Selasa, 23 September 2014
Pemilihan Guru Berprestasi PDF Cetak Surel
Kamis, 11 Agustus 2011 03:20

Pemilihan guru berprestasi merupakan salah satu kegiatan nasional yang terus dilaksanakan setiap tahunnya dalam rangka peringatan HUT Kemerdekakan Republik Indonesia.

Kegiatan ini diseleng­garakan oleh Kementrian Pendidikan Nasional mulai dari tingkat sekolah hingga ke tingkat nasional dan diikuti oleh guru-guru di setiap jenjang pendidikan, dari TK hingga SLTA.

 

Lomba pemilihan guru berprestasi ini dulunya bernama lomba pemilihan guru teladan. Namun karena adanya kritikan bahwa setiap guru harus men­jadi teladan, maka kemudian lomba ini berubah nama men­jadi lomba pemilihan guru berprestasi. Pemenang lomba ini di tingkat nasional selalu diundang untuk menghadiri upacara peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indo­nesia di Istana Negara. Bahkan mereka juga diundang meng­hadiri sidang paripurna bersama DPR dan DPD RI dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik In­donesia.

Bagi guru, pemilihan guru berprestasi sesungguhnya meru­pakan salah satu ajang paling bergengsi dalam dunia pen­didikan Indonesia saat ini. Sebab, iven ini merupakan satu-satunya even resmi yang dise­lenggarakan pemerintah untuk memilih guru berprestasi di tingkat nasional. Karena itu, menjadi guru berperestasi merupakan sebuah pencapaian yang sangat patut untuk dibang­gakan dan didambakan guru. Apalagi mereka yang terpilih menjadi guru berprestasi ting­kat nasional pada hakekatnya “dinobatkan” sebagai guru-guru terbaik di antara sekitar tiga juta guru Indonesia saat ini.

Memotivasi

Bila menengok pada mutu pendidikan nasional saat ini yang masih belum memuaskan, maka urgensi lomba pemilihan guru berprestasi ini semakin amat penting. Dengan adanya lomba ini diharapkan guru-guru semakin termotivasi untuk mengabdikan diri secara lebih tekun, lebih gigih untuk berkarya, berinovasi dan ber­prestasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak saja bagi guru-guru yang mengikuti lomba ini, namun juga bagi guru-guru lain tentu juga diharapkan turut “terbakar” semangatnya agar juga bisa menjadi guru berprestasi di masa mendatang. Atau dengan kata lain, lomba ini diharapkan mampu membangun budaya berprestasi di kalangan guru.

Dari perspektif ilmiah, pentingnya pemilihan guru berprestasi juga sejalan dengan beberapa teori psikologi, misalnya saja menurut teori Maslow, seseorang berprilaku karena didorong oleh berbagai kebutuhan hidup individu mulai dari kebutuhan fisik, rasa aman, sosial, penghargaan dan aktualisasi diri.

Menurut teori ini, seseorang akan termotivasi salah satunya karena adanya penghargaan.  Dengan demikian, pemilihan guru berprestasi pada dasarnya juga merupakan salah satu bentuk penghargaan pemerintah terhadap prestasi kerja guru. Atau dalam bahasa Mendiknas, “untuk membangun budaya apresiatif”. Dengan adanya penghargaan pemerintah terha­dap guru berprestasi ini, maka diharapkan guru semakin termotivasi untuk mende­dikasikan dirinya dalam men­cer­daskan kehidupan bangsa.

Lalu, sudah sejauh manakah pemilihan guru berprestasi telah turut memotivasi dan menginspirasi guru-guru untuk terus bekerja keras, berkarya, berinovasi dan berprestasi dalam mencerdaskan bangsa? Agaknya ini adalah sebuah pertanyaan yang menarik untuk dicermati. Sebab, menurut hemat penulis tujuan pemilihan guru berprestasi nan mulia ini sepertinya masih belum sesuai dengan yang diharapkan.

Di antara indikator belum berpengaruhnya pemilihan guru berprestasi  dalam memo­tivasi guru untuk berprestasi dapat dilihat dari masih cukup ba­­­nyak­nya guru yang tidak tahu dan tidak peduli dengan kegiatan ini. Mereka tidak tahu tentang apa, siapa, kapan, dimana, dan bagaimana pemili­han guru berprestasi ini. Dan kalaupun tahu, mereka juga tidak “ber­selera” untuk meng­ikutinya. Lantas, bagaimana mungkin mengharapkan kegia­tan ini bisa memotivasi guru untuk ber­prestasi, bila guru-guru sendiri tidak tahu dan tidak peduli dengan kegiatan ini.

Selain guru, sebagian kepala sekolah juga terlihat kurang antusias mengirim guru-guru terbaik mereka untuk meng­ikuti lomba ini di tingkat yang lebih tinggi. Boleh jadi ini sebagai cerminan kurangnya kepedulian mereka terhadap kegiatan ini. Atau mungkin juga mereka yang tidak berpar­tisipasi ingin menyampaikan pesan pada dunia, “guru-guru kami belum ada yang ber­prestasi”.

Sebagian guru mungkin ada yang berpendapat bahwa tugas guru bukan untuk berlomba, tapi untuk mencerdaskan anak bangsa. Dan tanpa ada pemilihan guru berprestasipun guru tetap harus selalu berprestasi. Pendapat itu me­mang betul, namun dengan adanya pemilihan guru ber­prestasi setiap tahunnya tentu guru seharusnya lebih termo­tivasi untuk berprestasi.  Bangsa ini mungkin akan lebih cepat maju bila para guru berlomba-lomba untuk berprestasi dalam mencerdaskan bangsa. Apalagi di tengah mutu pendidikan nasional kita yang masih belum terlalu memuaskan. Lantas, mengapa lomba pemilihan guru berprestasi belum mampu memompa semangat guru untuk berprestasi?

Menurut hemat penulis, di antara penyebab belum me­nginspirasinya lomba ini bagi guru untuk berprestasi adalah karena belum dikemasnya lomba ini secara apik sehingga belum terlihat sebagai sebuah ajang yang prestisius dan bergengsi di mata guru. Contoh sederhananya ialah tidak ada­nya publikasi yang baik tentang lomba ini, baik sebelum, sedang atau sesudah lomba berlangsung. Akibatnya tidak banyak guru-guru yang tahu tentang “aturan main” pemi­lihan guru berprestasi ini. Selain itu, guru yang terpilih menjadi guru berprestasi juga hanya menjadi manusia hebat yang tidak banyak dikenal orang, sehingga juga tidak bisa menginspirasi banyak orang.

Kurang seriusnya pihak sekolah dalam melakukan pemilihan guru berprestasi di tingkat sekolah juga turut melemahkan pencapaian tujuan lomba ini agar guru-guru termotivasi untuk berprestasi. Kebanyakan sekolah hanya “main tunjuk” saja dalam menetapkan guru berprestasi tanpa didahului oleh sebuah kompetisi yang sehat di antara sesama guru. Akibatnya guru tidak merasa tertantang dengan adanya lomba ini. Selain itu, sikap guru yang sering acuh tak acuh serta tidak memiliki mental untuk berkompetisi dan berprestasi juga turut membuat lomba pemilihan guru ber­prestasi ini tidak banyak berarti bagi peningkatan kinerja guru.

Tentulah sangat ironis bila lomba pemilihan guru ber­prestasi yang seharusnya men­jadi ajang prestisius dan ber­gengsi di mata tiga juta guru Indonesia, ternyata dalam realitanya hanyalah sebuah kompetisi yang “sunyi” yang tidak banyak memberi arti bagi peningkatan motivasi kerja guru dan sekaligus bagi peningkatan kualitas pendidikan bangsa. Agaknya dunia pendidikan perlu merasa iri dengan kesuk­sesan stasiun televisi swasta dalam melahirkan “manusia-manusia juara”, sekalipun hanya melalui kemasan acara “kompetisi tarik suara”. Kema­san acara ini tidak saja mampu “menghipnotis” jutaan pemirsa dan sekaligus menghantarkan juaranya menjadi “idola” baru yang dikenal masyarakat, namun juga mampu menggaet sponsor untuk memberikan reward yang menggiurkan. Al hasil, ribuan anak muda berebut ingin berpartisipasi dalam kompetisi ini setiap tahunnya.

Untuk meningkatkan mak­na pemilihan guru berprestasi ini, agaknya semua guru, kepala sekolah, dan pemerintah (dinas pendidikan) perlu mening­katkan keseriusan dan profe­sionalisme dalam mengemas agenda tahunan ini di masa mendatang. Publikasi yang lebih luas dan reward yang lebih menggairahkan merupa­kan di antara hal-hal yang agaknya perlu ditingkatkan.

Tidak ada salahnya, mela­lui pemilihan guru berprestasi ini para guru memperoleh reward yang mampu mening­katkan kualitas hidup dan sekaligus mengubah nasibnya. Misalnya saja dengan menjadi guru berprestasi guru bisa mendapatkan beasiswa S2/S3 atau bisa naik haji gratis, atau bahkan memperoleh sebuah rumah. Tentu tidak mustahil ada banyak pihak ataupun sponsor yang mau “bersimpati” pada nasib “Oemar Bakri” apabila mereka telah berpres­tasi dalam mencerdaskan bangsa.

Selain itu, pemilihan guru berprestasi juga perlu mendapat perhatian dari berbagai media. Sekalipun para guru tidak berniat untuk menjadi selebritis, namun guru-guru berprestasi ini perlu dipublikasikan me­lalui berbagai media agar mereka juga dikenal masyarakat agar kebanggaan mereka seba­gai guru berprestasi akan semakin berarti. Apalagi dite­ngah semakin sulitnya mencari orang-orang yang bisa menjadi inspirasi saat ini. Kehadiran guru berprestasi diharapkan bisa menginspirasi banyak orang untuk turut memper­sembahkan karya terbaik bagi bangsa ini. Semoga! Wallahu a’lam bishshawab.

 

JUNAIDI

(Guru SMPN 35 Padang, Alumni S.2 Quality Assurance dan School Leadership di Ohio State University, USA)

Comments (2)Add Comment
0
http://www.chanelbagsshop.us
written by string, Oktober 10, 2012
vyyjpk Many smart senior people (un-named because their companies are involved in this snake-oil sale) have confirmed this for me, saying "sentiment analysis software? don't bother",chanel online shop www.chanelbagsshop.us 639676
0
...
written by string, April 07, 2012
bener banget pak ! saya juga prihatin, dengan mental guru sekarang ! yang ikut ajang perlombaan ini, justru hanya dipandang sebagai guru yang menyengsarakan diri sendiri !karena apa, sudah susah payah mempersiapkan diri sampai berani modal sendiri, tapi tidak ada reward yang berarti ! semoga pemerintah segera memperhatikan kondisi ini. krn ajang gupres tiap tahun tambah sepi peminat.





































Write comment

busy