Hambatan Prosedural yang Kerap Muncul pada Sistem Ekspor Impor

Jefli Bridge
- Senin, 9 Agustus 2021 | 18:27 WIB
Ilustrasi pelabuhan peti kemas untuk ekspor impor (suaramerdeka.com /dok)
Ilustrasi pelabuhan peti kemas untuk ekspor impor (suaramerdeka.com /dok)

 

HARIANHALUAN.COM - Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengungkapkan beberapa hambatan yang kerap muncul dalam efisiensi sistem ekspor impor Indonesia.

Baca Juga: Diplomasi Kopi, KBRI di Kairo Genjot Ekspor Kopi Indonesia ke Mesir

Felippa mengatakan, hambatan prosedural yang sering muncul antara lain adalah berulangnya permintaan dokumen, biaya sertifikasi yang mahal, sikap staf yang tidak profesional dan bahkan pungutan tidak resmi.

Baca Juga: Aktifitas Ekspor-Impor Terasa Mudah dengan KITE, Apa Itu?

Felippa menambahkan, bentuk inefisiensi lainnya adalah lamanya bongkar muat kontainer atau dwelling time di Indonesia yang diperkirakan berlangsung selama lima hari, jauh lebih lama kalau dibandingkan dengan 1,5 sampai dua hari di Singapura dan Hongkong.

Lamanya bongkar muat sangat dipengaruhi oleh proses perizinan bea cukai dan prosedur inspeksi yang dilakukan oleh pihak pelabuhan.

Menurutnya, Pemerintah perlu meningkatkan efisiensi sistem ekspor impor Indonesia dengan mengevaluasi kebijakannya.

Dalam banyak kasus, bongkar muat bahkan bisa berlangsung hingga berbulan-bulan, terutama pada masa sibuk.

Halaman:

Editor: Jefli Bridge

Sumber: suaramerdeka.com

Tags

Terkini

Siang Ini Rupiah Melemah ke Rp14.447 per USD

Senin, 6 Desember 2021 | 12:40 WIB

Boyband BTS Raup Rp483 Miliar dari Konser di Amerika

Senin, 6 Desember 2021 | 06:00 WIB

Kemendag Pastikan Pasokan Kedelai Cukup untuk Nataru

Jumat, 3 Desember 2021 | 20:02 WIB
X