Usai Diberi Sanksi, Rusia Harus Hadapi Masalah Ekonomi Baru yang Mengintai

- Senin, 7 Maret 2022 | 11:32 WIB
Rusia (Ghina Atika)
Rusia (Ghina Atika)

Rusia telah melakukan invasi terhadap negara tetangganya Ukraina. Rusia menyerang wilayah timur dari Ukraina yaitu Donbas pada Kamis (24/2/22) lalu. Invasi tersebut dipimpin oleh secara langsung oleh Vladimir Putin selaku Presiden Rusia.

Putin mengungkapkan bahwa terdapat dua alasan yang membuat ia mengambil keputusan non-populis itu. Pertama, Putin mengaku bahwa masyarakat di wilayah Donbas meminta bantuan kepada Rusia. Kedua, Putin ingin melindungi masyarakat Donbas yang menurutnya menjadi target pelecehan hingga genosida dari pemerintah Ukraina. Konflik pun semakin memanasa setelah Vladimir Putin mengakui kedaulatan kedua wilayah Ukraina, yaitu Donetsk dan Luhansk.

Mulai dari Amerika Serikat hingga Uni Eropa yang merupakan negara-negara pro demokrasi mulai mengecam aksi Rusia tersebut. Amerika Serikat langsung mengeluarkan larangan untuk Putin dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov untuk melakukan perjalanan ke Amerika Serikat. Negara-negara pro demokrasi tidak tinggal diam melihat kejadian ini.

Sanksi ekonomi juga diberikan kepada Rusia, AS melarang perusahaan minyak bumi Rusia yang bernma Gazprom untuk mendapatkan pendanaan dari negara Barat. AS juga membatasi ekspor teknologi aeronautika ke Rusia.

Negara di Eropa seperti Jerman hingga Inggris juga melakukan hal serupa. Kanselir Jerman Olaf Scholz menghentikan sertifikasi gas Nord Stream yang menghubungkan antara Lubmin di Jerman dengan St. Pittsburg di Rusia.

Sementara itu, Inggris membekukan aset 5 perbankan kenamaan asal Rusia di Inggris. Setelah itu, Kementerian Keuangan Inggris menyatakan akan mengeluarkan sanksi keuangan Putin dan Lavrov dan melarang pesawat jet keduanya mendarat di Inggris.

Baca Juga: Presiden Rusia Vladimir Putin Beberkan Alasan Serang Ukraina

Uni Eropa, persatuan negara di Eropa, juga tak ketinggalan menjatuhkan sanksi khusus terhadap Rusia. Chief European Commission Uni Eropa Ursula Von Der Leyen bahkan mengatakan sanksi tersebut belum pernah dikeluarkan sejak organisasi tersebut didirikan.

Usai terkena sanksi itu, rubel sebagai mata uang resmi Rusia nilainya ambles pada Senin (28/2). mengutip Bloomberg, penurunan nilai rubel terus berlanjut secara dramatis menjadi 102,90 rubel per dolar AS pada Selasa (1/3) sore.

Halaman:

Editor: Ghina Atika

Sumber: CNN Indonesia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tiket Pesawat Meroket, Kemenhub Sentil Bos Garuda

Senin, 8 Agustus 2022 | 13:16 WIB

Ini Dia 5 Terkaya di Dunia, Siapa Sajakah?

Senin, 8 Agustus 2022 | 09:02 WIB

Waspada Dampak Ekonomi Akibat Konflik China-Taiwan

Senin, 8 Agustus 2022 | 08:48 WIB
X