Sabtu, 01 November 2014
Bengkuang Mulai Langka di Padang PDF Cetak Surel
Senin, 24 Januari 2011 01:00

PADANG, HALUAN — Pa­dang Kota Bengkuang. Begitu julukan kota ini. Namun akhir-akhir ini buah yang menjadi maskot kota tersebut, mulai sulit didapatkan.

“Mendapatkan bengkuang dari petani sekarang sedikit sulit,” ujar Ardis (49), penjual Bengkuang di Simpang By Pass Kota Padang pada Ha­luan, Sabtu ( 22/1).

Menurutnya, biasanya bengkuang dipesan langsung diantarkan, tapi sekarang tidak lagi. Baru diantarkan dua bahkan tiga hari setelah pemesanan.

Jumlah pemesanan kadang juga tidak selalu terpenuhi oleh petani. Entah kenapa sekarang orang tidak lagi minat bertanam bengkuang sehingga mengakibatkan beng­kuang menjadi langka.

“Bengkuang yang saya jual ini berasal dari Kuranji, Limau Manih dan Kampung Jua. Biasanya orang banyak berta­nam bengkuang, sekarang entah kenapa makin berku­rang,” beber pria tua itu yang dulu pernah berprofesi sebagai pelaut.

Selain langka, dika­ta­kannya harga bengkuang juga mengalami kenaikan. Modal mendapatkan beng­kuang dari petani sekarang jauh lebih mahal dari pada beberapa bulan sebelumnya. Pening­katannya bahkan hingga lebih dari 100 Persen.

Jika biasanya men­da­patkan satu karung bengkuang ia hanya perlu mengeluarkan Rp150.000, sekarang telah Rp350.000. Mau apa lagi, jika memang ingin tetap menjual bengkuang harga setinggi itu tetap di beli.

“Sementara harga jual masih tetap Rp10.000 per ikat. Jika pembelinya tidak terlalu berhitung dengan pengeluaran maka harga Rp12.500 langsung dibeli. Tapi jika pembeli menawar, Rp10.000 per ikat adalah harga mati,” jelas Ardis yang telah berjualan bengkuang sejak 2006 itu.

Tidak jarang pembeli yang lari karena ia tidak mau menurunkan harga dari Rp 10.000 per ikat. Namun harus bagaimana lagi, ditu­runkankan lagi jerih payahnya sebagai penjual bengkuang tidak terobati karena untungnya sangat tipis.

Bayangkan saja, dalam satu karung bengkuang yang dibe­linya dari tangan petani ia dapat dibuatnya menjadi 50 ikat. 50 dikali Rp10.000 maka omsetnya Rp500.000 per karung. Jadi dapat untung Rp150.000 perkarung.

Sedangkan untuk 50 ikat bengkuang belum tentu habis dalam sehari. Kadang baru habis setelah dua bahkan tiga hari.

Akibat kelangkaan, men­jual bengkuang hanya dapat ia jalankan tiga hari dalam satu minggu yakni Sabtu, Minggu dan Senin. Sementara, Selasa, Rabu, Kamis Jum’at ia menjadi pengangguran.

Diceritakannya, dirinya berhenti dari pencari ikan karena tidak lagi mengun­tungkan. Menjual bengkuang terpaksa terus digeluti karena hingga sekarang belum nam­pak pekerjaan lain yang mesti dijalankan.

“Dari pada menjadi pe­ngang­guran benaran, lebih baik tetap menjual bengkuang. Anak saya masih ada lima yang mesti dibesarkan. Anak saya tujuh dek, dua sudah bisa bekerja, lima lagi masih kecil.

Ada yang satu di TK, Satu di SD, satu SMP, satu SMA dan satu lagi sibungsu masih menyusu sama induknya,” ungkap bapak yang punya istri orang kurinci Jambi ini,” tuturnya lagi.

Dikatakannya lagi, rezeki sebenarnya telah di takar oleh yang maha kuasa. Manusia hanya tinggal berusaha, apakah hambanya bisa meraih seluruh rezeki yang ditakdirkan oleh tuhan, ataukah hanya mampu meraup separuh darinya. Semuanya tentunya tergantung usaha manusia.

Setelah sejenak termenung, Ayah tujuh anak itu terus melanjutkan pekerjaannya merangkai Bengkuang yang akan dijualnya. Ardis kelihatan santai melewati hidup ini. Tumpukan persoalan dunia seolah-olah bisa dikipaskan dari pikirannya. (defil)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy