Plasma Darah Jadi Penambah 'Darah' Buat Rupiah, Kok Bisa?

- Selasa, 25 Agustus 2020 | 09:23 WIB

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Investor tengah berani memburu aset-aset berisiko sehingga arus modal asing mengalir deras ke pasar keuangan Indonesia. Hal ini otomatis membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat di perdagangan pasar spot pagi ini.

Pada Selasa (25/8/2020), US$ 1 setara dengan Rp 14.550 kala pembukaan pasar spot. Rupiah menguat 0,82% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Kemarin, rupiah menutup perdagangan pasar spot dengan apresiasi 0,68%. Mata uang Ibu Pertiwi sah menjadi yang terbaik di Asia.

Sebelum libur panjang pekan lalu, rupiah menguat 0,4%. Artinya dalam dua hari perdagangan terakhir, rupiah sudah melesat 1,08%.

Rupiah seakan ingin menuntaskan dendam. Dalam sebulan terakhir, rupiah masih melemah nyaris 1% point-to-point di hadapan greenback. Bahkan sejak awal kuartal III-2020, depresiasi rupiah mencapai hampir 3,5%.

Oleh karena itu, rupiah memang sudah kelewat 'murah'. Rupiah yang sudah murah membuatnya berpeluang mencatatkan technical rebound, dan ini yang sedang terjadi dalam beberapa hari belakangan.

Selain itu, faktor eksternal juga mendukung penguatan mata uang Tanah Air. Investor global sedang semringah, sedang risk off alias agak abai terhadap risiko.

Tingginya risk appetite pelaku pasar terlihat di bursa saham New York. Dini hari tadi waktu Indonesia, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) melonjak 1,35%, S&P 500 terangkat 1%, dan Nasdaq Composite bertambah 0,6%. S&P 500 dan Nasdaq bahkan menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Menariknya, indeks transportasi di Dow Jones mencatatkan penguatan tertinggi yaitu 1,38%. Indeks ini kerap menjadi acuan seberapa sehat perekonomian Negeri Paman Sam.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Usai PPKM, Mal Butuh Waktu 3 Bulan untuk Pulih

Minggu, 25 Juli 2021 | 03:05 WIB

Bappebti Blokir 109 Situs Investasi Bodong

Kamis, 22 Juli 2021 | 15:42 WIB
X