Mengingat Kembali Dampak Resesi Ekonomi Tahun 1998

- Jumat, 28 Januari 2022 | 16:05 WIB
Ilustrasi Resesi Ekonomi (Ghina Atika)
Ilustrasi Resesi Ekonomi (Ghina Atika)

Ekonomi Indonesia pernah dilanda resesi yang sangat parah. Tahun 1998 diingat sebagai tahun resesi ekonomi Indonesia. Namun, pada awalnya resesi ekonomi dimulai pada tahun sebelumnya, yaitu tahun 1997.

Ekonomi Indonesia mengalami minus selama 6 bulan di tahun 1997. Lalu di tahun 1998 ekonomi juga kembali minus selama 9 bulan. Saat resesi ekonomi yang parah itu, pemerintah Indonesia harus meminta bantuan IMF (Dana Moneter Internasional) pada Oktober 1997. Walaupun ada bantuan datang dari IMF tetapi dana tersebut tidak begitu membantu keadaan Indonesia saat itu.

Saat memasuki tahun 1998, keadaan ekonomi Indonesia seperti lepas kendali. Resesi ekonomi semakin memuncak dan membuat kekacauan di mana-mana. Mungkin beberapa dari kita ada yang tidak mengetahui dampak dari resesi ini, maka simak penjelasan berikut ini :

  1. Rupiah Jatuh

Krisis ekonomi Indonesia mengukir sejarah sebagai krisis terparah di Asia Tenggara. Pada awalnya permasalahan bermula dari krisis nilai tukar bath Thailand 1997. Akhirnya masalah ini merambat menjadi krisis ekonomi di wilayah Asia Tenggara.

Terpuruk akibat keadaan saat itu membuat nilai mata uang rupiah ditutup pada level Rp. 4.850/dollar AS pada tahun 1997 meroket menjadi Rp. 17.000/dollar AS pada awal 1998. Rupiah terdepresi lebih dari 80 persen semenjak diambangkan 14 Agustus 1997.

  1. Utang Luar Negeri Membengkak

Penyebab lain dari resesi ekonomi di Indonesia adalah utang luar negeri yang membengkak. Indonesia memiliki utang terhadap dunia dalam bentuk valuta asing, baik utang pemerintah, BUMN, maupun perusahaan swasta.

Total utang Indonesia per Maret 1998 adalah hampir 138 milliar dollar AS. Sebanyak 72,5 milliar dollar AS adalah utang swasta dan dua pertiganya adalah utang jangka pendek, yang mana jatuh temponya ada di tahun 1998 tersebut.

  1. Pasar Modal Hancur

Anjloknya ekonomi saat itu menyebabakan pasar uang dan pasar modal juga hancur. Bank-bank nasional saat itu mengalami kesulitan besar.

Di pasar modal saat itu Indeks Harian Saham Gabungan (IHSG) pada Bursa Efek Jakarta (BEJ) anjlok ke titik terendah, yaitu 292,12 poin dari 467, 339 poin. Keadaan kapitalisasi pasar juga ikut menciut dari Rp. 226 triliun menjadi Rp. 196 triliun pada awal 1998. Hal ini menambah kesulitan bagi perbankan Indonesia saat itu.

Halaman:

Editor: Ghina Atika

Sumber: kompas.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hari Ini 13 Mei 2022, IHSG Melorot ke 6.597

Jumat, 13 Mei 2022 | 22:08 WIB
X