'Banjir' Bantuan ke Abang Ojol Bikin Iri

- Kamis, 16 April 2020 | 07:49 WIB

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Virus Corona (COVID-19) telah memberikan dampak buruk ke berbagai sektor usaha, tak terkecuali pada sektor transportasi. Banyak pengemudi angkutan umum yang mengalami penurunan pendapatan seperti tukang bajaj, sopir becak, sopir bus, sopir angkot, hingga driver ojek online (ojol).

Namun, Pengamat Transportasi Univesitas Katolik Soegijapranata (Unika), Djoko Setijowarno menilai perhatian pemerintah cukup berlebihan kepada driver ojol. Seharusnya, pemerintah bisa adil kepada seluruh profesi pengemudi angkutan umum.

"Perhatian pemerintah cukup berlebihan terhadap pengemudi ojek daring. Walaupun dalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, ojek bukan termasuk angkutan umum," kata Djoko dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Rabu (15/4/2020).

Seperti diketahui, pemerintah lewat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru saja mengeluarkan kebijakan bahwa ojol satu-satunya transportasi yang mendapatkan promo cashback sebesar 50% untuk pembelian BBM non-subsidi di SPBU Pertamina dengan menggunakan aplikasi MyPertamina.

"Jika pemerintah dan BUMN mau adil, tidak hanya pengemudi ojek daring yang mendapatkan cash back untuk pembelian BBM atau bentuk bantuan lainnya, akan tetapi diberikan pula bantuan pada seluruh pengemudi transportasi umum yang lainnya," harapnya.

Padahal di balik operasional ojol ada sebuah perusahaan aplikasi yang sudah menyandang status sebagai perusahaan startup unicorn dengan value triliunan rupiah. Sehingga, Djoko mempertanyakan mengapa pemerintah masih harus memberikan sesuatu yang istimewa kepadanya.

Meski pendapatan berkurang, Djoko bilang, driver ojol masih punya peluang mendapat penghasilan dari mengantar barang. Ditambah Kementerian Pertanian yang telah menggandeng aplikator untuk driver ojol mengantar pembelian sembako. Lain halnya dengan angkutan umum lain, sebut saja sopir bajaj.

"Angkutan roda tiga seperti bajaj sebagai salah satu moda angkutan umum beroperasi di Jakarta sudah tidak diperhatikan keberadaannya. Sudah wilayah operasinya dibatasi, tambah semakin terpuruk di saat ojek daring muncul dengan wilayah operasi tanpa batas. Angkutan bajaj dibiarkan beroperasi tapa perlindungan, meski sebagai angkutan umum yang legal," urainya.

Djoko berharap, pemerintah bisa lebih adil memberi bantuan untuk seluruh angkutan umum.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Pasokan Mengetat, Harga Minyak Dunia Turun

Rabu, 28 Juli 2021 | 07:00 WIB

Usai PPKM, Mal Butuh Waktu 3 Bulan untuk Pulih

Minggu, 25 Juli 2021 | 03:05 WIB

Bappebti Blokir 109 Situs Investasi Bodong

Kamis, 22 Juli 2021 | 15:42 WIB
X