|
Kamis, 10 Januari 2013 01:27 |
|
Salah satu fenomena yang menarik dari tampilnya Joko Widodo alias Jokowi di pentas politik adalah langkah-langkahnya yang tidak hanya menarik untuk dicermati tapi juga dianggap layak untuk ditiru oleh para politisi lainnya. Tidak tanggung-tanggung bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun baru-baru ini dianggap telah meniru langkah politik Jokowi.
SBY bukan politikus pertama yang meniru –kalau boleh dikatakan demikian— karena sebelumnya sudah ada beberapa tokoh politik lain yang diakui atau tidak, meniru langkah Jokowi, seperti menteri BUMN Dahlan Iskan dan pasangan Cagub-Cawagub Jawa Barat Rieke D Pitaloka-Teten Masduki. Dahlan meniru Jokowi dalam hal test drive mobil produksi dalam negeri, dan Rieke-Teten meniru dalam soal pakaian resmi pencalonan Pemilukada.
|
|
Jumat, 09 November 2012 02:46 |
|
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dari namanya seharusnya menunjukkan wibawa. Bukan semata karena lembaga ini mewakili seluruh rakyat Indonesia, tapi karena untuk menjadi anggota DPR mereka juga dipilih secara ketat. Intinya, tidak gampang menjadi anggota DPR, dan karenanya setelah terpilih wajar jika mereka mendapat atribut sebagai anggota dewan yang terhormat.
Anggota DPR dipilih dari rakyat oleh rakyat. Tak ada satu pun dari mereka yang dipilih dari negara atau planet lain. Semua dipilih dari rakyat Indonesia dan oleh rakyat Indonesia. Oleh karenanya, tak salah kalau ada yang mengatakan, anggota DPR adalah cermin dari rakyat Indonesia. Jika kebaikan DPR mencerminkan kebaikan rakyat Indonesia, begitu juga sebaliknya.
|
|
Kamis, 01 November 2012 01:55 |
|
Sejumlah lembaga survei memprediksi suara partai-partai yang berbasis agama (Islam) akan semakin mengecil pada Pemilu 2014. Kebenaran survei ini memang masih perlu diuji, namun jika dicermati, terutama dari kinerja yang ditunjukkan oleh partai-partai Islam, menurut saya prediksi ini cukup masuk akal.
Mengapa partai-partai Islam akan memasuki era senjakala karena kehilangan dukungan? Menurut saya, yang paling utama disebabkan karena semakin menguatnya pragmatisme politik. Pragmatisme yang dimaksudkan di sini bukan dalam pengertian yang negatif sebagai lawan dari idealisme.
|
|
Kamis, 25 Oktober 2012 02:55 |
|
Perubahan kepemimpinan harus diperjuangkan, jabatan harus direbut. Menunggu generasi tua lengser dengan ikhlas akan menjadi pekerjaan sia-sia. Generasi muda tak boleh terlena dengan sanjungan sebagai pemimpin masa depan. Karena peran kebangsaan atau peran kenegaraan itu harus sudah diaktualisasikan, harus dilakukan sekarang.
Kedengarannya seperti ambisius, seolah-olah mau mengejar jabatan. Saya kira bukan itu poinnya, tapi selagi idealisme dan patriotisme menggelora, itulah saat terbaik untuk mengaktualisasikannya, karena jika tidak diaktualisasikan, jiwa itu akan merapuh, atau teraktualisasi pada tindakan-tindakan yang tidak seharusnya.
|
|
Kamis, 18 Oktober 2012 02:54 |
|
Baru-baru ini, ruang publik kita, terutama di media sosial, penuh dengan gerakan dan slogan “save KPK”, selamatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Gerakan dan slogan ini merebak akibat banyaknya kalangan yang diduga kuat berupaya melemahkan KPK.
