Kamis, 23 May 2013
Kultur
Ogah Buru-buru Nikah PDF Cetak Surel

NOVA ELIZA

Pernah gagal mempertahankan rumah tangga, Nova Eliza mengaku tak mau buru-buru menikah. Mantan suami Mirwan Su­warso itu lebih memilih mengu­rus ­anak dan berkarir ketimbang melepas status janda.

“Sudah pernah gagal, enggak mau gagal lagi. Jadi santai saja dulu, seka­rang­ ngurus anak. Jadi lupa sama urusan lainnya,” ungkapnya saat ditemui di acara pembukaan rumah makan Kedai Kecak di Pejaten, Jakarta Selatan, Jumat (17/05).

 
Menelusur Media Komunikasi Tradidisional di Minangkabau PDF Cetak Surel

Tabuah/beduk, baik di Lu­hak Tanah Data(r); Luhak Agam; dan Luhak Limo(a) Pulu(a)h Koto(a). Atau  di ranah Rantau. Sebut saja Rantau Pasaman; Pasaman Barat; serta Kabupaten Solok yang disebut secara kultural: ikua lubuak kapalo rantau (ekor lubuk kepala rantau): tabuah adalah alat komu­nikasi (instrument of commu­nication) yang paling mujarab serta bergaung menyelinap ke jantung hati anak nagari. Bukti nyata, mereka amati benar dari mana arah bunyi tabuh itu. Dari surau, dan atau dari masjid? Atau baka­tuntang (berbunyi) dari Balai­ru(a)ng atau dari rumah ga­dang Datuak Pucuak (Datuk pucuk)?

 
Memberdayakan Kearifan Lokal PDF Cetak Surel

Haluan, (18/4), menurunkan berita bertajuk: Perkuat Nilai-nilai Kearifan Lokal. Berita yang dihidangkan Haluan sebuah media cetak yang telah banyak mereguk asam-garam kehidupan ini (berdiri 1948/tiga tahun setelah Indonesia merdeka) tersebut, sejatinya­lah kita apresiasi. Kok tetek tapak tangan jo nyiru kito tampuang (disamput baik). Soalnya, seperti dikatakan: banyaknya terjadi  konflik antar golongan, kelompok dan etnis belakangan ini di Indone­sia akibat makin menipisnya pemahaman terhadap  kea­rifan lokal yang tumbuh di masing-masing daerah.

 
Penghulu di Minang PDF Cetak Surel

Pada awalnya sebutan peng­hulu, digunakan dalam susu­nan struktur peme­rintahan nagari di wilayah Minang­kabau, dimana seorang peng­hulu juga merupakan pemang­ku adat dan bergelar Datuak, selanjutnya dalam susunan sebuah nagari terdapat struk­tur kekuasaan, yang dimulai dari Panghulu, Malin, Manti dan Dubalang[3]. Selanjutnya dari struktur tersebut, kemu­dian disatukan dengan istilah Urang Ampek Jinih (Empat orang dengan fungsi masing-masing).

 
Tanggungjawab Penghulu dan Kawin Sesuku PDF Cetak Surel

Mengacu pandangan Dato­ek Toeah (t.t): dalam kapa­sitasnya sebagai: urang nan didahulukan salangkah dan ditinggikan sarantiang (diper­caya secara kultural menjadi pimpinan), penghulu dan, atau datu(a)k, punya empat utang yang sejatinya dibayar tunai (1), menuruti jalan lurus, dalam mengayomi anak-keme­nakan; (2), manampuah jalan nan pasa(r) dan maniti labuah nan goloang (melalui jalan kebenaran); (3), punya  harta pusaka dan memeliharanya secara bertanggungjawab; (4), memagari anak-kemanakan secara konsisten dan koniniu.

 
Seni Tradisional Minangkabau PDF Cetak Surel

Kesenian Minangkabau bertempatan asli di Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Ia bermacam-macam yang disesuaikan rupanya dari berbagai daerah bagian di Sumatera Barat. Keindahan dan keberagaman kesenian Minangkabau merupakan warisan yang dapat me­nyo­kong dan melengkapi kesenian lain yang banyak berada di Indonesia.

 
Mendaya-ungkit Seni Tradisional PDF Cetak Surel

Harian Haluan edisi, Sela­sa, 2 April, 2013 menurunkan berita yang membuat kita tagalenjek (terheran-heran) bertajuk: Seni Tradisi Minang Dalam Ancaman. Betapa tidak! Sebagaimana dikata­kan: keberadaan seni tradisi Minangkabau dalam ancaman besar, setelah banyaknya  model-model hiburan yang tanpa filterisasi masuk sede­mikian jauh dalam tradisi masyarakat Minangkabau. Jika terus dibiarkan, seni pertunjukan tradisi yang sarat dengan nilai norma akan hilang dimakan waktu.

