ICAEW: Ekonomi Asia Tenggara Diperkirakan Tumbuh 5,8 Persen di 2022

- Rabu, 22 Juni 2022 | 13:06 WIB
Mark Billington, Managing Director International ICAEW
Mark Billington, Managing Director International ICAEW

HARIANHALUAN - Pasca didera pandemi COVID-19, wilayah Asia Tenggara kini mulai melihat pemulihan ekonomi, meski tidak berlangsung secara merata. Ditambah lagi, saat ini terdapat berbagai tantangan eksternal dari luar kawasan yang kian meningkat.

Meskipun demikian, para ahli mengungkapkan pada ICAEW Economic Insight Forum Q2, bahwa wilayah Asia Tenggara diperkirakan akan melihat pertumbuhan ekonomi sebesar sekitar 5,8%.

Baca Juga: ICAEW: Imunitas terhadap COVID-19 jadi Kunci Pemulihan Ekonomi Asia Tenggara

Forum tersebut membahas bahwa meskipun pemulihan ekonomi pasca COVID di wilayah Asia Tenggara tidak merata dengan hadirnya varian Delta, sebagian besar negara-negara seperti Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam mulai melihat kembalinya tingkat PDB dengan level yang setara sebelum terjadinya pandemi – kecuali Thailand, yang pertumbuhannya masih 2% di bawah tingkat pra-pandemi, dikarenakan industri pariwisatanya masih terus berjuang dengan pembatasan perjalanan dan mobilitas.

Hambatan-hambatan eksternal seperti gangguan rantai pasok, lemahnya permintaan dari China (dengan adanya aturan karantina wilayah), serta dampak dari berlangsungnya perang Rusia-Ukraina turut mempengaruhi tingkat inflasi dan harga komoditas di Asia Tenggara.

Baca Juga: ICAEW: Imunitas Covid-19 jadi Kunci Pemulihan Ekonomi Asia Tenggara

Meskipun demikian para ahli dalam forum ICAEW Economic Insight cukup optimis, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara sebesar sekitar 5,8% atau naik 3,7% dari tahun lalu. Hal ini diprediksi dapat terjadi karena dorongan di sektor pariwisata ekonomi dari pembukaan perbatasan serta pelonggaran peraturan perjalanan.

Mark Billington, Managing Director International ICAEW mengatakan dalam pembukaan ICAEW Economic Insight Forum Q2.

"Meskipun dampak langsung dari Perang Rusia-Ukraina di Asia Tenggara terbatas, wilayah ini tetap terkena imbas melalui inflasi dan respon kebijakan moneter tingkat global. Kebijakan Nol Covid China juga telah memicu efek domino yang berdampak negatif pada sektor manufaktur, industri, dan pariwisata di wilayah tersebut. Tanpa diragukan, faktor eksternal ini akan cukup meredam tetapi tidak akan sampai menghentikan laju pertumbuhan ekonomi, karena kami berharap pemulihan di sektor jasa akan terlihat bersamaan dengan adaptasi pola hidup yang menyesuaikan situasi Covid,” katanya.

Sementara itu, forum juga mengungkapkan bahwa Indonesia diperkirakan mengalami pertumbuhan PDB di tahun 2022 sebesar 5,7%, meningkat dibandingkan periode tahun lalu sebesar 3,7%. Jumlah ini selaras dengan angka pertumbuhan PDB yang dialami oleh wilayah Asia Tenggara secara keseluruhan. Peningkatan ini menjadi indikator yang menunjukkan kemampuan perekonomian Indonesia untuk kembali bangkit pasca pandemi, dimana kini telah bertransisi menuju masa endemi.
Pertumbuhan yang perlahan membaik ini didukung oleh sektor ritel dan layanan akomodasi di Indonesia yang telah mencapai titik puncak pemulihan positif pada Mei 2022 dengan pelonggaran kebijakan-kebijakan pembatasan. Menurut forum tersebut, pemulihan perekonomian Indonesia pada sektor ritel dan layanan akomodasi juga dinilai cukup dinamis sejak memasuki Q4 2021 hingga saat ini. Permintaan akan jumlah pemasaran pada sektor ritel Indonesia juga dinilai cukup unggul dan mulai stabil di tahun 2022 dibandingkan wilayah Asia Tenggara lainnya.

Halaman:

Editor: Milna Miana

Sumber: Rilis

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Indonesia Bakal Disalip Malaysia, Kok Bisa?

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:50 WIB

LUTD Listriki Pelosok Nagari Sungai Landia Agam

Rabu, 10 Agustus 2022 | 10:05 WIB
X