Kamis, 02 Oktober 2014
Keluarga Siap Datangkan Marlon PDF Cetak Surel
Selasa, 09 Agustus 2011 02:21

ASAL SESUAI PROSEDUR HUKUM

PADANG, HALUAN — Keluarga Marlon Martua menyatakan siap mendatangkan mantan Bupati Dharmasraya itu untuk menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumbar asal ada jaminan dari Kajati pemeriksaan sesuai prosedur hukum. Mereka menilai  pemeriksaan kasus dugaan korupsi yang melibatkan Marlon Martua terkait unsur politis.

Hal itu dikemukakan istri Marlon Martua,  Rafnelly Rafki, didampingi anaknya Annisa Suci Ramadhani, serta kuasa hukumnya Akhmad Muthosim dan Fauzi Jurnalis, saat menggelar konfrensi pers di Hotel Mercure Padang, Senin (8/8).

Rafnelly yang bia­sa dipanggil Neneng Mar­­lon ini juga me­minta,  pemeriksaan tidak te­bang pilih, fair dan bukan karena ada per­mintaan dari pihak-pihak tertentu. “Kami menilai  Sum­bar Fach­mi tidak pro­fesional dan diduga ini meru­pakan kelanjutan dari intrik dalam pemenangan Bupati Dharmasraya periode 2010-2015, Adi Gunawan, yakni berupa black campaigne (kampanye hitam) un­tuk men­jatuhkan Mar­lon,” kata Rafnelly.

Ia mengatakan, ka­sus ini sengaja digiring sejak Marlon Martua mencalonkan diri un­tuk yang kedua kalinya sebagai Bupati Dhar­masraya. Tujuannya, agar Marlon tak ter­pilih lagi.  Sejak itu pihak keluarga sudah mulai curiga, kalau ada yang memesan khusus, agar karakter Marlon dimatikan, sehingga tidak terpilih dalam Pilkada 2010.

Menurut Neneng, upaya penga­ngan kasus ini, kuat ada dugaan politis di dalamnya. Neneng melihat ada hubungannya dengan naiknya Adi Gunawan sebagai Bupati Dhar­masraya yang baru. Intrik serupa juga terlihat ketika Fachmi mencalon sebagai pimpinan KPK.

Dia menceritakan,  saat Marlon menjabat Bupati Dharmasraya, pada tahun 2004-2009, banyak prestasi yang diraihnya. Salah satunya menja­dikan Kabupaten Dharmasraya sebagai daerah pemekeran terbaik se-Indonesia. Kenyataannya, hanya beberapa hari setelah itu, Kejaksaan Negeri (Kejari) Pulau Punjung, langsung menetapkan beberapa pejabat Dharmasraya sebagai ter­sang­ka dalam dugaan korupsi mark up tanah pembangunan RSUD Sungai Dareh.

Neneng yakin,  Marlon tidak bersalah dalam kasus itu. Menu­rutnya, Marlon sudah melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai Bupati Dharmasraya. Untuk itu, Neneng meminta Kejati Sumbar melihat kasus itu dengan jernih. “Kami bukan keluarga penjahat dan tidak mungkin melakukan hal-hal yang di luar ketentuan, apalagi sampai korupsi” tegas Neneng.

Sementara itu kuasa hukum keluarga Marlon,  Akhmad Mu­thosim juga menilai, penetapan tersangka untuk Marlon, serta upaya penangkapan yang dilakukan, tidak wajar. Sebelum jadi tersangka, Marlon hanya diperiksa 1,5 jam di Kejari Pulau Punjung sebagai saksi.

“Marlon belum pernah diperiksa di Kejati Sumbar, tiba-tiba saja, pada 30 Mei 2011, melalui surat panggilan SP-244/N.3.5/Fd. 1/05/2011, Marlon disuruh datang ke Kejati Sumbar pada 15 Juni sebagai tersangka. Itu kan aneh. Tanggal 14 Juni datang lagi surat yang sama dengan nomor panggilan yang berbeda. Diikuti panggilan ketiga. Marlon tidak datang bukan karena ingin mangkir, tapi dia sakit. Besok (hari ini-red) saja mau dioperasi,” ujar Muthosim yang bernaung di Law Firm J&P, Jakarta.

Kejati sama sekali tidak mengin­dahkan sakit yang diderita Marlon. Hal itu terbukti dengan keluarnya surat perintah penangkapan berno­mor PRINT-370/N.3/Fd.1/07/2011. “Tindakan itu gegabah dan terburu-buru, serta prematur secara hukum karena Marlon belum pernah dipe­riksa di tingkat Kejati,” jelasnya.

Selain itu upaya tim Kejati Sumbar yang datang ke rumah sakit, sewaktu ayah Marlon dirawat juga dianggap tidak etis. “Datangnya malam, sekitar pukul 23.00 WIB. Padahal, orang lagi sakit. Nilai kerugiannya juga dikatakan berbeda-beda. Ada yang menyebut Rp3,6 milir, Rp6,1 miliar, bahkan ada Rp19 miliar,”  tambah Muthosim.

Soal kedatangan tim Kejari ke Pekanbaru ini dijelaskan Neneng Marlon, bahwa sekitar tanggal 17 Juli lalu, orang tua Marlon Martua meninggal di Pekanbaru. Menurut keluarga di sana, sebelum orang tua Marlon meninggal beberapa orang jaksa sudah berseliweran mencari Marlon di rumah sakit tempat ayah Marlon dirawat begitu juga di rumah duka.

Kedatangan jaksa adalah untuk menangkap Marlon. “Namun jaksa tak bisa menunjukkan surat penang­kapan terhadap Marlon. Kebetulan memang saat itu Marlon tidak berada di sana,” kata Neneng.

Anak Marlon Martua, Annisa Suci Ramadhani  juga mengaku sedih menyimak kasus yang menim­pa ayahnya. “Ayah saya tidak salah. Ini hanya bentuk penzaliman. Sekarang ayah sakit. Saya minta pemeriksaan dilakukan setelah ayah sehat,” pinta Annisa yang biasa dipanggil Caca ini.

Menurut Caca yang saat ini mengenyam di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, ayahnya sakit bukan sesuatu yang dibuat-buat, tapi memang kenyataannya begitu. Ayah­nya diketahui sudah menjalani pengobatan sejak lama dan sampai saat ­ini pun masih menjalani pengo­batan,  serta sudah  beberapa kali  operasi penyempitan syaraf dan operasi jantung di Jakarta. “Saat ini ayah, bahkan tengah menunggu operasi yang keempat kalinya,”  jelasCaca.

Sementara itu terkait kasus yang dituduhkan kepada Marlon, Akhmad Muthosim dan Fauzi Jurnalis meni­lai, tidak ada kerugian negara dalam pembelian tanah yang akan dijadikan lokasi RSUD Sungai Dareh tersebut. Marlon juga tidak terlibat langsung dalam pembangunan. “Proyek ini merupakan  kerja sama pusat dengan daerah. Pemkab Dharmasraya hanya penyedia tanah. Harga yang ditetap­kan Rp8,4 miliar itu sudah jauh lebih kecil dari harga yang ditentukan tim independen PT Servindo Putra Pratama, yakni Rp14,3 miliar,” ujar Muthosin.

“Ternyata, hal ini tetap dijadikan bahan penyelidikan oleh Kejari Pulau Punjung. Meski BPKP juga sudah berpendapat tidak ada kerugian negara dalam pengadaan tanah tersebut,” jelasnya.

Sementara itu Kajati Sumbar Fachmi yang dihubungi Haluan malam kemarin, mengaku tidak akan terlalu menggubris tudingan dari keluarga Marlon Martua terhadap dirinya. “Itu semua bohong, hukum tak mungkin dipolitikkan,” ujarnya.

Fachmi menjelaskan, penetapan tersangka terhadap Marlon sudah sesuai prosedur hukum. “Untuk menetapkan tersangka itu, tentunya kita telah punya minimal dua alat bukti,” ujarnya.

Menurut Fachmi, jika memang Marlon merasa  tidak bersalah, datang saja. “Kan ada pengacaranya. Kalau memang sakit, berikan surat yang pas­ti, jelaskan sakitnya dan  di mana di­rawat, sehingga kita bisa men­da­tanginya ke sana,” ujar Fachmi. (h/ynt)

Comments (5)Add Comment
0
maju teruuuuuussssss
written by string, Agustus 09, 2011
salut buat Pak Bagindo Fahmi, jangan genthar apalagi takut Pak, Kami menunggu kerja keras Bapak membersihkan Sumatera Barat dari perbuatan korupsi, harapan dan do'a kami bersama Bapak.
0
minang dirantau
written by string, Agustus 09, 2011
untuk komisi kejaksaan..Kejari Pulau Punjung sebaiknya di panggil dan diperiksa, informasi dari rakyat dharmasraya khusus kotobaru ada kongkalingkong antara orang tua adi gunawan dgn kejari pulau punjung.
Fahmi..kenapa sdr Busro Sek.Da Dhamasraya status tersangka tidak ditindak lanjuti.
0
minang merantau
written by string, Agustus 09, 2011
Fahmi2..ado apo dgn orang tua adi gunawan..sbg minang dirantau telah sukses utk menggagalkan fahmi jadi anggota KPK. Ingek pasan bundo kanduang siapa yang menebar dia akan menuai.
0
...
written by string, Agustus 09, 2011
Sekalipun ahli di bidang hukum, mgkn bisa menang di dunia, tapi di akhirat.belum tentu.. Jadilah penegak hukum yang objektif Dan tidak tebang pilih..o ya walikota pariaman ipar pak fahmi ya, kok tdk berani diperiksa padahal jelas ada kerugian negara
0
org kayak fahmy..kan mencle2..mana mau ngaku salah..nggak takut punya nasib kayak cyrus? he he
written by string, Agustus 09, 2011
Fahmy..itu type ngotot tp bersalahan..ntar kayak cyrus sinaga mau..ngecek2 surang..kacian dech elo..hati2 aja jgn dikirain semut diinjak diem terus ntar gigit bangkak ajo..

Write comment

busy