|
Ia dibuka dengan adegan memukau, sebuah kapal besar kuno dengan tambang besar yang ditarik oleh para tahanan saat hujan lebat. Tiga perkenalan yang apik dilakukan sekaligus dalam pembuka ini, kemalangan dan kemarahan para tahanan yang dikemas dalam koor para tahanan ini memperkenalkan genre film ini adalah drama musikal, Jean Valjean (Hugh Jackman), tokoh sentral film ini, juga dikenalkan dengan baik dengan cara porsi fokus gambar cukup banyak untuknya di antara para tahanan. Lantas perkenalan karakter Jevret (Russell Crowe), penegak hukum yang kaku yang jadi mimpi buruk jean Valjen, dikenalkan saat memberi komando para tahanan.
|
|
|
KELOMPOK TEATER NAN TUMPAH
Teater Nan Tumpah diresmikan di Padang, 9 Oktober 2010. Pada tanggal tersebut Teater Nan Tumpah melakukan pementasan perdana setelah melalui proses latihan selama 5 bulan sejak dibentuknya kesepakatan mendirikan kelompok teater indipenden, yang digerakan oleh beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kota Padang. Pementasan perdana tersebut berjudul “Cincin Kelopak Mawar” , Naskah Mahatma Muhammad adaptasi cerpen Firdaus dengan Sutradara Yeni Ibrahim yang dipentaskan di Gedung Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat.
|
|
DARI PEMENTASAN “MPOK LISNA” FESTIVAL TEATER JAKARTA KE-40
Tawuran, perpecahan, seperti sudah menjadi kesepakatan untuk menjadi ladang pembelaan bagi satu komunitas dan komunitas lainnya. Bahwa tawuran menjadi anomali pemuasan nafsu personal menjadi komunal, juga bisa sebaliknya. Peristiwa itu, dengan sendirinya tidak terlepas dari tubuh dan kata-kata, dan dalam medan gerak sejarah yang berkelindan dalam tubuh dan pikiran anak-anak sekolah menjalar ke warga baik kota maupun desa. Efek kegaduhan dari suara-suara pembelaan.
|
Pada kebermulaannya teater adalah sebuah kebersamaan yang saling meluruhkan tubuh dalam sebuah entitas yang saling telanjang. Teater merespon “ketidaktahuan teks”dalam sebuah media yang paling intim, yaitu tubuh. Era sentralisasi seni yang cenderung meniadakan “gejala” di luar dirinya (Romantisisme seni) masih “menggejala” pada hari ini, yaitu bahwa kebenaran dunia hanya dapat ditunjukkan melalui perbendaharaan kebudayaan salah satunya seni, khususnya teater. Kemiskinan konteks ini menjadi dalih bahwa seni masih sanggup menginterupsi ruang normatif, padahal senyatanya masalah geo-politik di luar kesenian sudah sangat “interupsionis” terhadap keseharian masyarakat. Seperti halnya dunia sains telah begitu “tragis” semenjak ditemukannya virus ebola, kebocoran lubang ozon, bayi tabung dan Bank sperma, lalu hal “teatrikal” apalagi yang mesti diciptakan ulang oleh seniman.
|
|
Memperhatikan lukisan Max Ernst berjudul The Elephant Celebes, tampak seekor gajah mekanistik menyerupai tank dengan jejak asap di langit seolah menunjukkan pesawat yang tertembak jatuh.
Dalam fragmen-fragmen lukisan tersebut, termasuk bagian tubuh yang terpisah-pisah, bisa jadi terkait dengan gambaran pertempuran yang mengerikan dan kehancuran. Lukisan tersebut juga ditafsirkan oleh kritikus seni rupa sebagai simbol sureal dan fantasi psikologis modern, pemisahan tubuh dari pikiran, seperti tertulis dalam sebuah ulasan berikut.
|
|
(CATATAN PEMENTASAN TEATER RANAH)
Parade Teater Sumatra Barat yang diselenggarakan pada tanggal 5-9 Oktober lalu telah usai. Tetapi tetap saja ada yang terbekas dalam pikiran dan perasaan saya. Beberapa kelompok teater yang saya saksikan pementasannya tidak meninggalkan apa-apa dalam diri saya, sementara beberapa kelompok lain berhasil mengusik saya, salah satunya adalah pementasan naskah ‘Dara Jingga’ karya Wisran Hadi oleh Ranah Teater Padang. Tentu saja ada banyak hal yang menggoda saya setelah menyaksikan produksi ke lima Ranah Teater tersebut dan dalam tulisan ini saya akan menuangkannya sebisa mungkin.
|
|
CATATAN PENAFSIRAN SEORANG PUBLIK TEATER
Catatan ini agak terlambat saya tulis berkaitan dengan pementasan Komunitas Seni Hitam-Putih (KSHP) yang disutradarai oleh Yusri Katil, dosen Jurusan Teater ISI Padang Panjang, di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dan Gedung Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Bandung, pada tanggal 25 dan 27 September 2012. Betapapun terlambatnya, rasanya saya merasa perlu, dan bersyukur jika Anda juga bisa memakluminya. Keperluan yang ingin saya sampaikan, karena pada waktu menjelang pementasan Tangga yang diusung oleh KSHP di Jakarta saya mendengar pernyataan yang mengawali pertunjukan itu: Tangga digarap dengan pendekatan teater tubuh.
|
|
CATATAN PARADE TEATER SUMBAR 2012
Yang paling menggembirakan dan membuat kita optimistik kepada dunia seni panggung pada rangkaian acara Parade Teater 2012 yang diselenggrakan di Teater Utama Taman Sumatera Barat pada 5-9 Oktober 2012 dengan tajuk Spirit Minangkabau dalam Seni Teater, adalah jejalan penonton yang rata-rata sekitar lima-enam ratus penyaksi seni panggung yang dengan antusias memenuhi gedung.
Kegembiraan dan optimisme saya, khususnya menyaksikan publik kaum muda, yang nampaknya berhubungan dengan posisi mereka yang rata-rata mahasiswa, berumur dua puluhan tahun, sebagiannya masih belasan tahun, dan hanya segelintir saja publik teater dari periode dekade 1980-90-an.
|
|
PARADE TEATER SUMBAR 2012
Tanah adalah aksara Tuhan, bacalah, dimana kamu hidup… (Leon Agusta, saya kutip dari naskah Tanah Ibu: Episode Tanah Asal)
Tanah adalah sumber kehidupan, tempat di mana orang-orang membangun sebuah peradaban. Tetapi tanah rantau dan tanah ibu menjadi bahasan kekinian yang kompleks seperti yang diutarakan Syuhendri dalam naskahnya Tanah Ibu: Episode Kanak-kanak dan Tanah Ibu: Episode Tanah Asal.
|
|
PERFILMAN
Pada festival di Venesia tahun ini, hampir tidak ada perwakilan Jerman. Film-film Jerman memilih untuk bersaing di Toronto beberapa minggu lagi. Lokasi yang digemari produser dan distributor film.
Di Venesia diputar karya seni, sementara bisnis dilakukan di Toronto. Demikian omongan dari kalangan perfilman. Kota Italia tersebut punya tradisi lama. Festival Venesia dianggap sebagai jenis festival film paling tua di dunia. Sebaliknya, Toronto baru dianggap sebagai pesaing serius sejak beberapa tahun terakhir.
|
|
CATATAN PEMENTASAN KOMUNITAS SENI HITAM PUTIH PADANG PANJANG
Seusai pertunjukan teater berjudul Tangga yang dipentaskan Komunitas Hitam-Putih di Teater Utama Taman Budaya Sumbar, Minggu (23/9), sebagian permerhati teater berpandangan bahwa kekuatan masing-masing bangunan (aktor, penari, pemusik) dalam pementasan tersebut telah mengaburkan warna ‘Yusril’ selaku sutradara.
Sebagian lagi berpendapat, karena proses pencarian estetik panggung telah membuat peralihan makna dari naskah yang berawal teks naratif puisi Tangga Iyut Fitra tersebut: menghancurkan sebuah sejarah lantas membangun sejarah yang baru… (mengutip pandangan S Metron M).
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |