Sidang Parlemen Jepang Ricuh

- Kamis, 17 September 2015 | 19:46 WIB

RUU keamanan yang tengah dibahas tersebut telah menuai pro dan kontra. Dalam beberapa pekan terakhir, hampir setiap hari ratusan ribu orang turun ke jalan-jalan untuk memprotes RUU tersebut.

Sesuai RUU tersebut, militer Jepang yang dikenal sebagai Self-Defense Forces akan memiliki opsi untuk ikut berperang melindungi sekutu-sekutu seperti Amerika Serikat, meskipun tak ada ancaman langsung bagi negara Jepang atau rakyatnya.

RUU ini akan diajukan ke majelis tinggi parlemen setelah disetujui komisi parlemen, dan kemungkinan akan menjadi UU pekan ini. Sebelumnya majelis rendah telah meloloskan RUU ini pada Juli lalu. Koalisi Abe menguasai dua pertiga anggota majelis rendah.

Perdana Menteri Shinzo Abe berupaya keras untuk meloloskan RUU tersebut sebelum libur tiga hari pada pekan depan. RUU ini telah membuat anjloknya popularitas Abe. Sebab menurut sejumlah polling, kebanyakan warga Jepang menentang RUU tersebut.

Bahkan banyak pengamat hukum mengatakan, perubahan yang diatur dalam RUU tersebut tidak konstitusional. Para pengkritik mengkhawatirkan RUU ini akan menyeret Jepang terjun ke dalam berbagai perang yang melibatkan Amerika Serikat di dunia.

Namun Abe dan para pendukungnya bersikeras bahwa RUU ini diperlukan untuk menghadapi peru­bahan lingkunan keamanan, yang ditandai dengan meningkatnya arogansi China dan Korea Utara. (h/dtc)

Editor: Administrator

Terkini

Laba PT BBCA Tembus Rp15 T

Jumat, 30 Juli 2021 | 10:34 WIB

Kamis Pagi, Harga Emas Mulai Turun Tipis

Kamis, 29 Juli 2021 | 08:25 WIB

Pasokan Mengetat, Harga Minyak Dunia Turun

Rabu, 28 Juli 2021 | 07:00 WIB
X