Pemerintah Naikan PNBP Perikanan Tangkap, Pendapatan Nelayan dan ABK Terancam Turun

- Kamis, 9 September 2021 | 19:25 WIB
Kapal penangkap ikan (Foto: wikipedia)
Kapal penangkap ikan (Foto: wikipedia)

HARIANHALUAN.COM - Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) perikanan tangkap mendapat sorotan dari sejumlah anggota dewan. Skema pungutan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 85 tahun 2021 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis PNBP dinilai membebani nelayan kecil dan buruh nelayan.

Aturan tersebut mengatur tarif Pungutan Hasil Perikanan (PHP) dihitung berdasarkan produktivitas kapal, harga patokan ikan, dan ukuran kapal.

Jika dirinci, tarif praproduksi kapal 60 gros ton (GT) hingga 1.000 GT adalah sebesar 10 persen dan di atas 1.000 GT dikenai 25 persen.

Kemudian untuk tarif setelah produksi, kapal 5 GT sampai 60 GT sebesar 5 persen dan di atas 60 GT ditetapkan 10 persen.

Kebijakan ini diambil untuk meningkatkan PNBP. Tahun ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) PNBP perikanan tangkap Rp1 trilun. Sementara tahun 2024 nanti mencapai Rp12 triliun.

Ketua Komisi IV DPR RI Fraksi PDI-P, Sudin saat Rapat Dengar Pendapat Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Komisi IV DPR, Senin (6/9/2021), mengatakan rencana pungutan pasca produksi dalam skema PNBP perlu persiapan yang matang. Dia menilai kebijakan ini harus ada sumber daya manusia, perangkat teknis di pelabuhan, serta pendataan yang jelas.

Dia meminta agar pemerintah mengkaji ulang dan mempertimbangkan dari berbagai aspek. Sudin mengingatkan agar niat meningkatkan PNBP ini justru malah membebani atau bahkan merugikan negara.

Kemudian kritikan lainnya datang dari anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI-P, Ono Surono yang menyoroti perubahan penghitungan berdasarkan ukuran kapal. Hal ini menurutnya akan menambah beban nelayan dan anak buah kapal (ABK).

"Jangan sampai peningkatan PNBP berimbas pada penurunan pendapatan ABK karena di beberapa lokasi (mengandalkan) bagi hasil. Kalau sistem bagi hasil, tetapi pungutan dinaikkan, pendapatan ABK akan turun," katanya sebagaimana dilansir dari Kompas.id, Kamis, (9/9/2021).

Halaman:

Editor: Rahma Nurjana

Tags

Terkini

Ekspor Agrifood Peru ke Indonesia Naik 30 Persen

Selasa, 25 Januari 2022 | 16:15 WIB

Porkosmi: Kosmetik Palsu Menjamur di Toko Daring

Selasa, 25 Januari 2022 | 05:07 WIB

5 Ide Usaha Budidaya Hewan Bikin Tajir Melintir

Senin, 24 Januari 2022 | 17:05 WIB

Bisnis Ekspor Cecak Kering Tembus Pasar China

Senin, 24 Januari 2022 | 12:25 WIB

Duh! Harga Bitcoin Cs Ambruk Gegara Ini

Senin, 24 Januari 2022 | 08:45 WIB
X