|
MESKI SERET ANGKA MISKIN TETAP TURUN |
|
|
|
|
Ditulis oleh Teguh
|
|
Minggu, 11 Desember 2011 00:00 |
|
Mak Halimah, 60 tahun, harus bekerja keras selama sepekan, membuat gula tebu untuk mendapatkan uang Rp100 ribu guna menghidupi dirinya, seorang anak perempuan yang sudah menjanda dan empat cucunya.
Penduduk miskin asal Nagari Batu Basa, daerah terpencil di Provinsi Sumatera Barat ini, harus pandai memutar otak agar uang sekitar Rp15 ribu per hari dari penghasilannya itu bisa memberi makan enam orang yang tinggal di rumah yang bocor di sana-sini dan terletak di tengah kebun tebu milik orang lain.
Wanita baya itu merupakan salah seorang dari 30,2 juta penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan yang ada di Indonesia pada 2011 ini.
Meski tampaknya seret, jumlah orang miskin di Indonesia tahun ini turun satu juta orang menjadi 30,2 juta jiwa dibandingkan dengan angka tahun lalu, karena itu pemerintah tetap memprioritaskan pengentasan kemiskinan di tahun-tahun mendatang.
|
|
INDUSTRI KREATIF ANTARA ATURAN DAN KEPERCAYAAN BANK |
|
|
|
|
Ditulis oleh Teguh
|
|
Minggu, 04 Desember 2011 00:00 |
|
Industri kreatif untuk bisa berkembang masih terhambat aturan birokrasi yang kaku, bahkan perbankan sendiri kurang percaya untuk memberikan pinjaman modal.
Saat ini ada 14 industri kreatif yang diakui pemerintah, yaitu periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, “fashion”, video film dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, televisi dan radio, serta riset dan pengembangan.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berencana memasukkan sektor kuliner menjadi salah satu dari industri kreatif. Dengan demikian, industri kreatif yang diakui pemerintah nantinya menjadi 15 sektor.
Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady pernah mengatakan, perkembangan industri kreatif di Indonesia masih banyak dihambat aturan birokrasi yang kaku. “Ini yang menjadi penghambat, sehingga industri kreatif sulit tumbuh dengan cepat,” katanya.
Padahal, menurut dia, Indonesia menargetkan menjadi pusat industri kreatif di regional ASEAN pada 2014. “Untuk itu, mulai tahun depan Kemenko Ekonomi fokus membabat habis regulasi yang menghambat perkembangan industri kreatif,” katanya.
|
|
Terakhir Diperbaharui pada Sabtu, 03 Desember 2011 22:52 |
|
|
BANGSA INDONESIA BUKAN SEKADAR ANGKA STATISTIK |
|
|
|
|
Ditulis oleh Teguh
|
|
Minggu, 20 November 2011 01:13 |
|
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Program Pembangunan (UNDP) menerbitkan laporan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2011 untuk 189 negara pada 2 November 2011
Hasilnya, Indonesia mendapat angka 0,617 dan menempati peringkat 124 dari 187 negara. Bila langsung dibandingkan dengan tahun sebelumnya, posisi Indonesia turun karena pada 2010 Indonesia ada di posisi 108 dari 169.
Tapi mekanisme membandingkan peringkat ternyata tidak tepat karena selain ada penambahan jumlah negara yang dinilai, mekanisme penghitungan IPM 2011 juga berbeda dengan tahun sebelumnya.
“Jadi metode tahun ini dengan tahun sebelumnya berubah, bila ingin dibandingkan, metodologinya harus disamakan dulu, karena IPM Indonesia sebenarnya meningkat,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Armida Salsiah Alisjahbana.
|
|
BANGSA IDIOT YANG KERANJINGAN TELEVISI |
|
|
|
|
Ditulis oleh Teguh
|
|
Minggu, 13 November 2011 01:05 |
|
efek kesehatan mental dari menonton TV lebih dari sekadar kecanduan, konsumerisme, kehilangan kepercayaan sosial...menonton TV itu berbahaya bagi perkembangan otak anak”
Setengah abad ke belakang telah menjadi eranya media massa elektronik. Televisi telah mempertajam masyarakat di seantero jagat.
Kini ledakan dari berbagai perangkat media baru bergabung dengan televisi. Perangkat-perangkat baru itu adalah DVD, komputer, games, ponsel pintar, dan lainnya.
Banyak bukti kemudian menunjukkan bahwa persebaran media ini ternyata menimbulkan efek negatif yang luas.
|
|