|
Ketika Yuli mengendap-endap di belakang rumahnya, gelap benar-benar telah membungkus malam. Bulan sabit telah hilang ditelan awan hitam. Sepertinya bakal turun hujan seperti malam-malam sebelumnya.Dengan hati-hati Yuli mendorong pintu dapur. Seperti biasa pintu ini tidak pernah dikunci pemilik rumah sebelum Yuli datang. Setelah masuk dia langsung menguncinya.
|
|
|
Ba’da Lebaran tahun lalu saat sunset belum habis dan pantai Padang masih ramai, Samsu mengurai rasa di hadapan Reni. Jingga sunset yang mengapung di atas laut, jadi saksi perasaan Samsu kepada Reni. Kendaraan berlalu-lalang, pengamen, dan pengemis yang menjamur di tepi pantai Padang, tak mampu menggoyahkan keyakinan Samsu bahwa Reni adalah pilihan hatinya. Samsu tetap pada usahanya meyakinkan Reni di tepi pantai Padang berombak besar. Bahkan waktu itu, Samsu rela mati ditelan tsunami jika Reni tak menerima cintanya. Reni terkejut. Bahagia sekaligus cemas meliputi hatinya.
|
|
Karena tidak mendapatkan tempat di dunia di pangkuan ibu pertiwi, Zaili memilih mati. Dalam pikiran Zaili kehidupan sesudah mati tentu tidak sesumpet kehidupan di dunia. Zaili ingin buru-buru mengambil tempat di akhirat sebelum diambil orang-orang yang mati kemudian. Bayangkan kalau Zaili memilih mati sepuluh tahun lagi, kalau dalam sehari seorang saja mati, maka dalam sepuluh tahun, 3650 orang yang telah menjadi pesaing Zaili. Kalau seratus orang yang mati di pangkuan ibu pertiwi dalam sehari, bayangkan betapa banyak pesaing Zaili di akhirat.
|
|
(Sebuah Ulasan Atas Cerpen “Muammar Memilih Jalan Sendiri” karya Sori Siregar)
Problematika yang begitu kompleks yang terjadi di negeri ini, tampaknya menjadi salah satu alasan mengapa seseorang memilih tinggal dan bekerja di negara yang jauh lebih maju. Seperti yang dilakukan Maludin yang hijrah ke tanah rantau bersama istrinya, Maryam, dan anaknya Muammar dalam cerpen “Muammar Memilih Jalan Sendiri” karya Sori Siregar yang dimuat di Kompas (14/10/2012). Dalam cerpen ini digambarkan bagaimana Muludin hidup bergelimang kemewahan ketika bermukim di tanah rantau. Tinggal di lingkungan yang sehat, mewah, dan memiliki pendapatan yang jauh melebihi kebutuhan.
|
|
Mak kembali melihat ke atap Tek Mirah. Pasti antena televisi itu lagi! Lama Mak memandangnya. Diam. Begitu khidmat. Menerawang. Atau mungkin merenung. Aku tahu apa yang ada dalam pikiran Mak.
Kuletakkan sabit yang tadi kugunakan untuk membersihkan rumput di halaman. Aku mendekati Mak, “Mak, bunga ini sebaiknya kita tanam di mana?” aku mengangsurkan anak bunga melati ke hadapan Mak.
|
|
Kota ini sudah tak bersuara lagi. Binatang malam pun enggan berpesta mengitari sudut-sudut lampu jalan. Hanya tapak sepatu kulit dan tablet pil itu menemani manusia malam sepertiku. Langkah gontai berteman botol minuman di genggaman penuh lukisan hitam. Suara tapi bukan nyanyian, bermimpi namun setengah sadar, neraka dunia serasa surga di awang-awang. Masih menari riang bayangan indah di lampu gemerlap tadi. Kilatan warna melekat erat di pelupuk mata. Tiba-tiba melintas truk dari selatan lintasan itu. Entah berapa larinya. Secepat alap-alap menyambar serangga sawah. Jelas saja. Jalan malam ibarat arena balapan tanpa lawan.
