Selasa, 16 September 2014
MEMBACA TEKS, MEMBACA TANDA PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Haluan   
Minggu, 30 Oktober 2011 00:41

Empuk, dingin dan hangat: menjadi polemik dalam penentuan benda dan keberadaannya. Di mata Roland Barthes (filsuf Perancis yang mempraktikkan semiologi), suatu teks merupakan sebentuk konstruksi belaka. Bila hendak menemukan maknanya, maka perlu dilakukan rekonstruksi dari teks itu sendiri. Hal itu dilakukan oleh kelompok Teater Tangan.

Berkali-kali lelaki itu menerjemahkan penglihatan, pendengaran dan perasaannya dalam menentukan rasa dari benda yang dirampasnya. Dan pada akhirnya, dia mampu menerjemahkan rasa dari sebuah benda hingga dia merasakan kantuk dan tertidur. Lampu menyala merah. Fade Out.

Set berganti. “Monitor-monitor-monitor... Bakar satu! Bakar dua! Bakar tiga!... kalimat itu senantiasa diucapkan berulang-ulang pada beberapa adegan. Dengan lekas, tiga aktor masuk sekaligus secara teratur. Semacam bunyi derit kapal. Semacam percepatan. Tiga aktor berjalan abnormal menyusuri panggung. Dengan kain putih panjang, mereka bertalian satu sama lain. Aktor terdepan berjalan kaku dengan kain putih melilit pinggangnya. Aktor di tengah dengan kain putih di pinggang dan lehernya—seolah percepatan waktu. Di kedua tangannya memegang rambu-rambu (bendera dalam Pramuka). Di kanan rambu verbodeen, di kiri rambu dengan tiga lubang di tengah. Di dalam Pramuka, disebut semaphore yang berarti suatu cara untuk mengirim dan menerima berita dengan memakai dua bendera. Dimana masing-masing bendera tersebut berukuran 45 x 45 cm. Sedangkan warna yang sering digunakan adalah merah dan kuning, dimana warna merah tersebut selalu berada dekat dengan tangkainya.

Mengirim dan menerima berita dengan semaphore hanya dapat dilakukan pada jarak lebih kurang 200 meter atau sejauh yang dapat dilihat oleh mata. Biasanya digunakan dalam bidang kelautan. Demikian barangkali pada adegan tersebut. Aktor paling belakang berdiri di atas trap roda sambil memegang corong yang menutupi wajahnya dan berkata: Saudara-saudara sekalian, ini kami lakukan demi kesejahteraan kalian. Karena melihat kebutuhan kita yang semakin meningkat. Dimana kita membutuhkan arena yang lebih luas lagi...

Kalimat-kalimat tersebut sering diucap­kan oleh aktor yang sama di beberapa adegan yang berbeda. “Berisik!!!” Ujar lelaki yang terlelap, menimpali adegan itu. Dia terjaga. Dia mencari sumber suara. Suara lain pun saling bentur di sana. Dia tampak gelisah. Tidurnya seperti terganggu. Lampu merah. Fade Out.

Set berganti lagi. Lampu menyala biru. Imajinasi penonton dibawa ke udara lepas. Tiga aktor masuk membawa balon panjang berukuran sangat besar. Masing-masing dengan laku yang berbeda. Mereka berlari-lari kecil, melangkah diiringi Suara kerisik plastik. Balon panjang ditegakkan secara diagonal. Aktor-aktor berusaha mengek­splorasi properti meskipun tampak sedikit tidak terbiasa.

“Kuhangatkan tubuhmu hingga kubakar rumahmu...” ujar sesuara. Balon-balon pun diledakkan. Penonton terkejut dan takjub. Adegan cepat berubah. Aktor berganti. Beberapa aktor masuk dengan laku seperti kera. Bergerak liar mengitari panggung dan kerangka kayu berbentuk segitiga. Salah satunya membawa corong yang menutupi wajahnya. Kalimat-kalimat pada adegan sebelumnya diucapkan kembali dengan irama yang datar. Kerangka kayu berbentuk segitiga didorong salah satu aktor, seolah-olah ingin memerangkap aktor lain yang berlaku seperti kera. Sampai akhirnya, mereka keluar. Adegan berganti dengan cepat.

“Oksigen...oksigen...oksigen...” Seorang aktor masuk membawa kereta dorong dengan balon-balon di atasnya—dia menjual oksigen. Pada saat yang nyaris bersamaan, dua kator terkurung di dalam balon masuk ke panggung. Mereka mengerjap, sesak dan membutuhkan udara. Sesuara mengulang kalimat pada beberapa adegan sebelumnya.

Adegan berganti. Lampu menyala biru. Imajinasi terbangun memasuki dasar laut. Tiga aktor masuk denga gerak dan laku seperti berenang dan menyelam. Salah satunya membawa balon. Suara-suara gelembung mengikuti. “Kuberenang bersama abu...” Lalu balon lekas meletup, sekali lagi. Kalimat-kalimat pada beberapa adegan sebelumnya kembali diucapkan. Lagi.

Kali ini set berganti. Lampu Fade Out terlalu lama. Emosi penonton seakan terputus. Beberapa saat kemudian, lampu menyala merah menimpa seorang aktor yang sedang berlari di tempat. Dia gelisah. Aku hanya mimpi...aku hanya mimpi... Suara dentuman, gesek biola yang kasar dan ledakan-ledakan emosi. Aktor berusaha tidur di atas trap yang diberi kasur sebagai alas. Dia tetap gelisah. Tak dapat tidur. Dia meringkuk. Gelisah lagi. Meringkuk lagi. Sesuara merangkum adegan: domba satu, domba dua, domba tiga, domba empat, domba lima... dan seterusnya. Dicabik-cabiknya kasur hingga keluar kapasnya. Dia turun panggung, meminta mimpi dari penonton—lampu sorot mengikutinya. Ingin menukar mimpi. Khas Brech: panggung menjadi tak terbatas. Dan dibakarnya kasur itu sehingga berkobar apinya.

Selanjutnya, dua aktor membawa ranting dan menari dengan ranting itu. Tidak bobok...aku tidak bobok... Lampu pun padam meninggalkan kasur yang terbakar. Dan pementasan pun berakhir.

Meskipun tidak sepenuhnya aura magis sampai ke penonton, tetapi Teater Tangan tetap mampu menyelesaikan pementasan. Untuk sebuah pementasan sarat dimensi dan visual yang “meledak-ledak”, kualitas vokal aktor sangat dibutuhkan.

Syamsuol mengatakan, dimensi-dimensi dalam pementasan sengaja dihadirkan sebagai visual atas kejadian-kejadian yang ada di darat, udara dan laut. Dampak kebakaran dan kerusakan lingkungan menjadi isu menarik di Makassar. Itulah yang ingin mereka sampaikan kepada Indonesia. Proses latihan yang hanya dua bulan tak menyurutkan semangat kelompok Teater Tangan untuk tetap tampil.

“Apakah kita pernah merasa tidak bisa tidur?” Ujar Syamsul mengakhiri diskusi usai pementasan. n (Delvi Yandra)

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy