Stimulus Fiskal Dorong Pertumbuhan Ekonomi Sumbar 5,76%

- Selasa, 26 Oktober 2021 | 08:37 WIB
Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Sumatera Barat, Heru Pudyo Nugroho, S.E., MBA
Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Sumatera Barat, Heru Pudyo Nugroho, S.E., MBA

PADANG, HARIANHALUAN.COM - Pertumbuhan ekonomi Sumbar telah mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pada triwulan II 2021, kebijakan fiskal yang diterapkan pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah melalui instrumen APBN dan APBD, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Sumbar mencapai 5,76 persen (y-on-y).

Hal itu disampaikan Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Sumatera Barat, Heru Pudyo Nugroho, S.E., MBA saat melakukan kegiatan penyerahan penghargaan Pemerintah Republik Indonesia atas capaian WTP LKPD 2020 sekaligus Penandatanganan Nota Kesepakatan Sinergi antara Kanwil DJPb Sumbar dengan Pemprov Sumbar.

Baca Juga: Ekonomi Sumbar Alami Kontraksi Minus 1,6%

"Ini mengalami pertumbuhan yang signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang terkontraksi sebesar 4,92 persen. Perbaikan tersebut terutama didorong oleh pemulihan ekonomi global yang semakin kuat dan akselerasi stimulus fiskal yang berlanjut.” ujarnya.

Secara ringkas, realisasi APBN di Sumbar sampai dengan triwulan II 2021 mencatatkan pendapatan negara sebesar Rp3,34 triliun (53,07 persen dari target), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2020 sebesar Rp2,69 triliun.

Baca Juga: Percepatan Pemulihan Ekonomi Sumbar, BNI Siapkan KUR Super Mikro Hingga KUR Kecil untuk Usaha Masyarakat

Di sisi lain, belanja pemerintah pusat mengalami pertumbuhan 10,01 persen yang didorong oleh pertumbuhan dari keempat jenis belanja yaitu belanja pegawai, barang, modal dan bantuan sosial.

Sementara itu, realisasi APBN di Sumbar sampai triwulan III-2021 mencatatkan pendapatan negara Rp5,84 triliun (92,93 persen dari target), tumbuh 40,95 persen (yoy). Di sisi lain, realisasi belanja negara mencapai Rp22,11 triliun (70,70 persen dari pagu), terkontraksi 8,40 persen (yoy).

"Pertumbuhan pendapatan negara ini didorong oleh adanya pertumbuhan bea keluar/pungutan ekspor yang tumbuh sangat besar yakni 2.706,46 persen. Pertumbuhan yang sangat besar ini didorong oleh kenaikan komoditas CPO. Sedangkan belanja negara terkontraksi dikarenakan adanya penurunan jumlah realisasi belanja TKDD," terangnya.

Menurut Heru, untuk dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pasca pandemi Covid-19, kebijakan investasi pemerintah menjadi faktor yang cukup krusial. Oleh karena itu, dalam Kajian Fiskal Regional juga membahas mengenai peluang investasi di daerah terutama di sektor pariwisata.

"Sektor pariwisata merupakan salah satu dari sepuluh prioritas pembangunan di Sumbar. Prioritas ini diarahkan untuk pengembangan objek dan kawasan wisata yang potensial, peningkatan sarana dan prasarana serta pelayanan kepariwisataan, dan menjadikan Sumbar sebagai destinasi utama pariwisata berbasis agama dan budaya," jelas Heru. (*)

Halaman:

Editor: Milna Miana

Tags

Terkini

Korea Selatan Impor Pupuk Urea dari Indonesia

Rabu, 8 Desember 2021 | 18:05 WIB

Kredit Bank Mandiri Tumbuh Sebesar 16,9 Persen

Rabu, 8 Desember 2021 | 16:03 WIB

Siang Ini Rupiah Melemah ke Rp14.447 per USD

Senin, 6 Desember 2021 | 12:40 WIB

Boyband BTS Raup Rp483 Miliar dari Konser di Amerika

Senin, 6 Desember 2021 | 06:00 WIB
X