Bantuan Langsung Tunai Dapat Lindungi Masyarakat Jika Harga BBM Dinaikkan Pemerintah

- Rabu, 17 Agustus 2022 | 00:10 WIB
Direktur Riset Indef, Berly Martawardaya menyebut Subsidi BBM dinilai lebih regresif sehingga disarankan agar diubah menjadi BLT karena dianggap lebih efektif melindungi masyarakat rentan. (Twitter @bmartawardaya)
Direktur Riset Indef, Berly Martawardaya menyebut Subsidi BBM dinilai lebih regresif sehingga disarankan agar diubah menjadi BLT karena dianggap lebih efektif melindungi masyarakat rentan. (Twitter @bmartawardaya)

HARIAN HALUAN - Masyarakat rentan harus dilindungi dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT) jika pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM. Bansos BLT dinilai terbukti efektif dan dapat dipertanggung jawabkan datanya. 

Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya mencontohkan, saat harga minyak goreng meroket, pemerintah dengan cepat menggelontorkan BLT. Kenaikan harga BBM nanti pasti akan mempengaruhi harga pangan, yang langsung terasa pada masyarakat rentan. 

“Sehingga kenaikan harga pangan terasa di masyarakat bawah, yang komponen dan proporsi belanja buat makanan tinggi yaitu 20 sampai 40%, itu perlu dilindungi, mekanisme BLT terbukti bisa didata dan dihitung,” ujar Berly hari ini (16/8). 

Baca Juga: Mengenal Teks Drama: Unsur, Struktur dan Contoh Teks Drama

‘Beban’ Subsidi BBM sudah sangat membebani APBN, padahal dampaknya tidak produktif. “Subsidi BBM regresif ya, cenderung dinikmati yang semakin kaya, semakin banyak mobil, semakin banyak jalan. Sebelumnya, Pak Presiden Jokowi pada 2014 bisa menyampaikan kepada publik bahwa fungi dan dampak ke masyarakat lebih baik jika subsidi dipotong,” jelas Berly yang juga Dosen Ilmu Ekonomi di Universitas Indonesia ini. 

Ini saatnya pemerintah untuk ‘taking the hard choice’. “Dan menjelaskan ke masyarakat dan memitigasi dampak pada masyarakat, elemen yang paling rentan,” kata Berly. 

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengisyaratkan pemerintah akan mengkaji sistem penyaluran subsidi BBM dan opsi kenaikan harga BBM. 

Baca Juga: Wako Hendri Septa Ikuti Sidang Tahunan MPR dan DPR/DPD RI, Presiden Jokowi Sampaikan RUU APBN 2023

“Di tengah kenaikan harga-harga energi, Indonesia masih melakukan subsidi ataupun memanfaatkan kekuatan fiskal untuk menyerap sebagian daripada kenaikan harga pangan maupun energi. Sedangkan negara-negara lain melakukan “pass-through” yang berarti harga energi ditransmisikan kepada masyarakat,” ungkap Airlangga, yang juga Ketua Umum Partai Golkar ini.

Apalagi, lanjut Airlangga, perekonomian Indonesia terus menciptakan optimisme dan berhasil bertumbuh di atas 5% pada tiga kuartal terakhir. Badan Pusat Statistik menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,44% (yoy) pada Q2 2022 merupakan pertumbuhan yang impresif. 

Halaman:

Editor: Jefrimon

Tags

Terkini

BSU Sudah Disalurkan ke 7 Juta Penerima

Rabu, 28 September 2022 | 06:39 WIB

Inflasi Tinggi dan Perlambatan Bayangi Pemulihan Ekonomi

Selasa, 27 September 2022 | 21:44 WIB
X