Kamis, 23 May 2013

Warning: substr() expects parameter 3 to be long, string given in /home/harianha/public_html/components/com_jomcomment/views.jomcomment.php on line 264
MENELUSURI TAMAN KASANG KULIM PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Teguh   
Minggu, 31 Juli 2011 00:20

TINA AJARKAN KASIH SAYANG

Setengah jam waktu yang dibutuhkan dalam perjalanan dari pusat Kota Pekan baru menuju Taman Wisata dan Margasatwa Kasang Kulim, Pekanbaru, Riau. Anda akan diajak menembus Jalan Kaharuddin Nst.

Sesampai di persimpangan kawasan Pasir Putih saya terus menyusuri jalan yang lurus. Di Simpang Kubang Raya, saya berbelok ke kanan. Dan saya telah meninggalkan Kota Pekanbaru dan semakin dekat menuju Kebun Binatang Ka­sang Kulim. Ya, tentu saja kebun binatang itu berada di kawasan Kasang Kulim.

Saya disambut gerbang de­ngan replika patung gajah dan relief-relief di salah satu din­ding, menggambarkan se­orang gadis yang melepaskan ber­bagai jenis satwa semisal ga­jah, harimau, singa, rusa, je­rapah, orangutan, kanguru dan je­nis unggas menu­ju kapal ke­berang­katan. Di relief beri­kut­­­nya, sebuah taman satwa me­nung­gu kapal tersebut berla­buh.

Dengan harga tiket Rp13 ribu (dewasa) dan Rp6 ribu (anak-anak), bakal disuguhkan peman­dangan yang misterius. Di jalan setapak, saya belum menemukan apa-apa. Tetapi, setelah saya menyusuri jalan menembus goa pendek, berba­gai satwa menga­wasi langkah kaki saya.

Terdengar suara dendang lagu Minang merangsek dari kantin Nila bersama semilir angin. Nila tampak terkantuk-kantuk dengan bertumpu pada tangannya.

Satwa Mengawasi

Beberapa ekor kelelawar menatap saya dalam keadaan terbalik. Matanya hitam menya­la. Juga beberapa ekor siamang yang tersudut karena pengun­jung usil. Seekor macam akar berteduh di kandang sempit sambil menga­wasi gerik pe­ngun­jung. Dia memastikan tak seorang pun mengusiknya.

Saya menyeberangi jembat­an kayu yang berderik, mem­belah danau buatan jadi dua. Beberapa ekor rusa bawean (axis cuhli) bertumpuk dalam kediamannya. Beberapa meter dari sana, dua ekor buaya air tawar irian (crocodylus novae­guineae) tampak tenang di dalam kolam. Seolah tak ada tanda-tanda kehidupan di kandangnya. Di sebelahnya, seekor singa siap menerkam siapa saja yang sangat dekat dengannya.

Mau lihat yang imut-imut? Melangkahlah terus ke depan. Seekor iguana yang gemar mema­kan serangga kecil bere­nang di kolam dangkal. Di seberangnya, seekor kakaktua berbulu putih dan sedikit kuning bertengger memandangi danau.

Untuk melengkapi liburan anak-anak, tersedia kolam renang, bianglala dan berbagai jenis pero­sotan dan ayunan. Berkeliling ke­bun binatang dengan kuda tak ada salahnya juga. Anda akan dapat menyak­sikan elang bondol (halias­tur indus) mengawasi dari keting­gian. Dua kakinya dengan kokoh mencengkeram batang yang rebah.

Basri, penjual es krim roti telah lama mengais rezeki di kebun binatang tersebut. Dia dengan santai melenggang di antara binatang buas dan satwa liar yang terkurung di dalam kandang. “Kalau sudah sore saya berjualan di pasar kaget,” tutur lelaki asal Pariaman ini.

Tak jauh, tampak seekor orangutan (pongo pygmaeus) berukuran raksasa sedang diman­dikan oleh salah seorang pekerja. Dia tampak senang sekali. Di ujung kebun bina­tang, dua kan­dang memuat beberapa ekor beruang madu (helarctos melaya­nus). Bebera­pa di antaranya sedang sibuk berguling-guling, yang lainnya tidur dengan pasrah.

Juga beberapa unggas lain­nya, seperti enggang rangkung (buce­ros), kasuari dan ayam mutiara (gallus sonneratii) yang mondar mandir dengan cepat. Menyergap apa saja yang mendekat ke mulut kandang. “Kalau gajah masih kita lepas di hutan belakang kebun ini. Kalau hari Sabtu dan Minggu, barulah kita perlihatkan,” tutur Agus, pawang orangutan.

Kasih Sayang

Sebut saja Tina (22 Kg), seekor orangutan yang menga­jar­kan kita tentang cinta kasih. Tina gemar sekali berguling-guling di taman. Dia dilepaskan Agus begitu saja, tetapi tetap dalam pengawa­san. Jika Anda mengulurkan tangan ke hadapan Tina, maka dia akan meraih tangan itu dan mengajak Anda berkeliling taman.

Apapun makanan yang dibe­rikan akan dia sambar dengan tulus. Tapi jangan beri Tina kacang. Dia akan sakit perut karenanya. Memang, bau tubuh Tina persis seperti bau manusia yang tidak mandi selama seminggu. “Ya meski­pun Tina dimandikan tiga kali sehari, bau badannya tetap begitu juga,” ungkap Agus.

Beberapa saat kemudian, seorang ibu mengulurkan ta­ngan­­nya. Hap! Tina meraih tangan itu. Ibu mengajak Tina berbelanja es krim. Tentu saja Tina senang dan meraih es krim dengan segera. Setelah itu, Tina berguling lagi dan lagi. Lalu, sejurus kemudian, dai memeluk tubuhnya sendiri.

“Kalau siang Tina kita lepas­kan, sore kita masukkan dia ke kandangnya lagi.”

Terus Direnovasi

Berdiri sejak tahun 1991, Kebun Binatang Kasang Kulim terus direnovasi oleh pengelo­lanya, Desprianto. Saat ditemui Haluan, Rabu (6/7), Desprianto sedang khusyuk membersihkan dan merenovasi kandang ular sanca. Beberapa pekerja lain juga mem­bantunya.

Tampak sejauh mata me­man­­dang, tumpukan batu bata me­rah siap untuk membendung pagar pem­ba­tas yang akan segera direalisasikan men­jelang le­baran tahun ini. Kebun Binatang Kasang Kulim meru­pakan satu-satunya kebun binatang di Pekanbaru. Secara turun temurun, Desprianto me­warisi hobi orangtuanya yang mencintai binatang.

Dari situ, Desprianto belajar mencintai binatang dengan tulus ikhlas. Di tanah seluas 14 hektare, ada sekitar 20 jenis binatang yang dirawat di sana. Mulai dari siamang, macam akar, ular sanca, buaya,  be­ruang madu, gajah, rusa, landak, kuda, singa, kuda nil, sampai pelbagai jenis unggas.

Meskipun dalam tahap reno­vasi, Desprianto berharap peme­rintah dapat memberikan perha­tian dan pembinaan terhadap kebun binatang yang dikelolanya. Di luar jenis binatang yang merupakan warisan orangtua dan sum­bangan masyarakat, Kebun Binatang Kasang Kulim juga tergabung dalam Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indo­nesia (PKBSI) dan di bawah naungan BKSDA, sehingga Desprianto mendapat bantuan binatang dengan sistem barter.

Pada Sab­tu dan Minggu, dok­ter dari Dinas Pe­ternakan datang mengecek kon­disi bina­tang di Kebun Bina­tang Ka­sang Kulim. Cua­ca buruk dan kela­laian petugas men­jadi pe­nentu kehi­du­pan satwa yang ada di dalam­nya. “Ka­mi mem­berikan ma­kan yang tera­tur,” ungkap Desprianto. ***

LAPORAN:    DELVI YANDRA

Comments (1)Add Comment
0
...
written by string, April 23, 2013
kembangkan terus keberadaan krkb. kasangkulim .maju terus

Write comment

busy