Duh..! Rupiah Tembus Rp15.200 per Dolar AS, BI Ungkap Biang Keroknya

- Kamis, 29 September 2022 | 06:52 WIB
 Ilustrasi mata uang dolar ( Tangkap layar Instagram @LengdungT)
Ilustrasi mata uang dolar ( Tangkap layar Instagram @LengdungT)

HARIAN HALUAN - Bank Indonesia (BI) melihat posisi rupiah harusnya lebih kuat dari sekarang, seiring dengan catatan fundamental perekonomian nasional yang terus membaik.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah terdepresiasi pada pembukaan perdagangan sebanyak 0,2% ke Rp 15.150/US$. Kemudian, rupiah kembali terkoreksi lebih dalam sebesar 0,73% ke Rp 15.230/US$ pada pukul 11:00 WIB.

Baca Juga: Terungkap Isi Dompet Jusuf Hamka Si Bos Jalan Tol, Banyak Uang Pecahan Dolar

"Seharusnya nilai fundamental rupiah akan lebih kuat lagi," ungkap Deputi Gubernur BI Aida S Budiman dalam Diskusi Publik Memperkuat Sinergi untuk Menjaga Stabilitas Perekonomian, dilansir dari CNBC Indonesia, Kamis, 29 September 2022.

Fundamental perekonomian yang membaik antara lain diukur dari pemulihan ekonomi yang terus berlanjut dan diperkirakan tumbuh di atas 5% pada 2022. Inflasi relatif terkendali dibandingkan negara lain meskipun ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Baca Juga: Pabrik Tesla Rugi Miliaran Dolar AS, Begini Penuturan Elon Musk

Perekonomian Indonesia juga ditopang oleh neraca perdagangan yang masih surplus serta cadangan devisa yang mencapai US$ 132,2 miliar pada akhir Agustus.

BI sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 4,25% pada beberapa hari lalu. Tujuannya untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Kondisi sekarang dipengaruhi oleh eksternal, khususnya ekonomi global yang diramal terus memburuk dan perubahan kebijakan moneter oleh Bank Sentral AS Federal Reserve (the Fed). Sehingga banyak investor lebih mencari posisi aman dengan memegang dolar AS.

"Yang jadi titik permasalahan USD makin kuat, maka investasi portofoliio terjadi adjusment orang ingin pegang aset aman jadi berbalik ke aset tersebut," terangnya.

Indeks dolar AS yang mengukur kinerja si greenback terhadap enam mata uang dunia lainnya kembali menyentuh rekor tertinggi selama dua dekade pada awal perdagangan hari ini ke posisi 114,68. Namun, pukul 11:00 WIB, indeks dolar AS kembali ke posisi 114,54, memangkas penguatannya hanya menjadi 0,38%.

Meski demikian, menurut Aida, rupiah masih lebih baik dibandingkan banyak negara lain. Secara year to date (ytd), rupiah alami pelemahan 4,97%. Sementara mata uang negara lain seperti Baht Thailand, Peso Filipina, Rupee India dan Won Korea Selatan jauh lebih buruk.

"Dibandingkan negara lain kita berhasil jaga tekanan depresiasi," tegasnya. (*)

Editor: Milna Miana

Sumber: CNBC Indonesia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X