Rekomendasi Saham di Tengah Ancaman Inflasi Global

- Senin, 21 Maret 2022 | 21:38 WIB
Saham (Ghina Atika)
Saham (Ghina Atika)

Pada perdagangan akhir pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 9,42 poin atau 0,14 persen ke level 6.954. Sebesar Rp 72,06 miliar investor asing mencatat jual bersih atau net sell di seluruh pasar.

Dalam waktu sepekan terakhir ini, indeks saham menguat sebanyak dua kali lalu melemah sebanyak tiga kali. Sementara itu, secara keseluruhan performa indeks sendiri menguat sebesar 0,47 persen.

Yulianto Aji Sadono Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia mengatakan dalam sepekan IHSG ditutup bervariasi. Kenaikan ini terjadi pada kapitalisasi pasar, yaitu sebesa 0,54 persen dari Rp 8,68 triliun lalu menjadi Rp 8,73 triliun.

Sementara ini, rata-rata volume transaksi harian bursa turun sebanyak 8,89 persen dari 24,097 miliar menjadi 21,954 miliar saham. Rata-rata dari frekuensi harian bursan juga mengalami penurunan sebesar 18,43 persen dari 1,63 juta menjadi 1,33 juta transaksi.

Dilansir dari situs IDX pada Jumat (18/3/22) Yulianto menerangkan bahwa rata-rata nilai transaksi harian bursa juga berubah sebesar 24,06 persen menjadi Rp 16,506 triliun dari Rp 21,735 triliun pada pekan sebelumnya.

Pelatih investasi saham dan derivatif sekaligus CEO Akela Trading System Hary Suwanda memprediksi selama sepekan ke depan, IHSG bergerak di rentang support 6.805 dan resistance 7.030. Indeks saham akan dibayangi oleh tekanan inflasi global.

Ia mengatakan pelaku pasar masih akan mencermati kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang menaikkan suku bunga hingga 25 basis poin. Kenaikan suku bunga itu merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak 2018.

Hal ini dilakukan karena AS saat ini tengah menghadapi inflasi yang sedang bergejolak dalam beberapa bulan terakhir.  Hary mengatakan, secara perlahan tekanan inflasi global juga akan mulai berdampak pada ekonomi Indonesia.

Saat ini juga, konflik Rusia-Ukraina juga masih menjadi sentiment yang mewarnai IHSG. Hary berpendapat jika konflik ini terus berlanjut, maka bull run yang terjadi pada sektor komoditas akan terus berlanjut terutama pada komoditas energi.

Halaman:

Editor: Ghina Atika

Sumber: CNN Indonesia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Indonesia Bakal Disalip Malaysia, Kok Bisa?

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:50 WIB

LUTD Listriki Pelosok Nagari Sungai Landia Agam

Rabu, 10 Agustus 2022 | 10:05 WIB
X