 
Tanggung-jawab Moral Tokoh Adat PDF Cetak Surel

Pemerhati Sosial-Budaya

Setelah meniang-pancangi Luhak Nan Tigo yaitu Luhak Tanah Data(r); Luhak Agam; dan Luhak Limo(a) Pulu(a)h Kota(o), maka para leluhur Minangkabau secara kultural dan Sumatera Barat secara provinsial mengkondisikan  pengangkatan penghulu (pa­ngulu) di setiap koto, dusun, taratak dan nagari.

Salah satu gawe, dan atau tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang disandang para penghulu yang telah mengan­tongi legalitas formal plus legalitas kultural tersebut, menegakkan supremasi hu­kum adat; mangganggam taguah dan mamacik arek (memegang teguh), serta meng­­internalisasikan adat kepada anak-kemenakan. Skop orientasinya, tidak saja kemenakan: di bawah daguak (dagu); di bawah pusek (pusat) tapi juga meng-erami keme­nakan yang di bawah lutuik (lutut). Tegasnya, kewajiban moral dan kultural  yang terpikul di bahu para penghulu: membimbing anak-kemenakan pada setiap komunitas di Minangkabau. Yaitu menyuruh mereka menebar benih keba­ikan (amar makruf) dan mela­rang mereka agar tidak ter­benam ke dalam kawah ke­mung­karan/fahsya-i wa-al­mungkar (QS Ali-Imran ayat 104 dan 110).

 
Pemangku Adat dan Aktualisasi Nilai Instrumental PDF Cetak Surel

Seperti penulis ke­depan­kan,  pada tulsan-tulisan terdahulu, yang benama pe­patah-petitih Minangkabau sebagai acuan baku bagi merenda kehidupan ber-mu’a­malah-dunyawiyah yang meli­puti sosial-ekonomi, sosial-politik dan sosial- budaya, dijabarkan, bukan hanya dengan logika tok! Tapi, sejatinya dibarengi dengan sekeping raso (rasa) jo/dengan pareso (periksa). Filosofinya? Raso dibao naiak; pereso dibao turun. Dan, yang bertalian dengan raso dan pareso ter­sebut, akan lebih baik di simak pepatah-petitih adat berikut ini: tahu diereang jo gandeang;  tahu diraso jo pareso; tahu dikilek dengan bayang;  tahu jo alamaik kato sampai; alun bakilek lah bakalam; bulanlah sangkok tigo pulua; balun diliek lah dimakan; raso lah tibo dalam tubuah; takilek ikan dalam aia;  ikan takilek jalo tibo; lah  tantu jantan jo batino cawek nan dari Mandiangin; dibao nak urang ka biaro; takilek rupo dalam camin;  inyo di baliak itu pulo (membaca yang tersirat di balik yang tersurat).

 
Pemangku Adat dan Gempuran Globalisasi PDF Cetak Surel

Salah satu pepatah-petitih cukup menggeliat di tanah Minang berbunyi: adat nan indak lakang dek paneh; indak  lapuak dek hujan; dianjak indak layua; dibubuik indak mati; dibasuah sahabih aia, dikikih sahabih basi (bertahan dalam dinamika zaman).

Kalimat demi kalimat berdaya pukau tinggi ini, mengandung pengertian tidak langsung. Dalam bahasa yang enak di telinga kaum kontem­porer kini, itulah yang disebut analogi, metafora, dan sim­biosistik. Yaitu mengi­syarat­kan hal-ihwal kebenaran hukum objektif tentang keten­tuan yang terdapat pada alam sebagai tolak-dasar salah satu sumber primer doktrin adat Minangkabau. Ada gi­umnya? Panakiak pisau si­rauik; pamungkeh batang lintabuang; silodang ambiak ka-nyiru. Satitiak jadikan lauik; sakapa jadikan gunuang; alam takambang jadikan guru (belajar dari alam sebagai ayat kauniyah).

 
Seni Tradisi Minang di Pusaran Arus Global PDF Cetak Surel

TERANCAM LENYAP

Seni-seni tradisi yang me­lekat dalam kehidupan sosial-kultur masyarakat tentu saja termasuk di Minangkabau (Sumatera Barat) dapat di­mak­nai sebagai sistem nilai yang fungsinya mendorong dan membimbing masya­rakatnya menjawab tantangan yang mereka hadapi sepanjang masa.

Sistem nilai dan tradisi tersebut merupakan ciri iden­titas sebuah kelompok masya­rakat budaya. Pada masya­rakat Minangkabau dicirikan dengan paham egalitarian dan sistem matrilineal yang hidup di dalam nagari-nagari. Seni-seni tradisi pun tumbuh di dalamnya seiring berkem­bangnya nagari.

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL