Pemerintah Pajaki Sembako, Politisi PKS: Hambat Pemulihan Ekonomi Rakyat

- Kamis, 10 Juni 2021 | 21:14 WIB

JAKARTA,HARIANHALUAN.COM-Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak mendesak pemerintah membatalkan rencana untuk mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap barang-barang kebutuhan pokok (sembako). Kebijakan tersebut dianggap kontraproduktif dan menghambat pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

"Dimana-mana kalau resesi itu, pajak dikurangi jadi sekecil mungkin. PPN atas Sembako maupun kenaikan PPN lainnya akan semakin membebani rakyat,” tegas politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam keterangan tertulisnya, Rabu (9/6) malam.

Menurut Amin, rencana pemberlakuan PPN terhadap sembako sebesar 12 persen akan memperbesar pengeluaran masyarakat. Sehingga, berdampak terpangkasnya tingkat kesejahteraan masyarakat. Naiknya harga karena dikenakan PPN akan menurunkan daya beli masyarakat.

"Sehingga berdampak pada kesehatan, terutama anak-anak kalangan kelompok bawah akan kekurangan gizi," ungkapnya.

Selain membebani rakyat dari sisi konsumen, lanjut Amin, kebijakan tersebut memberatkan para pedagang terutama jutaan pedagang kecil karena kesulitan untuk menjual barang dagangannya akibat kenaikan harga jika PPN diberlakukan. 

"Bagi perusahaan perdagangan maupun industri juga makin berat karena bisa dipastikan penjualan perusahaan akan turun," ungkap legislator dari Dapil Jatim IV itu.

Merujuk data dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) selama pandemi Covid-19, lebih dari 50 persen omzet pedagang pasar turun. Belum lagi sejumlah barang kebutuhan yang mengalami fluktuasi harga, dengan dikenakan PPN maka harga-harga kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat otomatis akan makin naik dan mahal untuk dijangkau.

Kenaikan PPN terutama pemberlakuan PPN pada sembako, alih-alih meningkatkan perolehan pajak, justru menyebabkan pemulihan ekonomi akan semakin lambat. Menurut Amin, pemerintah seharusnya konsisten untuk memulihkan perekonomian, antara lain dengan memberikan lebih banyak insentif agar konsumsi atau belanja masyarakat menengah meningkat.

“Kebijakan pemerintah kok makin membingungkan. Pertumbuhan ekonomi ingin di atas 6 persen, tapi faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan, yaitu tingkat konsumsi masyarakat, kok malah direcoki dengan pajak,” tanya Amin.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Pasokan Mengetat, Harga Minyak Dunia Turun

Rabu, 28 Juli 2021 | 07:00 WIB

Usai PPKM, Mal Butuh Waktu 3 Bulan untuk Pulih

Minggu, 25 Juli 2021 | 03:05 WIB

Bappebti Blokir 109 Situs Investasi Bodong

Kamis, 22 Juli 2021 | 15:42 WIB
X