|
|
Pertengahan Juni 2009 “Mak, Tuti tetap mau ikut dengan Etek Irma.” Rengek Tuti pada Emaknya. Emaknya yang sedang menggoreng ikan pantau di dapur terkejut mendengar anak gadisnya datang dan tiba-tiba berkata seperti itu. Namun, kekagetan itu tak ditunjukkannya pada Tuti. Seakan tidak mendengar, wanita yang sudah hampir kepala lima itu tetap sibuk membalikkan ikan yang sudah matang.
|
|
Menyusuri pancaran penguasa siang dari bawah lindungan jalinan rumbia. Mata ini melesat jauh ke seantero alam raya di hari garang. Berhiaskan semburat mentari dan kilauan spektrum langit. Terhampar luas bagai tanpa batas, ruang dan waktu. Gumpalan gunung dan mangkuk danau-danau itu menjadi bingkai mengiringi hari-hari yang peluh dan terik. Tepat di kaki bukit jalan pulang itu kau menyeka aliran asin di keningmu. Jalan yang kesehariannya ditempuh oleh petani tulen pengolah tanah hijau berbulir di setiap masanya. Seolah tak ada kata menyerah mengganggu ikhtiar dan kobaran merah yang memanggang tubuh lembutmu. Kau senantiasa mengiringi langkah pencarian hidup bersamanya. Langkah yang bermula dan tak berujung pasti. Ya, begitulah jerih perjuangan untuk bisa sampai di babak penyisihan menyelesaikan sekolah di kampung halaman. Tingkat dasar, menengah dan atas dalam sekejap masa berlalu sudah di sana.
|
|
Telah memasuki hari kedua tersiar kabar kematian anaknya di kota. Namun Wan Pito masih sempat melakukan aktifitasnya seperti biasa. Setelah selesai menyabitkan rumput untuk kerbau-kerbau nya, ia masih sempat turun kesawah siang ini. Memanen padi juragan Tohang yang dititipkan tempo hari. Begitu pula dengan istrinya, Sulastri. Semenjak ayam berkokok tadi pagi, ia telah sibuk meneteng sayuran kepasar. Bukan karena kedua orang tua itu tidak punya uang untuk berangkat ke kota, sekedar melayat dan mengurus jenazah anak laki-laki semata wayangnya itu. Apalagi untuk membawa jenazahnya pulang untuk dimakamkan di tanah dimana ia dulu dilahirkan, seperti yang diminta Salsabila, menantunya, yang tiada lain istri dari anak laki-lakinya yang sekarang telah meninggalkan dunia. Sungguh tidak mungkin. Ada semacam peristiwa kelam masa lalu yang menelan bulat-bulat hati kedua orang tua itu untuk membawa jenazah anak laki-laki nya itu pulang kekampung halaman.*
|
Kau melihat gumpalan awan langit memayungi isi bumi yang semuanya berlalu begitu cepatnya. Nasib. Ya, demikianlah zaman berjalan. Bagai mamalia yang menunggu curahan hujan, ibarat kucing menggigil yang menunggu hangat matahari. Bebasnya angan ini ibarat tidak pernah habisnya mendongak seperti kekeruhan dijalannya yang gersang itu. Ada yang sering memaki ibarat besi dan logam panas yang dalam tempaan palu di tungku si pandai besi. Tubuh kecilmu, oh, anak yang lusuh itukah? Anak yang kerap meniti perlintasan megah milik seorang berada yang selalu mencacimu bagai meniti di jembatan lapuk. Memandangi wajah sayumu di teras sederhana setiap pagi yang baunya menusuk hidung, pagi berkabut tebal dari kepulan tumpukan sampah di lantai kasar itu.
|
|
SUATU hari, Bapak tanpa sengaja menyenggol pot bunga dagangan ayah temanku, Anton, yang rumahnya berdampingan dengan rumah kami di tengah sawah. Pot itu pecah. Tentu saja ayah Anton marah besar, sebab pot itu pesanan orang yang harganya mahal. Maka, terjadilah percekcokan. Bapak mengaku salah dan meminta maaf, tetapi ayah Anton tidak bisa menerima begitu saja.
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |