Rabu, 22 Oktober 2014
Rumah Puisi Taufik Ismail Belum Dimanfaatkan PDF Cetak Surel
Senin, 24 Januari 2011 00:19

PADANG PANJANG, HALUAN — Rumah Puisi Taufik Ismail (RPTI), meskipun sejengkal jaraknya dari Kota Padang Panjang, namun belum banyak dimanfaatkan oleh jajaran pendidikan dan masyarakat Padang Panjang.

Hal itu terungkap dari perca­kapan Haluan dengan pengelola Rumah Puisi, Subhan, Sabtu (22/1) lalu. Diungkapkannya, meskipun telah berdiri sejak tahun 2008, baru tercatat tiga sekolah dari Padang Panjang yang mendatangi Rumah Puisi yaitu Diniyyah Puteri, Pesan­tren Serambi Mekah dan SMA 1 Padang Panjang.

Padahal Rumah Puisi itu sengaja dibangun oleh sastrawan dan budaya­wan Taufik Ismail di Aie Angek, Kecamatan X Koto Tanahdatar, sebagai sumbangan dan baktinya bagi pengembangan pendidikan sastra di Ranah Minang.

Rumah Puisi dibangun sebagai pustaka dan tempat pelatihan guru-guru untuk pengembangan minat baca dan kesusasteraan khususnya di Sumatera Barat.

Dalam percakapan terpisah de­ngan Taufik Ismail beberapa wak­tu lalu diungkapkannya, Rumah Pui­si itu dibangun atas saran iste­rinya ketika ia mulai memikir­kan kemana kelak akan diwariskan­nya seluruh buku-buku yang dimiliki­nya.

Semula ia akan memberikannya kepada Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tapi atas saran isterinya, akhirnya dibangunlah Rumah Puisi itu di Aie Angek, kampung halaman Taufik Ismail, sekitar tiga kilometer di luar Kota Padang Panjang. Lokasinya sangat strategis, di pinggir jalan raya antara Padang Panjang dengan  Bukittinggi.

Dijelaskan oleh Subhan, untuk mendorong masyarakat dan peme­rintah daerah memanfaatkan Rumah Puisi, sejak setahun lalu pihaknya telah menawarkan program kerja­sama kepada seluruh daerah kota dan kabupaten di Sumatera Barat untuk pelatihan guru-guru bahasa bagi pengembangan pendidikan dan pengajaran sastra.

Sebab, seperti sering diungkapkan sendiri oleh Taufik Ismail dalam berbagai kesempatan, ia merasa prihatin dengan rendahnya minat baca serta keterampilan kesu­sas­tera­an pelajar di Indonesia.

Meskipun Taufik Ismail telah ‘menjerit’ kesana–kemari agar masalah minat baca ini menjadi perhatian bersama, ternyata sejauh ini belum ada lembaga yang berkom­peten menanggapinya dengan serius.

Subhan mengungkapkan, dari Padang Panjang baru satu kali Walikota Padang Panjang Suir Syam berkunjung ke Rumah Puisi. Pejabat lainnya, yang pernah sekali pula berkunjung adalah Ridwan Idma, Sekretaris Dinas Pendidikan Padang Panjang.

Rumah Puisi dibangun tahun 2007 oleh Taufik Ismail dilengkapi dengan ruang diskusi dan ruang baca. Kini tercatat sekitar 7.000 judul buku dengan jumlah sekitar 11.000 eksemplar. Sejak tahun lalu, Rumah Puisi ditunjang dengan Rumah Budaya yang dibangun oleh Fadli Zon yang juga dikenal sebagai penggiat sastra dan pemimpin majalah Horizon, Jakarta.(h/dds)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy