Selasa, 02 September 2014
PENGUASA LALAT: MEMBACA HARAPAN ANAK-ANAK INGGRIS PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Haluan   
Minggu, 31 Juli 2011 00:00

Jika iya, dalam jangka waktu berapa lama mereka mampu bertahan dan apa yang mereka lakukan hingga terhindar dari kematian. Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang ada di kepala saya ketika membaca keterangan pengantar novel Penguasa Lalat yang tertera di cover belakang novel karya Wiliam Golding ini.

Novel Penguasa Lalat (Penerbit BACA!, Yogyakarta, 2011) adalah sebuah novel yang bercerita tentang petualangan yang mendebarkan dari sekelompok anak sekolah Inggris yang terdampar di sebuah pulau akibat pesawat yang mereka tumpangi tertembak dan terbakar.

Uniknya, diantara mereka yang selamat tidak terdapat seorang pun lelaki atau perempuan dewasa. Pilot dan awak pesawat yang membawa anak-anak tersebut tidak diketahui rimbanya.

Berada di sebuah pulau tanpa didampingi oleh orang dewasa serta tanpa perlengkapan apa pun, membuat anak-anak yang terdampar di pulau tropis tersebut berusaha mencari pertolongan.

Novel Penguasa Lalat ini mengawali cerita dengan menggambarkan bagaimana upaya seorang anak berambut pirang menerobos ranting-ranting dan pepohonan untuk dapat keluar hutan, tempat dimana ia terlempar dari kabin pesawat. Anak berambut pirang tersebut bernama Ralph. Berusia dua belas tahun. Ia terus berusaha merangkak naik diantara tanaman menjalar dan batang pohon ketika seekor burung berwarna merah dan kuning mendadak terbang dengan pekik melengking yang kemudian diikuti oleh pekik burung-burung lainnya. Di sekelingnya terbentuk cekungan panjang bekas hantaman pesawat ke hutan rimba tersebut.

Tak jauh dari tempat Ralph berdiri, terlihat seorang anak gendut penderita asma bernama Piggy. Keduanya tak saling kenal. Jika Ralph dan Piggy berada ditempat yang sama, itu disebabkan saat pesawat mengalami kerusakan keduanya sama-sama terlempar ke dalam hutan yang sama sekali belum pernah mereka kunjungi.

Piggy yang menggunakan kaca mata digambarkan sebagai anak yang penuh dengan analisa. Dengan kekuatan analisanya, Piggy meyakini bahwa di pulau tersebut tidak hanya ada dirinya dan Ralph. Ia meyakini masih ada sekian anak lagi yang terdampar di pulau tersebut.

Saat keduanya telah keluar dari hutan dan berada di tepi pantai, Piggy menemukan sebuah kerang berukuran besar. Piggy meminta Ralph untuk memanggil anak-anak lain yang diyakininya berada disekitar mereka dengan cara meniup kerang besar tersebut. Analisa Piggy benar. Begitu kerang tersebut ditiup oleh Ralph, seorang anak keluar diantara pohon-pohon kelapa, sekitar seratus meter dari arah pantai. Umurnya kira-kira enam tahun. Lalu diikuti anak-anak lainnya.

Hal tersebut membuat Ralph semakin bersemangat meniup kerang. Sebab ia melihat telah ada kehidupan di pulau tersebut. Terlebih lagi ketika semakin keras kerang ditiup maka semakin banyak anak laki-laki berjalan menuju pantai.

Namun, saat semua anak telah berkumpul di tepi pantai, sebersit kecewa terbit diantara mereka. Kecewa itu dikarenakan mereka mendapati tak ada seorang pun perempuan atau lelaki dewasa diantara mereka. Jika tak ada orang dewasa, itu artinya anak-anak tersebut harus mengurus diri mereka sendiri sampai datang sebuah pertolongan.

Di sini uniknya anak-anak Inggris tersebut, meski bersulam kecewa karena tak mendapati seorang pun lelaki atau perempuan dewasa diantara mereka, anak-anak Inggris tersebut tetap menjaga harapan agar mendapat pertolongan sesegera mungkin. Meski tak semua anak menyumbang pikiran dalam mencari jalan keluar, tetapi tak seorang anak pun tampak menangisi keadaan.

Galibnya anak-anak yang gemar bermain, dalam kondisi yang tak pasti akan datangnya pertolongan, anak-anak Inggris tersebut masih bisa bergembira bermain dan berlarian di tepi pantai berpasir. Tetapi anak-anak tersebut tak melulu bermain, karena fokus utama anak-anak tersebut adalah mengurai kebuntuan dan mencari solusi mengenai apa yang harus dilakukan agar mereka segera diselamatkan. Tindakan pertama yang mereka lakukan adalah memilih siapa diantara mereka yang tepat untuk dijadikan pemimpin. Setelah melakukan urun rembuk, Ralph terpilih sebagai ketua dari anak-anak tersebut.

Ralph yang ditemani oleh dua rekannya—Jack dan Simon, kemudian memutuskan untuk mencari tahu apakah daerah yang tengah mereka tempati adalah benar sebuah pulau yang dikelilingi laut atau tidak.

Caranya dengan menelusuri tepi pantai hingga gunung. Dari hasil penelusuran Ralph dan dua rekannya, sebuah kesimpulan tercipta, bahwa benar tanah yang sedang mereka pijak adalah sebuah pulau yang diputus laut dan tanpa penghuni—kecuali hewan-hewan liar dan aneka tumbuhan.

Ralph lalu menginstruksikan agar sesegera mungkin menyalakan api di atas gunung, sebagai tanda bahwa ada kehidupan di pulau tersebut. Hal ini dimaksudkan jika sewaktu-waktu ada kapal yang melintasi pulau yang mereka huni, maka akan menjadi isyarat, dan bocah-bocah tersebut bisa segera diselamatkan.

Namun, laiknya anak-anak yang lebih menyukai bermain, tak banyak yang memiliki jalan pikiran seperti Ralph. Ketika menjaga api agar terus menyala,  bocah-bocah tersebut dihinggapi jenuh. Termasuk Jack yang lebih menyukai berburu babi.

Ketika giliran Jack menjaga api, ia justru berburu di hutan. Hal tersebut memantik kemarahan Ralph dan melampiaskannya saat Jack pulang berburu. Begitu melihat Jack, Ralph serta merta menumpahkan kekesa­lannya. Menurut Ralph, kemarahannya beralasan.

Sebab api yang sudah disepakati agar terus dijaga justru padam ketika sebuah kapal melintas di depan pulau tersebut. Harapan agar segera diselamatkan seketika mengem­pes.

Ralph yang telah dipilih sebagai pemimpin merasa pantas memberi ‘teguran’ kepada Jack yang dianggapnya melanggar ‘aturan’. Namun, Jack tidak sepakat dengan Ralph.

Menurutnya api bisa dihidupkan kembali dan Ralph tak perlu mengeluarkan kemarahan. Perdebatan yang terjadi antara Ralph dan Jack tersebut kemudian menjadi awal pertentangan selanjutnya. Yang kemudian menciptakan sikap permusuhan oleh Jack terhadap Ralph.

Cerita dalam novel pemenang nobel sastra 1983 ini jika diibaratkan sebagai sebuah pemerintahan, seorang Jack dapat lah digambarkan sebagai pemimpin partai oposisi. Jack menjadi penentang utama terhadap ‘kepemimpinan’ Ralph. Dan dengan kemahirannya berburu menjadi senjata utama bagi Jack untuk meruntuhkan ‘kekuasaan’ Ralph.

Hasil buruan Jack saat dibagi-bagikan kepada anak-anak tersebut, seperti sembako yang dibagi-bagikan oleh pemerintah kepada ‘rakyat’nya.

Melihat bagaimana perseteruan perebutan ‘kekuasaan’ oleh Jack terhadap Ralph, tidak lah berlebih jika kemudian novel Penguasa Lalat ini dikatakan sebagai sebuah novel yang mengekspos dualitas sifat manusia, yaitu kesenjangan antara ketertiban dan kekacauan, kecerdasan dan naluri, struktur dan kebiadaban.

Aturan-aturan yang diciptakan Ralph—dan telah disepakati bersama, menunjukkan betapa anak-anak Inggris tersebut menginginkan sebuah ketertiban sekalipun mereka berada di sebuah pulau yang tanpa aturan.

Namun, ketika terjadi pembangkangan terhadap aturan-aturan yang telah dibuat maka menimbulkan kekacauan. Kecerdasan anak-anak Inggris tersebut  dapat dilihat dari bagaimana mereka berpikir agar bisa bertahan hidup dan tidak putus asa mencari cara agar segera diselamatkan. Namun, kecerdasan yang dimiliki anak-anak tersebut kadangkala bertabrakan dengan naluri atau keinginan untuk bermain dan berburu.

Lalu, dengan dipilihnya pimpinan kelompok dan adanya pembagian tugas untuk melaksanakan sesuatu serta aturan agar tidak melakukan sesuatu menunjukkan betapa anak-anak Inggris tersebut mencoba tetap terstruktur di tengah kekalutan. Namun, kebiadaban juga terlihat ketika Jack berhasil memengaruhi sebagian anak untuk melakukan penyerangan terhadap kelompok Ralph yang berujung pada kematian Piggy.

Meski telah membaca novel ini hingga tuntas, tetapi tak mampu menjawab tanya yang menyeruak di kepala saya mengenai dalam rangka apa anak-anak Inggris tersebut beper­gian menggunakan pesawat namun tidak didampingi oleh guru atau orang tua. Yang lebih mengherankan, anak-anak tersebut banyak yang tidak saling kenal. Meskipun begitu, novel ini tetap dapat dinikmati sebagai novel petua­langan dalam bentuk yang paling murni. Di samping itu, membaca novel yang dipilih oleh majalah Time sebagai salah satu dari 100 novel berbahasa Inggris terbaik 1923-2005 ini kita akan disuguhi sebuah pesan mengenai betapa pentingnya menjaga sebuah harapan. Karena dengan harapan seseorang akan mampu bertahan meski berada ditem­pat dimana tak ada tanda-tanda kehidupan. Selamat membaca!

Padang, 25 Juli 2011

Oleh ( Desi Sommalia Gustina )

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy