SPFC dan Manajemen Sepakbola

Administrator
- Rabu, 4 Desember 2019 | 16:56 WIB

Sukses dengan ujian pertama, SPFC makin mentereng. Saat kompetisi berikut nya yang berganti lebel menjadi Indonesian Premier League (IPL), tim ini jadi juara, plus runner up Piala Liga. Hasilnya, satu bintang di dada akan terus tersematkan di jersey tim. Tahun berikutnya, tahun 2013 kompetisi Indonesia carut marut. Ada dualisme. Ada IPL yang SPFC di dalamnya, dan ada ISL yang dianggap breakaway league. Hasilnya, IPL terhenti di tengah jalan. Namun, di awal kompetisi, Hengki Ardiles Cs sempat juga menggenggam gelar. Mereka menjadi juara Community Shield setelah mengalahkan Persibo Bojonegero.

Untungnya, di tahun 2013 itu, SPFC masih tetap bisa bersepakbola. Kendati IPL terhenti, tim ini justru mengambil simpatik di level Asia. SPFC jadi wakil Indonesia di ajang AFC Cup karena menjadi juara di kompetisi tahun 2012.

Di kompetisi Asia ini, tim yang berdiri 30 November 1980 silam ini malah berhasil melenggang ke babak 8 besar . Catatannya juga moncer. Anak asuh Jafri Sastra ini tak tersentuh kekalahan hingga fase 16 besar. Edward Wilson Cs kala itu, tak bisa dikalahkan wakil tim asal Singapura, India, Hong Kong dan Vietnam. Di babak 16 besar, barulah langkah mereka terhenti oleh tim asal India lainnya, East Bengal.

Di tahun berikutnya, tim yang dikelola PT KSSP ini mulai berlaga di kompetisi ISL setelah PSSI memutuskan peleburan kompetisi. Formatnya dua wilayah. Tergabung di wilayah Barat, SPFC berlabuh di posisi ketiga dan berhak lolos ke delapan besar. Semen Padang berpeluang ke semifinal. Di laga terakhir pada fase ini, mereka “nyaris” memang atas Arema. Sebagian kalangan menyebut laga ini penuh intrik. Kendati demikian, PT Liga tetap menyematkan penghargaan untuk SPFC sebagai tim Fair Play sepanjang kompetisi 2014. Di sisi lain, tim muda mereka, SPFC U-21 justru berhasil mengangkat piala dengan status sebagai juara ISL U-21.

Namun, tahun 2015, kompetisi sepakbola di Indonesia kembali terhenti di tengah jalan. Sepakbola Indonesia dibekukan FIFA karena melanggar statuta. Pemerintah campur tangan dalam persoalan federasi sepakbola di negeri ini. Tak hanya itu. Indonesia juga terlempar dari percaturan sepakbola dunia dan dilarang mengikuti Pra Piala Dunia 2018 di Rusia.

Itu memorinya. Itu sedikit runtutan capaian tim di bawah pengelolaan manajemen kala itu. Pascapembekuan oleh FIFA, SPFC juga pernah mencapai hasil gemilang kala menjadi runner up Piala Jenderal Sudirman sebelum akhirnya dikandaskan Mitra Kukar di babak final tahun 2015 dan semifinalis Piala Presiden tahun 2017. Sebuah turnamen yang diadakan untuk mengisi kevakuman sepakbola nasional.

Lalu, apakah kita bisa bandingkan manajemen tim era gemerlap itu dengan era redup seperti dua tahun terakhir? Jika dilihat dari sudut pandang finansial mungkin akan sulit menyetarakannya.  Cash in dan cash out PT KSSP jika dibandingkan kala itu dengan momen saat ini jelas berbeda. Nilai rupiah yang digelontorkan dari penyokong utama, PT Semen Padang terus menyusut. Apakah PT Semen Padang salah? Mungkin tak tepat juga menyalahkannya karena roda bisnis perusahaan semen itu memang sedang sulit berputar.

Selain dukungan yang makin menipis, format kompetisi juga memiliki biaya tinggi. Apalagi di musim depan saat Persiraja sudah memastikan tempat di Liga1 2020. PT KSSP benar-benar harus bisa menjadi manajemen mandiri hingga melepaskan ketergantungan dari PT Semen Padang.  Mulai dari sisi biaya hingga sisi personil.

Cerita soal melepas ketergantungan inipun, bukan cerita baru.  Era gemerlap tadi, manajemen PT KSSP sudah mulai dituntut untuk mandiri. Hal itu mulai ditandai dengan menipisnya pasokan dari induk. Belum lagi format kompetisi sempat dua wilayah yang notabene cost nya juga ikut berkurang. Menariknya, pada saat bersamaan, mereka juga berhasil mengembangkan asset. Salah satu aset yang sudah bisa diraup saat itu adalah lahan yang rencananya untuk pembangunan stadion.

Setidaknya, ada 7 hektare lahan yang menjadi aset saat itu di dekat kawasan Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Ada juga toko resmi penjualan assesoris tim yang disebut Kabau Sirah Shop. Ada juga upaya pelaksanaan program CSR dan beberapa lainnya. Dari aset ini, sebenarnya ditargetkan menjadi salah satu sumber income perusahaan. Sempat juga ada pembicaraan dengan calon investor saat itu.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

PLN Sumbar Kembali Adakan Light Up the Dream

Jumat, 24 Juni 2022 | 09:52 WIB

Gencar Transaksi Afiliasi, Saham GoTo Meroket

Rabu, 22 Juni 2022 | 20:54 WIB

Mau Kerja di Google Indonesia? Yuk Intip Gajinya

Selasa, 21 Juni 2022 | 20:42 WIB
X