|
Rumah gadang mendadak ribut. Etek1 Yur, kakak kandung Ibuku dari tadi sibuk mengoceh sendirian. Kupikir, ini masalah suaminya yang bakal terancam menganggur lama. Proyek pembuatan jalan dari kantor kelurahan ke kantor kecamatan sudah rampung. Para kuli dan buruh kehilangan pekerjaan dan terpaksa mencari proyek baru. Termasuk suami Etek Yur. Tapi, setelah kucermati, rupanya tidak. Kali ini, soal anak laki-lakinya; Ombing.
Padahal, tadi subuh kulihat ia baik-baik saja. Ia bangun lebih awal. Sekitar pukul empat subuh, aku mengendus bau wangi nasi yang sedang dimasak. Bau daun pandanmusang2 yang menyatu pada air yang dijarangkan di dandang, bahkan bau cabai dan terasi yang digiling bersamaaan. Aku keburu bangun dan melayangkan senyum ke arah perempuan empat puluh tahun itu.
|
|
|
Pada suatu hari Jum’at yang terik dan gerah, aku menemukan peristiwa aneh di masjid, tak jauh dari toko plastik tempat aku bekerja. Jum’at itu adalah Jum’at ke tiga belas, atau mungkin ke tujuhbelas (aku tidak terlalu ingat) di mana hujan tidak juga turun-turun ke kotaku. Hari itu, entah kenapa menjengkelkanku dari pagi. Bangun kesiangan, sarapan hangus, air dispenser habis, air PAM mati, angkot ngetem terlalu lama, dan dimarahi bos karena datang terlalu telat. Dengan perut keroncongan, kerongkongan kehausan dan sakit kepala yang mendera di sebelah kepala, aku harus menghadapi pelanggan yang cerewet dan banyak maunya dengan senyum manis dan ucapan terima kasih. Menjelang siang aku ingin berteriak sekerasnya, membanting-banting karpet plastik ke mana-mana dan melemparkan bosku sejauh-jauhnya ke Samudera Atlantik.
|
|
Aku tinggal di desa terpencil, desa yang terletak di bagian barat Sumatera, arah matahari terbenam. Setelah melewati bukit-bukit dan aliran sungai di sepanjang jalan, maka setiap yang berkunjung, akan sampai ke desaku. Rumah yang kutempati berada di pinggir aliran sungai yang terhubung ke jalan masuk desa, menghadap ke timur, menentang matahari terbit. Dan apabila pagi datang, terasa sangat asik bersantai di teras rumah, sembari menikmati kehangatan matahari dan lembutnya embun yang tersapu, dihembus angin pagi hari.
|
|
Tersebutlah kisah seorang lelaki tua bernama Buyung Kincai. Tubuhnya kokoh. Matanya jernih. Giginya masih utuh. Namanya dikenal luas hingga ke Jambi. Tetapi kematiannya terus dibicarakan hingga hari ini.
Karena ia lahir di Pariaman maka disebutlah ia Buyung. Ketika remaja, ia merantau ke daerah Kerinci di Provinsi Jambi, maka ditambahkan pula sebutan di bagian belakang namanya sehingga dipanggil ia Buyung Kincai. Nama yang tak jelas siapa yang memberi. Tak ada cerita pasti yang sempat ditinggalkan Abak dan Emaknya tentang munculnya nama itu. Yang jelas, sejak kedua orangtuanya tiada, nama Buyung Kincai sudah mendarah daging dalam dirinya.
|
|
Lelaki buruk rupa berdiri mematung di hadapanku. Aku yakin, ia orang yang akan menjadi suamiku. Tidak salah lagi, meski baru bertemu dengannya, namun aku hapal seperti apa orang yang kelak akan menjadi suamiku. Melalui mimpi. Dalam mimpi itu, aku menikah dengan seorang lelaki berkulit hitam, kepala pelontos dengan hidung yang melesak ke dalam. Belum lagi telinganya: jebang. Seperti ciri-ciri lelaki ini.
Hanya dalam mimpi, aku bisa meramal masa depan. Seolah kejadian yang belum terjadi dalam hidup, akan tampak dalam mimpiku. Oleh karenanya, aku sangat yakin bahwa lelaki yang sedang aku lihat ini yang akan menjadi suamiku.
|
|
Pada suatu malam berdebu, di suatu Minggu kota Gigolacur, trotoar tak pernah bercerita tentang apa dan bagaimana caranya dua ekor tikus bisa saling kejar-mengejar, meningkahi kerikil yang berserakan, menyusuri got-got yang bau, dan kemudian bergerumul seperti hendak saling membunuh. Begitu juga dengan tiang listrik yang kesepian menimang embun—yang sebenarnya tak patut juga disebut embun karena ia sedikit berminyak—di dekat taman itu, seperti hendak melepaskan kabel-kabel yang terentang memberat.
|
|
Di kampung saya ada seorang kakek yang akrab dipanggil Gaek. Ia pejudi. Tidak hanya satu kedai atau lapau yang tahu kepiawaiannya dalam memainkan kartu dan mengocok mental lawan. Ia tidak akan beranjak jika kantong lawannya belum kering. Bringas, buas dan punya hoki tinggi. Saya sarankan jangan pernah bermain dengannya jika tidak bawa uang berkoper-koper dan mental bertruk-truk.
Pernah salah seorang pejudi dari kampung sebelah bernama Pulun bertandang ke lapau tempat Gaek biasa bermain. Niatnya mengalahkan Gaek. Kalaulah Gaek mendengar tantangan semacam itu pantang baginya untuk mengelak. Meja digelar, kartu dibagikan, orang-orang di lapau berkerumunan. Gaek dan Pulun seperti koboi yang bertarung di depan bar dan di bawah panas terik. Sengit dan menegangkan. Ia mampu membaca kartu-kartu Gaek.
|
|
Dalam dirinya kini, ratusan mimpi buruk bersarang dan mengeram. Peristiwa demi peristiwa itu, telah menggulungnya ke dalam jurang hidup amat dalam. Hanyalah tubuh kurusnya kini yang diseret hari-hari sepi di kamar itu. Pagi muncul silih berganti dan berlari. Begitu pun malam dan gugus bintang. O, memang, hanya dirinya yang kian tak berdaya, kian tersisih dalam kemanusiaan yang dulu teduh ia rasakan.
|
|
Sebuah kamar. Di sebuah rumah warna putih. Di sanalah, Kenanga tinggal bersama kenangan. Tanpa ibu. Tanpa ayah. Tanpa adik. Namun, ia masih punya nenek yang semakin merenta, menua. Dan, hanya kenangan yang banyak berserak di dalamnya. Di kamar Kenanga yang warna putih.
Pernah Kenanga bertanya suatu hari, kenapa semua harus serba putih. “Putih adalah aura keluarga kita. Kita selalu akan menyinari kehidupan dengan kesucian,” kata nenek menjawab suatu hari. Kenanga mengangguk. Sebenarnya ia masih sangsi; benarkah warna putih sebagai perlambang kesucian? Tapi, kini ia selalu melihat warna putih sebagai simbol atas kesendirian yang membuat ia jauh tenggelam ke dasar kerinduan itu.
|
|
Ia tua dan sakit. Ini jelas menakutkan. Ia seperti didorong ke dalam kotak sampah, dan tak menemukan satu tanganpun yang mau memungutnya.
Ah, tahukah kau tentang sakit? Lebih-lebih bila sakit itu mengenai seseorang yang lumpuh selama sepuluh tahun. Bayangkan saja bagaimana rasanya selama sepuluh tahun duduk di kursi kayu beralas busa tua di depan jendela yang sama—benar-benar jendela yang sama!—dari pagi hingga menjelang malam.
|
|
Di sepanjang trotoar, aku melangkah gontai dengan map yang selalu kubawa ke pintu-pintu perusahaan. Tak satu pintu pun pernah membentuk wajahku jadi lebih baik serupa lengkung senyum orang-orang kebanyakan. Penawaranku selalu ditolak sebab alasan yang tidak jelas. Tidak sesuai dengan perkiraanku padahal aku berjanji akan jadi pekerja yang baik kalau perusahaan berkenan menerimaku. Tapi kenyataannya, tak satu perusahaan pun berbaik hati padaku. Tak satu pun.
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |