Kamis, 02 Oktober 2014
September, Dua Tahun yang Lalu PDF Cetak Surel
Rabu, 21 September 2011 03:36

Kita tengah memasuki peng­­hujung September 2011. Tanggal 30 September segera datang. 30 September akan selalu mengingatkan kita kembali akan sebuah duka lara akibat bencana gempa bumi 7,9 SR yang meluluh­lantakkan Ranah Minang. Kita ingat, kita ke­nang peris­tiwa dua tahun yang lalu. Untuk menjadi pelajaran berharga bagi kita bersama, supaya lebih siap dan lebih sigap lagi sean­dainya bencana gempa bumi kembali berulang. Tentu kita sama berdoa, tanah tumpah darah kita yang indah ini jauh dari musibah dan bencana. Tetapi kesiagaan wajib terus kita bangun. Kemajuan ilmu pengetahuan  telah dengan terang menjelas­kan bahwa kita memang hidup di daerah yang rawan bencana gempa bumi. Sore yang tenang pada hari Rabu tanggal 30 September 2009 kala itu, sekitar pukul 17.16 Wib. Bumi berguncang dasyat. Ini tidak seperti gempa-gempa biasa yang selalu dimulai dari goyangan kecil dan membesar sampai detik dan menit berikutnya.

Tetapi gempa petang itu, meng­guncang bumi dengan hebatnya mulai detik-detik pertama. Dalam hitungan menit ratusan gedung luluh lantak, listrik langsung mati, jerit tangis di mana-mana, di Pusat Kota Padang udara gelap akibat debu yang berhamburan dari runtuhan gedung-gedung bertingkat. Kecemasan akan datangnya gelombang tsunami me­ngi­ringi gempa menambah suasana panik di setiap pelosok kota.

Beberapa menit setelah gun­cangan dahsyat berlalu, saya segera keluar dari ruangan lantai dua Balaikota. Luar biasa kegaduhan di mana-mana, pada beberapa titik asap dari gedung terbakar sudah me­nyesakkan dada di mana-mana. Satu kesimpulan yang saya tarik waktu itu, warga kota butuh informasi secepat-cepatnya tentang kemung­kinan adanya bencana gelombang tsunami. Ketika itu juga saya lang­sung menerobos ke RRI Padang, dan dalam keadaan yang serba darurat ini, dengan terlebih dahulu memohon maaf kepada Bapak Gubernur yang sedang bertugas ke Jakarta, kepada Bapak Danrem dan kepada seluruh unsur Muspida, segera mengambil langkah-langkah taktis yang diperlukan, termasuk memerintahkan semua jajaran Pemko Padang untuk segera melakukan tindakan penanggulangan darurat terhadap korban yang mulai berjatu­han di sana sini, serta kepada semua pihak, kepada semua lembaga untuk mengambil peran tindakan darurat semaksimal mungkin. Kurang lebih dua jam di RRI melayani setiap pertanyaan masyarakat, memberikan informasi yang seluas-luasnya sampai membuat rasa tenang, saya ber­keliling kota dan bersama unsur Muspida berupaya sekuat tenaga melakukan apa yang bisa dilakukan.

Di sisi lain, kekuatan moral kami bertambah dalam menghadapi bencana dahsyat itu ketika kami ketahui, sekitar pukul satu dini hari Gubernur (Bapak Gamawan Fauzi ketika itu) telah tiba di Padang dengan memakai pesawat carteran, hal yang tidak kami duga sebelumnya karena ada informasi lapangan BIM dikabarkan kemungkinan terkena dampak bencana dan tidak bisa digunakan bagi pendaratan. Sampai pukul tiga dinihari Bapak Gubernur Gamawan  berkeliling kota dan memantau perkembangan daerah lainnya guna mengambil langkah-langkah darurat yang diperlukan.

Sejak senja Rabu sampai ke hari-hari berikutnya, bencana gempa 7,9 SR telah menjadi berita tragedi yang mendunia. Sehari setelah itu, Kamis, 1 Oktober 2009, Bapak Presiden Soesilo Bambang Yudho­yono beserta Ibu Negara dan didampingi para menteri dan Pejabat Tinggi Negara lainnya telah hadir di Padang. Bapak Presiden mengunjungi kawasan Hotel Amba­cang, Rumah Sakit Umum dan dalam raut muka teramat sedih menyampaikan belasungkawa dan memerintahkan berbagai langkah-langkah yang diperlukan. Kemu­dian berturut-turut hadir Bapak Wakil Presiden dan sejak itu hampir tiap hari berdatangan utusan resmi dari berbagai perwakilan Negara di dunia memberikan bantuan.  Kita ingat. Kita kenang. Untuk menjadi pelaja­ran berharga bagi kita yang hidup di daerah rawan bencana.

 

FAUZI BAHAR

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy

Newer news items:
Older news items: