Ombudsman : Ini Dia Biang Kerok Minyak Goreng Langka

- Selasa, 15 Maret 2022 | 22:57 WIB
Ombudsman (Ghina Atika)
Ombudsman (Ghina Atika)

Baru-baru ini Ombudsman RI membeberkan adanya dugaan penyebab minyak goreng langka di pasaran. Dugaan tersebut didapatkan berdasarkan hasil dari analisa dan investigasi penyebab kelangkaan komoditas tersebut.

Yeka Hendra Fatika seorang anggota dari Ombudsman RI mengungkapkan ini adalah bentuk upaya pengumpulan dan pencarian informasi untuk pemeriksaan oleh Ombudsman pada tahap selanjutnya.

Dugaan pertama, ada perbedaan data kebutuhan minyak goreng di dalam negeri (domestic market obligation/DMO) yang dilaporkan dengan realisasinya. Yeka mengatakan sebelumnya Kementerian Perdagangan mengklaim berhasil mendistribusikan minyak goreng curah dan kemasan sebanyak 415.787 ton ke masyarakat. Distribusi minyak itu melebihi perkiraan kebutuhan konsumsi minyak goreng satu bulan yang hanya mencapai 327.321 ton.

Namun kenyataanya, minyak goreng masih langka di pasaran. Menurutnya, hal tersebut bisa saja terjadi karena perbedaan data DMO dengan realisasinya. Yeka mengatakan bahwa realisasi DMO hanya akan terkonfirmasi dengan data yang mestinya dikumpulkan dari distributor.

Kedua, Ombudsman menduga kelangkaan minyak goreng terjadi karena pelaksanaan DMO tersebut tanpa diikuti dengan pemasangan antara eksportir crude palm oil (CPO) atau olahannya dengan produsen minyak goreng. Selain itu, tidak semua produsen minyak goreng mendapatkan CPO DMO dengan harga domestic market obligation (DPO).

Yeka mengatakan tidak semua produsen minyak goreng berorientasi pada ekspor. Sehingga kapasitas produksi minyak goreng diduga mengalami penurunan demi menghindari kerugian.

Ketiga, panik beli atau panic buying juga masih terjadi. Yeka mengatakan panic buying masih terjadi meskipun volumenya mulai menurun.

Keempat, rumah tangga atau pelaku usaha UMKM meningkatkan stok minyak goreng, sebagai respon terhadap belum adanya jaminan ketersediaan minyak goreng, terlebih lagi menghadapi puasa dan hari raya.

Kelima, munculnya spekulan yang memanfaatkan kondisi disparitas harga yang sangat besar antara harga eceran tertinggi (HET) dengan harga di pasar tradisional yang sulit untuk diintervensi. Yeka mengatakan aktifitas spekulan ini juga yang memunculkan dugaan terjadinya penyelundupan minyak goreng.

Halaman:

Editor: Ghina Atika

Sumber: CNN Indonesia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tiket Pesawat Meroket, Kemenhub Sentil Bos Garuda

Senin, 8 Agustus 2022 | 13:16 WIB

Ini Dia 5 Terkaya di Dunia, Siapa Sajakah?

Senin, 8 Agustus 2022 | 09:02 WIB

Waspada Dampak Ekonomi Akibat Konflik China-Taiwan

Senin, 8 Agustus 2022 | 08:48 WIB

Simak 5 Trik Investasi Saat Resesi

Rabu, 3 Agustus 2022 | 22:51 WIB

10 Investor Terkaya Indonesia dan Dunia

Rabu, 3 Agustus 2022 | 22:40 WIB
X