Rabu, 03 September 2014
Film Dokumenter Berawal dari Propoganda PDF Cetak Surel
Sabtu, 22 Januari 2011 01:25

Ketika berbicara film dokumenter di Indonesia mungkin tidak sejelas kalau berbicara film fiksi. Bagi orang awam, film dokumenter adalah film hitam putih, dan juga film yang berbicara mengenai kenyataan tapi kemudian timbul pertanyaan mengenai seperti apa kenyataan itu. Sejarahnya, dokumenter itu sangat kelam sekali, berawal dari kolonialisme.

Ketika Belanda mulai memperkenalkan filmnya, yang sekarang dikenal dengan layar tancap di daerah Kebon Ka­cang, belakang Hotel Indo­nesia-Jakarta, merupakan film dokumenter pertama kali yang diperkenalkan pada 5 Desem­ber 1900 di Batavia (Jakarta), lima tahun setelah film dan bioskop pertama lahir di Peran­cis. Film pertama di Indonesia ini adalah sebuah film doku­menter yang menggambarkan perjalanan Ratu Olanda dan Raja Hertog Hendrik di kota Den Haag.

Ketika film cerita yang di impor dari Amerika di putar pertama kali di Indonesia pada tahun 1905, film-film produksi pemerintah kolonial saat itu masih berupa film doku­menter. Saat itu banyak diproduksi film-film dokumenter yang tujuan­nya memang propaganda. Dalam hal ini film dokumenter itu bisa menjadi media pem­belajaran yang bersifat pence­rahan, tapi juga bisa mem­berikan pemahaman yang justru manipulatif. Misalnya, dari tujuan untuk memberikan visi baru atau pemahaman baru, tetapi sebenarnya film dokumentar bisa menjadi suatu upaya propaganda untuk me­manipulasi fakta yang ada.

Pada perang dunia ke-2, Adolf Hitler (pemimpin NAZI Jerman, Red) sangat piawai dalam menciptakan film doku­menter menjadi satu mitos dunia. Sedangkan di Indonesia, film – film dokumenter Be­landa jelas mempro­pagan­dakan keindahan Hindia-Belanda kepada rakyatnya sendiri, bahwa di Indo­nesia tidak ada pende­ritaan dan hidupnya bagai di surga. Itu contoh dari mani­pulatif film doku­menter menjadi tujuan propaganda.

Pada tahun 1905 ini juga mulai masuk film-film dari Cina (Tiongkok) melalui China Moving Picture. Dua film Tiongkok pertama adalah Li Ting Lang yang bercerita tentang revolusi di China dan Satoe Perempoean Yang Ber­boedi. Sebagai catatan seluruh film yang diputar hingga tahun tersebut masih berupa film bisu.

Film Indonesia pertama kali diproduksi pada tahun 1926 adalah film bisu. Pada tahun 1931, film Indonesia yang bersuara diproduksi oleh Tans Film Company bekerja sama dengan Kruegers Film Bedrif di Bandung dengan judul Atma de Vischer. Selama kurun waktu itu (1926-1931) seba­nyak 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi. Pada tahun 1941, tercatat sebanyak 41 judul film yang diproduksi. Terdiri dari 30 film cerita dan 11 film yang bersifat doku­menter. Nama-nama Roekiah, Rd Mochtar dan Fifi Young sangat populer pada masa itu.

Di tahun 1942, produksi film anjlok. Hanya 3 judul film yang diproduksi. Hal ini ten­tunya berkaitan dengan masuk­nya pendudukan Jepang di Indonesia yang melarang akti­vitas pembuatan film. Pendu­dukan Jepang mendirikan Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Sidhoso) yang di dalam­nya ada Nippon Eiga Sha yang mengurusi bagian film. Selama masa pendudukan Jepang inilah, film mulai secara terang-terangan digunakan sebagai alat propaganda politik. Film yang di­putar, se­lain film do­kum­en­ter Jepang yang menonjolkan “ke­ga­­gahan” Jepang, juga film-film Jerman yang adalah sekutu Jepang. Film Amerika dilarang beredar. Namun pendudukan Jepang masih sedikit berbaik hati dengan memberikan ke­sem­patan kepada kaum pri­bumi untuk mempelajari tek­nik pembuatan film.

Kemudian masuk ke za­man Orde Lama. Di Zaman Orde Lama ini film dokumenter masih bersifat propaganda, tapi untuk tujuan atau membangun nasionalisme di Indonesia. Di Orde Baru, pada zaman ini film dokumenter juga masih bersifat propaganda dan itu sangat jelas, sehingga masya­rakat umum sampai tidak tahu kalau itu namanya film do­kumenter. Pada era ini, film dokumenter di­pa­hami secara sempit seba­gai film seja­rah, film flo­ra dan fauna, dan terutama film penyuluhan dan propaganda pemerintahan orde baru, yang mengi­sah­kan melulu kesuk­sesan program-pro­gram pemerintah dan penanaman kebencian terhadap mereka yang tidak bersetuju dengan pemerintah.

Dalam perfilman di In­donesia di era ini, ada be­berapa film yang berhasil membuat trauma kolektif yang panjang karena telah masuk kewilayah politik yang sangat kontrofersial. Bahkan beberapa film tersebut sempat menjadi rujukan bagi kebenaran sejarah oleh banyak kalangan. Sebut saja film Janur Kuning, Enam Jam di Yogja, G 30/S PKI dan Serangan Fajar adalah beberapa contoh film docudrama politik yang cukup kontrofersial. Bahkan Film Pengkhianatan G 30S/ PKI adalah salah satu film yang telah berhasil mem­pengaruhi publik selama berta­hun-tahun. Film docudrama yang berduransi 271 menit tersebut semula berjudul Se­jarah orde Baru. Namun karena beberapa alasan, judul tersebut diganti menjadi seperti apa yang selama ini diketahui.

Film Dokumenter Indonesia Modern

Jika meninjau Film Doku­menter Indonesia yang telah berkembang pesat dalam dasa­warsa terakhir ini, di mulai pada akhir 1990-an film doku­menter bergerak secara dina­mis, antara lain mewujud dalam bentuk film advokasi sosial-politik, film seni dan ekspe­rimental, film perjalanan dan petualangan, film komunitas, dan terutama sebagai media alternatif di bidang seni audio-visual bagi anak muda, Film dokumenter mewujud menjadi satu genre seni audio visual yang memiliki sifat demokratis sekaligus personal.

Dengan ruang kreativitas yang terbuka luas, yang tidak terbatas sebagai produk industri media dan hiburan, film doku­menter memberi kesempatan kepada semua orang untuk menampilkan diri, baik sebagai film memunculkan karya yang unik, orisinil dan khas, yang tidak terkerangkeng oleh stereo­type karya-karya film dari dunia industri hiburan. Dengan karakteristik yang demikian itu, film dokumenter menjadi karya yang bersifat alternatif, baik dari segi ideologi, isi, maupun bentuk, sehingga mampu me­na­rik minat masyarakat umum dan terutama anak muda.

Jika sebelumnya pemutaran film dokumenter di TV, mas­yarakat lebih mengetahuinya sebagai film penyuluhan atau program penyuluhan, dan tidak mengetahui kalau itu film dokumenter yang berbentuk propaganda atau rekayasa dari film dokumenter, menjelang akhir kekuasaan Orde Baru, Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T Achnas membuat doku­menter seri berjudul ‘Anak Seribu Pulau’. Meskipun kon­sepnya film dan ditayangkan di televisi, film dokumenter tersebut merupakan nafas baru bagi dunia dokumenter di Indonesia. Film tersebut hanya di istilahkan saja dokumenter televisi dan dokumenter film.

Saat itulah Mira dan kawan-kawan mampu menembus hegemoni televisi untuk mena­yangkan film dokumenter ke seluruh televisi. Salah satu dobrakan yang perlu di acung­kan jempol. Kemudian seorang Tino Sawunggalu membuat sebuah film dokumenter yang mampu menembus jaringan bioskop. Filmnya yang berjudul ‘Student Movement’ adalah sebuah film mengenai peristiwa Mei 1998.

Saat ini di Indonesia , film dokumenter memang masih dilihat sebagai proyek rugi, karena biaya pembuatannya besar tapi tidak bisa dijual. Proses pembuatannya minimal 1-2 tahun. Jadi hanya produser-produser yang idealis yang membuatnya. Biasanya yang mensponsori adalah lembaga donor luar maupun dalam negeri. Tayangan Discovery-National Geography dimana semua dokumenter ada di situ, sebenarnya dapat di jadikan inspirasi bagi Indonesia di mana mereka mau dan berani investasi di documenter. Point a view mereka adalah memiliki arsip visual mengenai dunia nantinya. Menjadi agak dra­matis kalau anak cucu bangsa Indonesia ingin mengetahui atau menonton kesenian Dayak harus membeli di Discovery, karena Indonesia tidak memi­liki dokumentasi visualnya lagi.

Dewasa ini di media te­levisi, film dokumenter me­mang menjadi semakin ber­kem­bang walau membuat rancu sendiri. Namun demikian masih ada juga yang tetap berada di jalurnya, dan men­distribusikan filmnya ke festival atau TV asing. Sebuah Festival yang cukup besar dan bergengsi di Belanda adalah International Documentary Festival Amster­dam (IDFA) yang menjadi pelopor festival dunia untuk dokumenter. Dalam Festival ini berbagai jenis kriteria penilaian untuk film doku­menter di berikan penghargaan.

Namun demikian, saat ini perkembangan Film Doku­menter Indonesia menjadi semakin dinamis yang di tandai dengan tumbuhnya komunitas – komunitas film di seluruh pelosok Nusantara. (adk/dari berbagai sumber)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: