Kamis, 24 April 2014
Peranan RRI di Era Reformasi PDF Cetak Surel
Kamis, 15 September 2011 02:10

Ketika kemarin, Kepala Lembaga Penyiaran Publik (LPP() Radio Republik Indonesia Padang, Eddy Supakat bertandang ke Harian Haluan dalam rangkaian peringatan Hari Radio ke 66, terdapat dialog yang intens antara kedua pihak. Bahwa Radio, adalah media yang dengan spesifikasi bebas hambatan ruang dan waktu, sangat pas untuk menjadi media pemersatu bangsa.

Dengan usianya yang sama dengan usia repoublik ini, RRI telah memainkan peranannya menjadi bagian tak terpisahkan untuk menyatukan komponen bangsa ini dari Sabang hingga Merauke.

Dalam kurun waktu selama itu jugalah RRI ikut serta dalam pasang surutnya negeri ini tanpa pernah absen dan selalu menyertai panggilan tugas sejarahnya dari masa ke masa sejak masa menegakkan kemerdekaan NKRI, mempertahankankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan mengarungi masa Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba) serta sampai pada Era Reformasi saat ini.

Tapi harus diakui juga bahwa dinamika dan perkembangan RRI sebagai media elektronik sedikit banyak akan mengekspresikan juga dinamika dan perkembangan masyarakat dan negeri Indonesia di mana RRI itu hidup dan berkembang mengikuti dinamika masyarakatnya sendiri.

Seperti apa dinamika RRI itu?

Ini dapat kita lihat dari  perubahan yang fundamental RRI dalam tataran sejarah media massa di Indonesia, yaitu eksistensi RRI saat ini sebagai Lembaga Penyiaran Publik.

RRI yang lahir, tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan negerinya sendiri merupakan indikator dari dinamika dan perkembangan masyarakatnya sendiri. Pertumbuhan masyarakat terefleksikan pada pertumbuhan media RRI. Namun betapapun daya refleksi media RRI dan masyarakat, tetap saja gambaran refleksi dinamika dan pertumbuhan media RRI dan masyarakat tidak selalu bisa pas, tidak kurang dan tidak lebih, atau sama dan sebangun.

Pada suatu periode sejarah 66 tahun RRI tercatat, perkembangan masyarakat dari sisi stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi masyarakat negeri Indonesia yang begitu pesat dan menakjubkan serta membawa Indonesia pada predikat Masyarakat Ekonomi Baru di kawasan Asia. Namun pertumbuhan ekonomi dan masyarakat yang demikian ternyata tidak terefleksikan secara liniair pada dinamika media RRI pada saat itu.

“Dinamika media RRI dalam konsepsi Karen Siune dan Wolfgang Truetzschler tidak atau belum berjalan seiring dengan dinamika pertumbuhan masyarakat ekonominya sendiri, bahkan tertinggal. Fakta sejarah RRI sendiri pada era Orla dan Orba bahkan jika ditarik mundur ke belakang sejak era perjuangan-kemerdekaan RI sesuai dengan elan perjuangannya  cenderung untuk menyebut RRI sebagai “corong pemerintah RI” karena memang RRI berperan sebagai bagian dari diri pemerintah NKRI”( Petrus Suryadi Sutrisno-LPDS 2010) .

Ketika RRI telah mencapai usianya yang ke 66 ini ada sebuah catatan kritis yang tidak boleh terlewatkan untuk direnungkan semua fungsionaris dan manajemen RRI bahwa betapapun rekor keberhasilan kinerja dan jaringan serta pelayanan siaran RRI sebagai media massa milik publik, masih banyak tantangan dan pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh seluruh jajaran RRI.

Pertama, persaingan bisnis industri media massa mengharuskan RRI untuk bersiap diri  melakukan pembenahan sesuai dengan tuntutan kebutuhan publik dan dalam era “media whirlpool” seperti yang dikemukakan oleh  Jim Willis dan Diane B Willis tahun 1994 di mana batas-batas tradisional antara media cetak dan media elektronik setiap hari menjadi semakin kabur batasnya.

Kedua, era teknologi penyiaran yang bergeser dari analog, digital dan multimedia, mau tidak mau akan  menuntut adanya program mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) RRI yang siap menghadapi tuntutan kebutuhan dan perubahan teknologi yang tidak terelakkan.

Meskipun RRI adalah media radio dengan sasaran komunikannya para “pendengar”, sejak dini RRI perlu menyadari dan mengantisipasi bahwasanya karakter tunggal komunikan pendengar RRI dari masa ke masa juga mengalami mutasi atau metamorphosis karena karakter tunggal komunikan pendengar RRI pada saat yang sama juga merupakan komunikan pendengar, pembaca dan sekaligus pemirsa yang tidak mustahil akan mengakses RRI melalui jaringan multimedia.

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy