy