Survei ESET: Penipuan Belanja E-Commerce Paling Marak di Indonesia

- Jumat, 19 November 2021 | 17:20 WIB
Belanja Online (Foto: Shutterstock)
Belanja Online (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Berbelanja di e-commerce merupakan opsi terbaik bagi kebanyakan orang di masa pandemi, meskipun saat ini di Indonesia sebaran virus Corona mengalami penurunan yang sangat signifikan, kebiasaan melakukan berbagai aktivitas secara online sudah mulai mengakar terutama para shopper di tanah air. Hal ini dapat dilihat dengan jelas berdasarkan data yang diperoleh dari Statista, bahwa jumlah orang yang berbelanja via internet di Indonesia mencapai 138 juta konsumen.

Besarnya minat belanja di e-commerce diikuti juga minat kejahatan siber yang tinggi, dari hasil investigasi Interpol dalam ASEAN Cyberthreat Assesment 2021, penipuan online menjadi kategori kasus terbesar kedua di Indonesia yang dilaporkan oleh Bareskrim Polri. Belum lagi kebocoran-kebocoran data dari situs-situs e-commerce semakin mengancam kenyamanan konsumen saat berbelanja.

Baca Juga: Selama Pandemi, Penjualan di e-Commerce Tembus 3,1 Juta Transaksi per Hari

Mengamati tingginya risiko saat berbelanja di e-commerce, IT Security Consultant PT Prosperita Mitra Indonesia, Yudhi Kukuh mengingatkan, peningkatan aktivitas e-commerce telah menyebabkan lebih banyak scammers datang untuk menyerang. Ketika orang-orang terus mendigitalkan kehidupan mereka, konsumen perlu menjaga data mereka karena penjahat dunia maya terus menggunakan metode yang lebih canggih untuk menembus sistem pengguna dan mencuri uang mereka.

Survei ESET APAC

Untuk mengetahui seberapa besar ancaman saat berbelanja di e-commerce, ESET dalam survei terbarunya di Asia Pasific di tahun ini menemukan beberapa fakta menarik, salah satunya adalah bahwa tiga dari empat (59%) responden yang disurvei di Indonesia menunjukkan bahwa mereka pernah menemukan kegiatan yang berpotensi penipuan online.

Baca Juga: Ula | Startup E-Commerce Indonesia Dapat Dana Segar dari Berbagai Investor Asing? Ini Infonya.

Kemudian fakta lain yang ditemukan menyebutkan, 67% di APAC ditemukan berbagai penipuan online dalam 12 bulan terakhir, dengan jenis yang paling umum adalah penipuan belanja di e-commerce (21%), media sosial (18%) dan penipuan investasi (15%).

Sementara di Indonesia jenis penipuan yang paling umum adalah belanja e-commerce (19%), media sosial (16%), dan investasi online (9%). Dengan hampir setengahnya mengatakan mereka berbelanja setidaknya sebulan sekali, sangat penting bagi konsumen untuk tetap waspada saat melakukan transaksi online.

Halaman:

Editor: Milna Miana

Sumber: rilis

Tags

Terkini

LUTD Listriki Pelosok Nagari Sungai Landia Agam

Rabu, 10 Agustus 2022 | 10:05 WIB

Tiket Pesawat Meroket, Kemenhub Sentil Bos Garuda

Senin, 8 Agustus 2022 | 13:16 WIB

Ini Dia 5 Terkaya di Dunia, Siapa Sajakah?

Senin, 8 Agustus 2022 | 09:02 WIB
X