Jika KPK sudah benar-benar lemah, para koruptor pasti akan tertawa karena KPK lah yang belakangan ini membuat sebagian mereka meringkuk dalam penjara.
|
|
Kamis, 11 Oktober 2012 03:21 |
|
Seorang negarawan Inggris, Lord Acton, dalam suratnya yang dikirimkan pada Uskup Mandell Creighton, 3 April 1887, menegaskan “power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely”. Ungkapan ini menjadi sangat terkenal karena benar-benar sesuai dengan fakta. Dimana ada kekuasaan di situlah terdapat kecenderungan korupsi, dan pada saat kekuasaan menjadi absolut, korupsi menjadi pasti.
Indonesia termasuk negara yang amat ringkih menghadapi korupsi, karena tradisi korupsi di negeri ini jauh lebih kuat dari upaya-upaya untuk menangkalnya. Sejak jaman raja-raja dengan kekuasaannya yang absolut, korupsi sudah berkembang dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Karena itu tak salah jika Mochtar Loebis pernah mengatakan bahwa korupsi di negeri ini telah membudaya.
|
|
Jumat, 05 Oktober 2012 01:47 |
|
Jumat 5 Oktober 2012, TNI (Tentara Nasional Indonesia) berusia 67 tahun. Dalam usia matang itu, prajurit TNI semakin profesional memahami bahwa Tentara Nasional Indonesia adalah tentara kebangsaan Indonesia yang bertugas demi kepentingan negara di atas kepentingan daerah, suku, ras, dan golongan agama.
Prajurit juga semakin menjiwai bahwa tentara profesional adalah tentara yang terlatih, terdidik, diperlengkapi secara baik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis dan dijamin kesejahteraannya.
|
|
Senin, 01 Oktober 2012 03:24 |
|
Syukur Alhamdulillah. Hari ini, Senin 1 Oktober 2012 Harian Haluan yang sedang Anda baca memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64. Sesuai usianya, maka hari ini Harian Haluan juga terbit 64 halaman. Kami berterima kasih dan bangga, Anda tetap setia menjadi mitra, relasi dan pembaca Harian Haluan.
Usia 64 tahun, tentu bukanlah terbilang muda lagi. Untuk ukuran manusia, itu adalah umur yang sudah cukup tua. Harian Haluan sebagai salah satu dari sembilan media cetak tertua di Tanah Air telah melalui proses yang cukup panjang. Pernah mengalami pasang surut. Di Sumatera Tengah, Harian Haluan pernah menjadi koran terbesar yang tersebar di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu dan sebagian daerah Sumatera Utara.
|
|
Selasa, 25 September 2012 02:07 |
|
… Bung Hatta adalah teladan tepat waktu untuk sebuah bangsa yang selalu terlambat. Dari seribu rapat, sembilan ratus biasanya telat. Kegiatanku yang tepat waktu satu-satunya ialah ketika berbuka puasa …
(Dari sajak Taufiq Ismail, “Rindu pada Stelan Jas Putih dan Pantalon Putih Bung Hatta”)
Jadi tidak akan jadi masalah benar acara halalbihalal Pemda Sumbar dan masyarakat Minang di Jakarta yang dihelat hari Sabtu (22/9/2012) itu jika yang terlambat datang bukan Gubernur Irwan Prayitno (IP) yang juga sebagai pengundang acara. Dan salah satu tamu undangan yang menunggu hampir dua jam itu bukan pula Prof. Dr. Harun Zain, Gubernur Sumatera Barat selama 11 tahun (1966-1977).
|
|
Senin, 27 Agustus 2012 02:49 |
|
Merantau dan pulang kampung merupakan tradisi yang sudah melekat erat dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat (Minang). Merantau dan pulang kampung seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Seperti kata pepatah: “Karatau madang di hulu bangungo babuah balun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun.”
Tradisi merantau seperti sudah menjadi patron dalam siklus kehidupan masyarakat Minangkabau. Pada tahap awal, lelaki Minang umumnya diberi pendidikan dasar formal (setara dengan tingkat sekolah dasar sampai S1), tak lupa ditambahkan pendidikan non formal berupa pengetahuan agama dan bekal ilmu bela diri (pandai silek jo mangaji).
|
|
|