Kamis, 23 Oktober 2014
Albertina Ho, Hakim yang Naik Angkot PDF Cetak Surel
Kamis, 22 September 2011 03:09

Jika Anda menyimak secara saksama proses pengadilan kasus korupsi Gayus Tambunan, pasti kesan pertama yang melekat di benak kita adalah  ketegasan seorang hakim perempuan memimpin sidang.  Perempuan itu bernama Albertina Ho. Ia menjadi ketua mejelis hakim dan menjatuh­kan vonis tujuh tahun penjara kepada Gayus karena terbukti melakukan korupsi saat menangani kebera­tan pajak PT Surya Alam Tunggal (PT SAT).

Saat memimpin sidang, setiap pertanyaan yang diajukannya, terdengar tegas, tepat, dan ta­jam. Terkesan tak bertele-tele. Publikpun se­perti menemukan sosok seorang hakim yang di­idam-idamkan. Citra hakim di mata publik pun se­dikit terangkat. Karena kese­derhanaannya, se­ha­ri-hari ke tempat dinas ia menggunakan ang­­kutan kota (angkot). “Jika Albertina memba­wa mo­bilnya, dipas­tikan ia ada perlu untuk pergi jauh.

Dan ia jarang bawa mobilnya. Lebih banyak pakai angkot,” kata rekannya. Tetapi, per tanggal 15 September 2011, publik dikejutkan. Tanpa ada penjelasan yang benar-benar jelas, Albertina Ho dipindah­tugaskan dari Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan tempat ia bertugas selama ini, ke Pengadilan Negeri (PN) Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

Albertina sendiri mengaku mengetahui dimutasi melalui website Mahkamah Agung. Di sana, dia menjadi Wakil Ketua PN Sungailiat.

“Saya sedang menunggu SK (Surat Keputusan) mutasi, saya belum terima SK. Pengalaman dari teman-teman yang sudah mutasi katanya sekitar 2-3 minggu, biasanya SK-nya datang,” kata Albertina Ho ketika ditemui di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Rabu (21/9).

Pemindahan inipun menjadi gunjingan di pelbagai media jejering sosial, baik di facebook dan juga twitter. Mutasi yang terkesan men­dadak itu, membuat publik bertanya-tanya. Rotasi yang dilakukan Mah­kamah Agung ini dinilai sebagai bentuk untuk menyingkirkan Alber­tina Ho dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

“Kuatnya karakter Hakim Al­berti­na menimbulkan spekulasi liar di masyarakat, bahwa hakim ini tidak dapat didikte, lantas dipindah ke Bangka Belitung. Publik akhirnya menduga-duga persoalan apakah yang membikin hakim Albertina dibuang keluar Jawa,” ujar anggota Komsi III DPR Aboe Bakar Al Habsy, di Gedung DPR, Senayan, Rabu.

“Apalagi bila dibandingkan dengan para hakim yang mengadili Antasari, ketika mereka di rekomendasikan mendapat sanksi oleh KY, MA malah memberikan promosi,” tambah Aboe.

Lebih lanjut, politisi PKS ini menilai, kebutuhan penangan kasus tindak pidana korupsi di Pengadilan Negeri Sungailiat tidak terlalu berat seperti kasus-kasus yang selama ini ditangai oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

“Siapapun pasti akan menyim­pulkan apa yang menimpa hakim Albertina Ho adalah demosi, bukan promosi. Karena posisi sebelumnya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang juga diperbantukan di peradilan Tipikor, tentunya perkara di Tanah Laut tidak seberat di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan ataupun Tipikor,” ujarnya.

Albertina lahir di Maluku Teng­gara pada 1 Januari 1960.  Ia menamatkan SD Ambon, pada lulus 1973, SMP Katolik Bersubsidi Ambon, lulus 1975, SMA Negeri II Ambon, lulus 1979, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, lulus 1985, dan Magister Hukum Universitas Jenderal Soedirman, lulus 2004

Anggota majelis hakim yang menghukum Romli Atmasasmita dua tahun penjara dalam perkara korupsi proyek Sistem Administrasi Badan Hukum ini pada 12 Februari 2010 lalu, berbeda pendapat dengan majelis hakim yang menghukum Sigid Haryo Wibisono 15 tahun penjara karena terbukti turut serta menganjurkan pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Direktur PT Rajawali Putra Banjaran. Albertina berpen­dapat Sigid harus dihukum lebih berat karena terbukti secara tidak langsung merencanakan pembunuhan Nasrudin.

Pada 23 Juni 2010, ia sebagai ketua majelis hakim memvonis Marsiyah satu bulan penjara dengan masa percobaan dua bulan. Nenek 75 tahun itu terbukti ikut menganiaya adik menantunya.

Naik Angkot

“Kalau saya, saya harus bangga dengan apa yang menjadi milik saya. Kenapa saya harus bangga dengan milik orang lain,” kata Albertina secara saat ditemui wartawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Rabu.

Hal itu disampaikan dia saat menjawab pertanyaan wartawan apakah dia merasa iri jika melihat rekannya menggunakan mobil Mercedes Benz.

Godaan saat menjadi hakim di Jakarta sangat besar. Hal itu diakui oleh Albertina. “Saya pikir teman-teman wartawan itu lebih tahu daripada saya. Namanya juga Jakarta, pusat bisnis. Hidup di Jakarta itu biaya hidup tinggi,” kata alumnus Fakultas Hukum UGM ini.

Saat ini, Albertina tinggal di perumahan hakim di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Sesekali, dia terlihat ke pengadilan menggu­nakan mobil Nissan Livina. Namun, ia lebih sering dan lebih menyukai memakai angkutan umum (angkot) untuk berdinas sehari-hari.Sudah menjadi rahasia umum di PN Jaksel kalau Albertina kerap menggunakan angkot. Jika kebetulan dia membawa mobil, bisa dipastikan dia berencana pergi ke tempat yang agak jauh.

“Kalau nanti pindah ke Sungailiat (Bangka-Belitung), naik angkot kenapa nggak,” ucapnya.

Perempuan kelahiran Maluku Tenggara ini juga senang berolahraga. Tenis lapangan adalah olahraga favoritnya. Menurutnya, tenis lapa­ngan adalah olahraga yang murah, sederhana dan cepat.

“Seperti asas peradilan, tenis itu relatif murah, sederhana dan cepat. Beli raket 1 buah, bisa bertahun-tahun. Kalau golf, stiknya saja berat, saya tidak punya. Mainnya jauh,” ujar Albertina yang menyempatkan main tenis lapangan pada pagi hari sebelum bekerja di lapangan IPDN—200 meter dari PN Jaksel. (h/naz/berbagai sumber)

Comments (1)Add Comment
0
tauladan bagi hakim
written by string, September 22, 2011
memang gitu yang baik kadang lebih suka disingkirkan, pelihara yang nurut manut pada pesan sponsor, berjuang terus buk hakim dimanapun berdinas, kesederhanaan yang membuat anda tak tergoda dengan segala rayuan jual palu untuk pencari keadilan. sukses selalu semoga tuhan memberimu kesehatan dan pikiran yang jernih, ddan tetap konsis terhadap keyakinan hati nurani anda dalam memutuskan vonis. Indonesia membutuhkan orang seperti anda tapi pada rezim siapakah hal itu dpat terwujud.

Write comment

busy