Kanal

Tentang Fadly Amran dan Kejayaan Padang Panjang

Padang Panjang, sesuai namanya, kota di selangkangan Gunung Singgalang itu memang punya sejarah panjang. Walau hanya terdiri dari dua kecamatan, namun kota yang jadi simbol perlawanan terhadap kolonial di masa penjajahan itu seolah ditakdirkan sebagai pelahir orang-orang hebat. Tak terhitung jumlah saudagar, politisi, birokrat hingga ulama kharismatik yang berasal dari serambi mekkahnya Sumatera Barat tersebut. Tapi, seiring waktu, Padang Panjang kekinian seolah berjalan mundur dan tenggelam di arus besar perubahan. Butuh sosok pendobrak untuk mengembalikan kejayaan yang pernah diraih. Siapa orangnya?

Bicara pemimpin, Padang Panjang sekarang sedang dalam pencarian sosok yang benar-benar pas menjadi orang yang ditinggikan seranting didahulukan selangkah. Pilkada diambang mata. Orang-orang mulai memilah siapa yang cocok memimpin mereka dalam gerbong perubahan. Sosok yang benar-benar siap menjadi bak besar penampung segala keresahan sekitar 52.395 penduduk kota dingin tersebut.

Jika ditilik, Padang Panjang sebenarnya tak pernah kekurangan stok pemimpin hebat. Pun demikian, tak semua yang dari kumpulan orang hebat itu mempunyai nawaitu yang benar-benar mengikhlaskan dirinya pada khalayak ramai. Zaman terus berubah, tipikal pemimpin juga semestinya mengikuti perkembangan. Tak melulu mesti stagnan, atau gagap terhadap perubahan. Butuh sosok pembaharuan untuk mengembalikan segala harapan yang baik untuk kota pendidikan nan agamis.

Diantara sejumlah pilihan itu, ada nama Fadly Amran, anak muda yang sejak dulu dianggap sebagai penggerak. Sabtu (28/1) malam, penulis bersua dengan sosok yang meminang pamong senior Padang Panjang, Asrul sebagai Bakal Calon Wakil Wali Kota (Bacawako) itu. Jika mengeja nama belakangnya, sebagian orang mungkin bisa menebak kalau Fadly adalah anak H Amran Sutan Sidi Sulaiman dan Hajjah Maizarnis. Haji Amran adalah tokoh pendidikan, pendiri Yayasan Pendidikan Baiturrahmah yang berasal dari Padang Panjang. Sang ayah adalah orang yang banyak berbuat. Lakek tangannya teruji di kampung halaman atau rantau.

Malam itu jelang berdiskusi, Fadly berdiri di tengah kerumunan tua dan muda yang menyesaki ruang pertemuan di Jalan Soekarno Hatta, Bukit Surungan, Padang Panjang. Mesti tahu ada tamu, Fadly lebih memilih untuk berada di tengah puluhan warga Padang Panjang. Dia sedang menularkan mimpinya. Lewat satu tarikan nafas yang panjang, Fadly yang awalnya lebih banyak mendengar segala masukkan dan keluhan, mulai berucap; “Kota ini memiliki martabat yang tak bisa ditawar-tawar. Kehormatan, yang mesti dikembalikan secara bersama-sama. Sendiri, atau berdua, saya tak mungkin bisa. Semuanya mesti jadi kerja bersama, tanggung jawab bersama,” tutur Fadly. Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya riuh oleh suara-suara penuh optimis. Di depan orang banyak, mata Fadly tajam memandang sekitar, seolah ingin memastikan semua yang hadir berdiri di sisinya.

Bersua dan berbincang dengan Fadly, kita serupa diajak berpetualang di lipatan-lipatan harapannya tentang kejayaan Padang Panjang. Fadly keras terhadap kemauannya dalam membangun kota yang benar-benar mengena di hatinya. “Ini tentang harapan, keinginan sekaligus menunaikan tanggung jawab. Langkah yang sekarang saya ayunkan saya anggap sebagai bagian dari pengabdian pada tanah yang menjadi tempat tumbuh kembangnya sosok ayah, yang menjadi inspirasi bagi saya. Sekaligus harapan untuk menjadikan kota ini sebagai kota yang punya muruah (merupakan kata baku dari marwah, yang artinya kehormatan, harga diri dan nama baik) serta martabat,” tutur Fadly. Bicaranya runut.

Banyak tanya dari orang-orang, kenapa Fadly Amran, pewaris kerajaan bisnis dengan aset berlimpah mau turun bertarung di Pilkada Padang Panjang, kota kecil yang pendapatannya bergantung besar pada rumah sakit. Secara materi, Fadly sosok yang mapan. Jika mau, ongkang-ongkang kaki saja di rumah, lelaki yang lahir bertepatan dengan perayaan Hari Pers Nasional, 9 Februari 1988 itu bisa mendapatkan segala hal tentang duniawi yang diinginkan. Lantas, apa yang dia cari? Bukankah dia bisa memilih hidup tenang, jauh dari hiruk keluh kesah rakyat jelata, dan tak melulu jadi pelayan, lazimnya seorang pemimpin?

Sewaktu ditanya, Fadly hanya singkat menjawab. Di pandangnya orang-orang yang hilir mudik, orang yang kebanyakan banyak berasal dari kalangan duafa. “Semua bukan tentang apa yang akan saya dapatkan kelak, tapi lebih pada apa yang bisa saya berikan. Tentang keinginan mengubah nasib warga Padang Panjang. Agar setiap mereka yang memiliki mimpi, mampu mewujudkannya. Bagi saya, kekayaan itu adalah saat bisa berbagi,” paparnya.

Dari sikapnya, Fadly bukan tipikal anak muda yang mau hidup di ketiak ayah atau ibunya saja. Bukan lelaki yang berfoya-foya dari hasil pencarian orang tua. Sejak sekolah, Fadly sudah berdiri sendiri merintis usaha. Langkah demi langkah, dia membangun hidupnya sendiri dan tidak ingin hidup di bawah bayang-bayang nama besar bapaknya. Lewat kerja keras, Fadly kini masuk ke dalam jajaran pengusaha muda yang sukses membangun usaha dari nol. Tak dikuranginya harga orangtua, malahan menambah. Katanya, dia tak mau meminta. “Saya lelaki, kelak akan memikul tanggung jawab besar sebagai pemimpin. Sebab itu saya ingin keluar dari baying-bayang ayah, dan bisa membangun usaha sendiri,” tutur Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Padang tersebut.

Fadly tipikal pemimpin yang mengedepankan semangat kebersamaan dibandingkan cuma  duduk di balik meja, lalu main tunjuk, atau marah ketika bawahannya tak mampu memikul tugas yang diberikannya. Dia lebih suka kerja bersama, dan menganggap bawahan sebagai kawan bisnis.  Fadly berpantang marah membabi buta. Dia anak muda yang santun. Keelokan sikap diwarisinya dari sang ayah, dan hasil didikan ibunya.

Kembali ke kota yang jadi muara pengabdiannya. Bagi Fadly Amran, Padang Panjang adalah kota impian. Ladang perjuangan untuk terus berbuat dan mengabdi. Ada mimpi-mimpi yang yang ingin diwujudkannya. Ada utang tanggung jawab yang mesti dilunasi jebolan Seattle University, Amerika Serikat itu. Tapi Fadly tak mungkin bisa jika sendiri. Dia mesti didukung, dan saling bergenggaman tangan dengan warga kota yang sama-sama memimpikan kejayaan Padang Panjang di masa depan.

Dia ingin bergerak bersama. Tak sendiri, atau hanya bersama Asrul yang mendampinginya. Fadly, dengan segenap semangat muda yang dimiliki berharap ada di depan barisan warga Kota Serambi Mekkah, yang benar-benar ingin mengembalikan muruah Padang Panjang sebagai kota pendidikan nan islami.  Konsep kejayaan ada padanya, dipikiran anak muda tamatan Seattle University, Amerika Serikat itu. “Setiap pembangunan harus bernafas islam. Padang Panjang ini Kota Serambi Mekkah. Falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah tidak boleh ditinggalkan. Mesti menjadi landasan,” tegas Ketua Bidang Organisasi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumbar periode 2017-2021.

Menjadikan Padang Panjang lebih maju dan bermartabat merupakan komitmen politik Fadly dan Asrul. Komitmen yang boleh ditagih kapan saja oleh masyarakat. “Sekaligus sebuah gambaran cita-cita untuk bergerak bersama. Amanah akan saya junjung. Tentunya dengan dorongan bartisipasi demi kejayaan Padang Panjang. Kejayaan dalam artian, bisa menciptakan kondisi dan keadaan yang mantap, mapan, lebih berkemaslahatan dan membahagiakan seluruh warga kota,” papar lelaki yang selain berorganisasi kepemudaan juga aktif di Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Sumbar. Tahun lalu, ia dipilih sebagai Ketua Umum PARFI Sumbar.

Fadly sudah banyak mengecap nikmat dan pahit kehidupan. Dia petarung yang pulang ke tempat yang semestinya dia pulang. Sebagai anak muda yang memiliki nama besar, Fadly ingin menunaikan pengabdiannya kepada ranah yang sejak kecil selalu terngiang di kepalanya. Ranah tempat dia memahami nilai-nilai dasar kehidupan. Fadly tidak ingin sekadar memberi pengabdian, tapi berupaya agar mampu jadi motor penggerak perubahan.

Pulang bagi Fadly adalah sarana berbagi kebahagiaan. Berbagi kebahagiaan yang bukan hanya tentang rasa. Kebahagiaan juga bisa mewujud dalam aksi nyata yang berdampak dan berkelanjutan. Momen pulang adalah momentum mengonversi kerisauan menjadi gerakan yang akhirnya akan mendatangkan kebahagiaan untuk semua. Fadly punya mimpi. Mimpi yang ingin ditularkannya ke masyarakat Padang Panjang. Mimpi yang harus didukung secara bersama. Mimpi untuk Padang Panjang nan jaya! (*)

Editor: Bhenz Maharajo

 

Ikuti Terus HarianHaluan

Berita Terkait

Berita Terpopuler